logo

Preeklampsia Penyumbang Utama Kesakitan Dan Kematian Ibu Hamil

Preeklampsia Penyumbang Utama Kesakitan Dan Kematian Ibu Hamil

Prof Dr Sri Sulistyowati, dr, Sp. OG/K dan Prof Dr Endang Sutisna Sulaeman, dr M Kes, dua guru besar bidang kesehatan UNS
06 Desember 2018 20:10 WIB

Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Preeklampsia masih menjadi penyumbang utama kesakitan dan kematian ibu dan janin di dunia. Faktor risiko terjadinya preeklampsia antara lain nulipara, hipertensi kronis, diabetes mellitus, penyakit ginjal, obesitas, usia ibu hamil kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun serta kondisi hiperkoagulitas.

Masalah preeklampsia tersebut menjadi latar belakang pidato pengukuhan Prof Dr Sri Sulistyowati, dr, Sp. OG/K sebagai guru besar bidang kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah.

"Di Rumah Sakit Dr Moewardi Solo, kematian ibu hamil tahun 2012 yang disebabkan preeklampsia sebanyak 19 orang dari 30 ibu hamil yang meninggal. Tahun 2013 meningkat menjadi 12 orang dari 21 kematian dan tahun 2017 sebanyak 14 orang dari 23 ibu yang meninggal," papar Prof  Sri Sulistyowati, kepada wartawan di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (6/12/2018).

Menurutnya, riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya meningkatkan risiko berulangnya preeklampsia. Dalam pidato pengukuhan berjudul Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu yang Disebabkan Preeklampsia dengan Model Disfungsi Endotel,  Prof Sri Sulistyowati merekomendasikan model disfungsi endothel sebagai model preeklampsia bisa menjadi masukan bagi peneliti.

"Model ini diujicobakan pada hewan mencit mus musculus atau tikus yang memiliki kemiripan dengan manusia," jelas guru besar ke-196 di UNS dan ke-40 di Fakultas Kedokteran tersebut.

Sementara itu, selain mengukuhkan Prod Dr Sri Sulistyowati, UNS juga mengukuhkan Prof Dr Endang Sutisna Sulaeman, dr M Kes sebagai guru besar ke-195 UNS dan ke-39 di Fakultas Kedokteran. Prof Endang Sutisna mengangkat judul Membumikan Keadilan, Pemberdayaan, dan Promosi Kesehatan dalam pidato pengukuhannya.

Menurut Endang Sutisna, ketidakadilan kesehatan adalah ketimpangan struktural dan determinan sosial kesehatan.

"Keadilan dan ketidakadilan adalah pilihan politik. Akar ketidakadilan kesehatan adalah ketimpangan struktural," jelasnya.

Sedangkan pemberdayaan dan keadilan adalah pilar kembar tempat strategi layanan kesehatan primer berstandar. Prof Endang juga menyarankan untuk membumikan pemberdayaan san partisipasi masyarakat sebagai jantung dari promoai kesehatan.

Kedua guru besar tersebut akan dikukuhkan dalam sidang senat terbuka pada tanggal 11 Desember 2018 mendatang. ***

Editor : Yon Parjiyono