logo

Kepala BNN: Bandar Dan Pengedar Punya Target Di Desa Yang Ekonominya Menggeliat

Kepala BNN: Bandar Dan Pengedar Punya Target Di Desa Yang Ekonominya Menggeliat

Kepala BNN Heru Winarko dan Irjen Kemendesa Tertinggal Ahyar Hussein mengangkat tangan sebagai simbol menolak narkoba.
06 Desember 2018 15:29 WIB

Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ancaman narkoba menyerang desa, bukan isapan jempol. Pengedar maupun bandar tetap menjadikan warga di desa menjadi sasaran, tak hanya perkotaan. Apalagi dengan segera digelontorkan Dana Desa Rp 80 triliunan  yang akan membuat ekonomi desa menggeliat. 

"Daerah daerah  yang perekonomian baik dan subur merupakan target peredaran narkoba. Para bandar dan pengedara su sudah menyiapkan tentunya. Kita ingin aparat di  desa, lurah, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan stakeholder terkait mempunyai antisipasi penanggulangan," kata Kepala BNN Heru Winarko di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (7/12/2018).

DlamFGD bertema: "Antisipasi dan Solusi Permasalahan Penyalahgunaan Narkoba dalam rangka menuju Desa Bebas Narkoba"  yang diselenggarakan Deputi Pencegahan BNN ini, juga ikut sebagai nara sumber inspektur Jenderal Kemendesa Tertinggal dan Transmigrasi  Ansyar Hussein.

 Heru Winarko mengingatkan bahwa narkoba mengancam desa yang makmur. Dengan tingkat pendapatan dan daya beli tinggi, maka bandar bisa masuk mencari celah dan memasok narkoba. Bahkan, sindikat narkoba telah mampu mengendalikan aparat desa untuk membantu peredaran narkoba.

“Dalam sejumlah kasus, sering kita lihat kepala desa  terlibat dalam jaringan narkoba,” ungkap Heru 

Dengan fakta ini, ketahanan desa menjadi sangat dibutuhkan agar bersih dari penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Apalagi, jalur masuknya narkoba dari bandara, pelabuhan, dari daerah terbuka, di mana 80 persen wilayah Indonesia merupakan daerah terbuka.

Banyak pelabuhan tikus, seperti di Sumut, Kepri, Riau, dan lain-lain. Bahkan, 1.000 pos di Kalimantan Utara itu ada di desa-desa pesisir dan perbatasan.

“Sebagai langkah antisipasi, masyarakat desa harus diberikan pemahaman tentang bahaya narkoba. Selain itu, kami juga mengajak berbagai sektor terkait untuk memberikan pengawasan lebih ketat terhadap pelabuhan tikus di kawasan pesisir,” tegas Heru.

Dia melanjutkan, perlunya memperkuat desa-desa yang ada di perbatasan. Bahkan, dia menyebut jalur paling rawan penyelundupan dari luar negeri yaitu penyelundupan narkoba di Selat Malaka. Terkadang juga, kades menjadi operator.

“Narkoba seringkali masuk ke desa lewat desa-desa makmur. Desa makmur jadi target narkoba karena daya beli tinggi. Ada kasus kades dimodalin bandar untuk nyalon lagi, harus ada timbal balik. Oleh karena itu, kita punya program Desa Bersih Narkoba bersama Kemendes PDTT dan Kemendagri,” ujarnya. 

Pihak BNN juga mempunyai program pemberdayaan masyarakat desa, dengan terus mengaktifkan pengajian, lomba lomba, siskamling, penyuluhan, kerja bakti dan gerakan massal yang terkait dengan Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba.