logo

Kementan Dorong Percepatan Sertifikasi ISPO

Kementan Dorong Percepatan Sertifikasi ISPO

Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang, memberikan keterangan pers di Jakarta, Jumat (9/11/2018). (Suarakarya.id/laksito)
09 November 2018 21:00 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk melakukan percepatan sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).

"Dalam 5 tahun ke depan kita harapkan semua perkebunan sawit di Indonesia sudah ISPO," kata Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang, di Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Dari sekitar 14 juta hektare perkebunan sawit yang tersebar di Indonesia, baru sekitar 20,48 persen yang sudah disertifikasi ISPO, atau seluas 2,349 juta ha dengan produksi  CPO sekitar 10,2 juta ton/ha atau 27 persen, termasuk 6 koperasi perkebunan sawit rakyat (plasma dan swadaya) seluas 4.987 ha.

Terkait relatif rendahnya sertifikasi ISPO, Bambang menyebut ada sejumlah masalah. Di antaranya aspek legalitas, pengurusan surat tanda daftar budidaya (STDB), keengganan membentuk koperasi pekebun, dan masalah dana.

Percepatan sertifikasi ISPO ini sejalan dengan Inpres No. 8/2018, dan Kementan melalui Ditjen Perkebunan/Komisi ISPO terus meyakinkan semua pihak, baik kementerian dan lembaga terkait, lebih berkomitmen mendukung kebijakan percepatan seetifikasi ISPO.

"Sekarang belum wajib, tapi dalam 5 tahun ke depan kita akan wajibkan semua perkebunan sawit sudah ISPO," ujarnya.

Per Oktober 2018, ada 695 pelaku usaha mendaftar ISPO, terdiri dari 683 perusahaan, 8 koperasi kebun plasma, 1 BUMDes, dan 3 koperasi kebun swadaya.

Bambamg mengungkapkan sertifikasi ISPO memiliki banyak manfaat di antaranya meningkatkan daya saing sawit Indonesia dan keberterimaan di pasar global, bahkan bisa menjadi referensi perbamkan untuk memverikan kredit usaha sawit.

Replanting Sawit

Bambang menilai program peremajaan sawit rakyat dalam 2 tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan kendati terkesan lamban. Tahun 2017 program peremajaan sawit mencapai 14.792,15 ha naik 5.800 persen dibanding tahun 2016 yang hanya mencapai 254 ha. Sementara tahun 2018 mencapai 185.000 ha.

Capaian tertinggi program replanting terjadi di Sumsel seluas 7.376 ha, Riau seluas 3.748 ha, Jambi (1.190,94 ha), Kalimantan Tengah (1.174,43 ha), Sumut (898,24 ha) dan Bengkulu seluas 331,98 ha.

Dana peremajaan yang sudah terakumulasi mencapai Rp357,38 miliar (96 persen) yang sudah dicairkan Rp77,65 miliar. ***