logo

Sulsel Akan Tawarkan Sutera Terbaik Untuk Wisatawan Tawau

Sulsel Akan Tawarkan Sutera Terbaik Untuk Wisatawan Tawau

09 November 2018 13:51 WIB

Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - MAKASSAR: Sutera salah satu komoditi terbaik milik Sulawesi Selatan (Sulsel). Kualitasnya prima, warna oke, dan motifnya unik. Produk unggulan ini sudah menunggu giliran wisatawan asal Tawau, Malaysia. 

Tidak hanya wisatawan, sutera berkualitas ini juga siap menyambut peserta Indonesia Tourism Table Top (ITTT) Sales Mission Makassar untuk Tawau. Sembari menikmati city tour, mereka juga sensasi sutera terbaik karya Negeri Para Daeng. Sutera-sutera ini dipajang berjejer pada galeri di sepanjang Jalan Gunung Lompobattang, Makassar.

“Sutera dari Sulsel sudah terkenal sebagai yang terbaik. Ini kesempatan mereka untuk mengeksplorasi destinasi Sulsel. Dengan potensinya, sutera sangat menguntungkan bagi para turis Tawau, Sabah, Malaysia. Harga-harga sutera di sini juga terjangkau, ”ungkap Fungsi Ekonomi Konsulat RI di Tawau Septania Ruby Prameswari, Kamis (8/11/2018).

Sulsel menjadi pemasok 90% sutera di Indonesia pada tahun 2015. Produksi sutera Sulsel mencapai 8 ton. Basis industri ini berada di Sopeng, Wajo, dan Enrekang.
 
“Kualitas sutera Sulsel ini nomor 1 di Indonesia. Sutera di sini banyak peminatnya, terutama wisatawan yang datang ke Makassar. Kami memproduksi sendiri. Produksi rugi dari Sopeng dan Enrekang. Wajo khusus pemintalannya, meskipun di Makassar juga ada tapi tidak banyak, ”tutur Pelaku UMKM Tenun Sa'be Belo Rustam asal Sengkang, Wajo.
 
Pemintalan benang sutera Wajo menghasilkan beberapa produk, seperti kain dan sarung. Pengerjaannya dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan manual (badoka). Sebagai ilustrasi, untuk menghasilkan 1 lembar sarung (ukuran 2 meter) secara manual diperlukan waktu 1 bulan. Bila menggunakan ATBM, 1 lembar kain dengan ukuran hanya dikerjakan dalam waktu 1 hari.
 
“Optimalisasi alat manual dan ATBM tetap dilakukan. Semua memiliki segmentasi pasar sendiri. Kadang kami juga harus mengejar waktu dan kapasitas produksi, makanya ATBM yang dioptimalkan, ”jelasnya lagi.
 
Untuk membuat 1 lembar kain sarung, dibutuhkan benang sutera seberat 250 gram. Untuk mengimbangi kebutuhan pasar dan menyegarkan bahan baku, pengrajin sutera dan melakukan impor benang. Asalnya dari Tiongkok dan Hong Kong. 

“Kebutuhan pasar harus disikapi. Kami cukup lengkap. Selain kain atau sarung, kami juga tidak mengembangkan busana. Ada perancang khusus wanita, ”jelas Rustam.
 
Sedikitnya, ada 50 motif kain sutera yang ditawarkan dari Sulsel. Beberapa motif yang akrab seperti, Coboh, Lagosi, Pucuk, dan Logoh. Sedikit jelas, motif Coboh biasanya digunakan untuk acara penting dan sakral, termasuk pengantin raja. 

Sulsel juga mengembangkan motif Lontara. Motif menjadi aksara daerah Bugis-Makassar.
 
“Yang jelas, kami memperhatikan kualitas secara menyeluruh. Kami juga menawarkan banyak motif dan gaya unik dengan karakter khasnya. Motif-motif ini akan terus berkembang. Sebab, ini adalah bagian dari kreativitas dan inovasi yang kami lakukan, ”katanya lagi.
 
Ada beberapa cara kain sutera berkualitas, seperti rasa halus dan berbunti saat digosok. Bila menemukan cahaya, kain sutera akan mengkilat. Saat dipakai roti sejuk. Agar sutera ini awet, maksud kain tidak menggunakan detergen. Pencuciannya pun dilakukan manual. Proses penjemuran di tempat teduh, lalu saat menyetrika menggunakan suhu rendah.
 
“Cenderamata terbaik yang dimiliki Sulsel. Sutera ini adalah karya terbaik yang mereka tawarkan. Nantinya saat berada di Sulsel, wisatawan Tawau harus membawa pulang kain sutera ini sebagai oleh-oleh. Selain kualitas, harganya juga ramah, ”terang Plt Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani.
 
Dipajang di sepanjang Jalan Gunung Lompobattang, Makassar, kain sutera diberi banderol Rp300 ribu per meter. Untuk harga selembar sarung sutera tonton Rp1,15 juta. Mencetak karya terbaik, produk UMKM Tenun Sa'be Belo, Sengkang, Wajo, dipasarkan ke Jawa. Kota terpencil adalah Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Dalam sebulan ada 2 kali pengiriman. 
 
“Selain alam dan budaya, tempat tujuan Sulsel ini sangat unik. Sutera asal Sulsel ini harus menjadi koleksi. Kualitas sangat sudah terbukti bagus. Kami tentu berharap, dengan berkembangnya akses di Sulsel semakin menggerakan industri kreatif seperti ini, ”tegas Asisten Deputi Pemasaran I Regional II Kemenpar Sumarni.
 
Sutera produk Negeri Para Daeng pernah mejeng di Asian Games 2018. Motif Lagosi pun ditawarkan dalam bentuk tas, dompet, busana, hingga sepatu. 

Kepala Bidang Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapto Haryono mengungkapkan, sutera Sulsel kini memiliki potensi pasar baru melalui kunjungan wisatawan Tawau.
 
“Ini sinergi yang sangat positif. Masuknya wisatawan Tawau ini diharapkan dapat mendorong industri sutera di Sulsel. Artinya, ada perlindungan ekonomi yang akan digunakan masyarakat. Kami tentu gembira, penguatan peluang ekonomi lebih luas, ”tutur Sapto.
 
Pengakuan kualitas sutera Negeri Para Daeng pun diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, sutera Sulsel memiliki kekhasan. Karya-karya yang indah ini pun harus menjadi cenderamata dari para wisatawan yang berkunjung ke Sulsel, termasuk warga Tawau.
 
“Sulsel ini adalah yang terbaik. Ada banyak pengalaman yang ditawarkan di sana. Sutera ini menjadi menu Wajib bagi wisatawan, khusus Tawau. Ada banyak motif yang ditawarkan, bahkan Tawau juga punya ikatan psikologis yang kuat dengan istilah Bugis di Sulsel, ”tutupnya. 

Editor : Laksito Adi Darmono