logo

Pataka: Impor Jagung Itu Biasa, Jangan Kebakaran Jenggot

Pataka: Impor Jagung Itu Biasa, Jangan Kebakaran Jenggot

Direktur Pataka, Yeka Hendra Fatika (kiri) dan Presiden Forum Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11/2018). (Suarakarya.id/laksito)
08 November 2018 22:37 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika mengatakan, impor dan ekspor suatu komoditas merupakan hal wajar dalam suatu negara. Oleh karenanya pemerintah jangan merasa seperti kebakaran jenggot dengan adanya impor jagung.

"Tak ada satupun negara tanpa impor dan ekspor. Itu hal biasa. Bahkan negara sebesar AS dan China juga masih melakukan impor untuk sejumlah komoditas," kata Yeka dalam bincang santai bertema Darurat Jagung di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Namun demikian Yeka minta importasi jagung jangan dijadikan pemadam kebakaran atas kondisi peternakan nasional, tetapi harus dipandang sebagai cadangan jagung yang sewaktu-waktu bisa digunakan saat diperlukan.

Keputusan importasi jagung yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian, menurut Yeka, sudah merupakan langkah tepat. Hanya saja, kebijakan ini dinilai terlambat mengingat masa panen akan datang dalam waktu dekat. 

Berdasarkan pengalaman selama ini, realisasi impor butuh waktu 2-3 bulan. Bila baru diteken November, diprediksi, jagung impor baru datang akhir Januari atau awal Februari. “Kalau nanti hasil produksi kita cukup, impor justru akan mubazir,” ujarnya.

Yeka mempertanyakan pernyataan Kementerian Pertanian ihwal surplus jagung hingga 12,92 juta ton akibat adanya luas panen jagung sekitar 5,3 juta hektare. Satu hektare lahan biasa membutuhkan benih jagung rata-rata sebesar 20 kilogram, sehingga pada 2018 membutuhkan 106 ribu ton benih.

"Kapasitas produksi benih nasional tidak pernah melebihi 60 ribu ton. Kekurangannya diambil dari mana?

Surplus Jagung

Pada bagian lain, Yeka mempertanyakan angka surplus jagung nadional. "Jika surplus 12,94 juta ton, maka setidaknya kita memerlukan komplek pergudangan 
seperti gudang Perum BULOG di kelapa gading itu sekitar 3245 gudang, dan memerlukan dukungan lahan sekitar 162.250 hektare atau 1622,5 km2, dan bangunan itu merupakan jajaran dari 6.490 silo dngn asumsi kapasitas per silo mamou menampung 2.000 ton," katanya.

 

Jika jagung itu diangkut pakai truk dengan kapasitas 7 ton, setidaknya memerlukan truk sebanyak 1,85 juta truk. 

Jika harga jagung diasumsikan sebesar Rp4.000/kg, maka diperlukan modal sebesar Rp51,92 triliun. "Siapa pelaku usaha yang stupid mengalokasikan dana sebanyak itu? Untuk menyimpan 
tambahan surplus jagung tersebut perlu investasi totalnya sebesar Rp12,98 triliun. Jadi total investasi untuk menyimpan surplus jagung tersebut sebesar Rp64,9 triliun," ujar Yeka.. 

Dia menambahkan, saat masih ada impor jagung, misalnya di 2015, sekitar 3,2 juta ton, seringkali ada keluhan harga jagung dalam negeri anjlok. 

"Kalau surplus sampai 10 juta ton saja, tidak terbayang bagaimana keluhan petani jagung, bisa-bisa mereka tidak mau tanam jagung lagi di musim berikutnya karena harga jagung pasti anjlok tidak karuan," tuturnya.

"Jika ada surplus jagung, Yeka menyarankan tidak perlu juga ada impor gandum untuk pakan. Namun fakta mencatat, pasca ditutupnya impor jagung, pemerintah membuka impor gandum untuk pakan selama periode Juli 2017-2018 sebanyak 3,2 juta ton. Angka ini meningkat dibanding tahun 2017, yakni 2,8 juta ton dan 1,8 juta ton pada 2016.

"Kondisi itu justru menyulitkan pemerintah mengambil kebijakan. Bukannya mendapat keuntungan dari keputusan menutup impor jagung yang dilakukan sejak 2016, tapi justru mendatangkan kerugian. Sebab, harga gandum impor saat ini sekitar Rp4.800 per kilogram, sedangkan jagung impor hanya Rp3.600 per kilogram.

Selain dari sisi ekonomis, industri juga mengalami kerugian ketika impor gandum untuk pakan. Dibanding dengan menggunakan jagung sebagai pakan, ternak yang mengonsumsi gandum cenderung memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah.

"Jadi, importasi gandum untuk pakan jelas keliru karena sudah ada produk pakan lain yang lebih baik dan murah, yakni jagung," ucap Yeka.

Presiden Forum Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menuturkan, harga jagung di tingkat peternak saat ini sudah menyentuh Rp5.800 sampai Rp6.000 per kilogram. Nominal ini melebihi harga acuan penjualan konsumen untuk jagung sebesar Rp4.000 per kilogram berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018.

Musbar berharap, jagung impor dengan kuota 100 ribu ton dapat dituntaskan dalam waktu cepat. Setidaknya, pada pekan pertama Desember, agar peternak ayam layer dapat memanfaatkan jagung impor. ***