logo

Akibat Dekompresi, Sang Penolong Pun Ikut Jadi Korban JT 610

Akibat Dekompresi, Sang Penolong Pun Ikut Jadi Korban JT 610

Keluarga relawan penyelam Syachrul Anto menunjukan foto almarhum melalui gawai seusai pemakaman di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (3/11/2018). Syachrul merupakan relawan Badan SAR Nasional yang meninggal ketika membantu pencarian puing-puing pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. (Antara)
04 November 2018 07:47 WIB

Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Perasaan duka cita mendalam dari keluarga korban pesawat Lion Air JT 610 hingga hari ke-6 belum sirna, bangsa Indonesia agaknya dibuat bertambah sedih karena saat proses evakuasi itu ternyata harus ada nyawa yang melayang lagi.

Nyawa itu milik seorang penyelam yang menjadi salah satu dari ratusan evakuator pesawat Lion Air JT-610 di bawah koordinasi Badan SAR Nasional, yakni Syachrul Anto dan meninggal saat bertugas di Perairan Karawang, Jawa Barat, Jumat (2/11/2018).

Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Laut Isswarto, Sabtu di Jakarta mengatakan penyebabnya kematian Syachrul karena dekompresi.

"Almarhum menyelam lebih lama dari seharusnya. Sesuai jadwal para penyelam naik jam 16.00 WIB, tetapi dia naik 30 menit lebih lama," kata dia seperti dilaporkan Antara.

Jenazah suami dari Liyan Kurniawati ini sudah diserahkan kepada keluarga di Surabaya dan dimakamkan juga di kota Pahlawan itu, Sabtu (3/11).

Penyakit dekompresi adalah penyakit yang dapat mempengaruhi penyelam atau orang lain (seperti penambang) yang berada dalam situasi yang melibatkan tekanan cepat penurunan suhu tubuh.

Decompression Sickness disebabkan oleh meningkatnya gelembung nitrogen dalam tubuh. Ketika bernapas, sekitar 79 dari udara adalah nitrogen. Ketika turun di air, tekanan di sekitar tubuh meningkat, menyebabkan nitrogen terserap ke dalam jaringan tubuh.

Humas Basarnas, Yusuf Latief membenarkan kabar kematian Syachrul dan berdasarkan informasi yang diterima oleh sejumlah media, Syachrul dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara pada pukul 22.10 WI, Jumat (2/11) B dengan kondisi tidak sadar, tidak ada respons, tidak ada denyut nadi, dan nafas.

Pada pukul 22.30 WIB, Syachrul yang bertempat tinggal di Kompleks DPR Jalan Garuda 1 Cakung ini baru dinyatakan meninggal oleh dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Dokter pun menyarankan untuk melakukan proses otopsi ke RSCM, tetapi keluarga dan Basarnas menolak karena hendak langsung dibawa ke rumah duka di Surabaya, Jawa Timur.

          Duka Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga relawan penyelam Basarnas itu.

"Yang pertama, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya penyelam kita Pak Syachrul Anto. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT," kata Presiden Jokowi.

"Semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan," kata Jokowi.

Syachrul yang berusia 48 tahun merupakan bagian dari Komunitas Indonesia Diving Rescue Team (IDRT) dan telah mengantongi sertifikat penyelam profesional dari CSMAS-Possi.

"Beliau memegang peran dan kontribusi yang sangat besar dalam menemukan, baik kotak hitam pesawat, maupun menemukan komponen pesawat. Seperti kemarin saya sampaikan, ada 859 aparat relawan yang semuanya bersama-sama dalam rangka evakuasi atau mencari black box dan lain-lain yang sudah lima hari ini kita lakukan pagi siang malam," ujar Presiden.

Ia berharap tidak ada lagi penyelam yang meninggal di lapangan dalam proses evakuasi.

Tak hanya Kepala Negara, Kepala Basarnas M Syaugi pun juga ikut mengucapkan rasa duka citanya atas kepergian penyelam Syachrul Anto yang meninggal dunia dalam tugas sebagai evakuator Lion Air JT 610 yang jatuh di Perairan Karawang, Senin (29/10).

"Saya sebagai Kabasarnas turut berduka sedalam-dalamnya atas gugurnya pahlawan kemanusiaan, tim relawan kita, demi tugas negara dan bangsa," kata Syaugi di Posko JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Syaugi, Syachrul gugur dengan memberikan dedikasi tinggi dalam tugasnya sebagai penyelam.

Penyelam dari Indonesia Rescue Diver Team itu juga dikenal sebagai penyelam dengan kualitas tinggi, militan, senior dan jam selam yang cukup tinggi.

"Kalau Tuhan menghendaki lain, tidak ada yang mampu mencegah-Nya," ucap dia.

Menurut dia, saat Jumat (2/11), Syachrul turun menyelam dengan salah seorang temannya. Saat temannya sedang melakukan pencarian, Syachrul tiba-tiba tak diketahui keberadaannya.

"Satu pihak sedang mencari sesuatu kemudian menengok satunya sudah tidak ada, ketika dicari ternyata sudah di atas agak jauh," kata dia.

Tim dokter di kapal Victory langsung menangani Syachrul yang sempat sadar dan dimasukkan ke chamber (tabung pemulihan) karena mengalami dekompresi.

"Kita punya peralatan itu semua. Setelah itu, Tuhan berkehendak lain. Kita segera bawa secepatnya ke Jakarta kemudian ke RSUD Koja," ucap dia.

"Chamber" atau lebih dikenal "Hyperbaric chamber" dalam dunia penyelaman, merupakan fasilitas terapi oksigen Hiperbarik (Hyperbaric Chamber), yang biasa digunakan untuk memulihkan penyakit dekompresi akibat menyelam.

Hyperbaric Chamber berbentuk tabung besar menyerupai kapal selam ini memiliki kapasitas hingga tujuh orang.

Ada dua jenis terapi yang biasa menggunakan hyperbaric chamber, selain untuk mengatasi penyakit akibat dekompresi untuk para penyelam, juga ada terapi pengobatan jenis penyakit lain yang menggunakan tabel Kinwall.

           Perkembangan evakuasi

Memasuki hari ke-6 evakuasi oleh Tim Basarnas dan pihak terkait lainnya selama 24 jam terus menerus sejak Senin (29/10), makin membuahkan hasil signifikan, mulai dari temuan korban, bagian dari kotak hitam pesawat, serpihan pesawat, roda pesawat, mesin hingga bodi utama pesawat.

Bahkan, sinyal dari kotak hitam cockpit voice recorder (CVR) kotak hitam Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) sudah terdengar meski masih lemah.

Sinyal tersebut ditangkap oleh pendetiksi "ping" Kapal Teluk Bajau Victory di bagian buritan kiri belakang dan tentu hal ini sudah ditindaklanjuti oleh tim penyelam dan sedang berusaha mencari satu dari dua bagian kotak hitam tersebut.

"Jaraknya kurang lebih 50 meter. Doakan saja mudah-mudahan bisa ketemu jadi lengkap kotak hitam ini FDR dan CVR," kata Kepala Basarnas M Syaugi di Posko JICT2 Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu.

Selain kotak hitam CVR, pencarian di hari keenam ini juga mendapat titik terang lain yakni dengan ditemukannya bagian mesin dan tubuh pesawat.

"Turbin sudah dua ditemukan artinya dua mesin sudah mulai ditemukan. Kemudian kemarin roda yang lain juga sudah terlihat. Tadi, dikatakan ada yang sudah melihat badannya," kata dia.

Syaugi mengatakan, pengangkatan akan segera dilakukan setelah koordinasi dilakukan olehnya yang merupakan penanggung jawab tim pencarian.

Koordinasi penting dilakukan karena banyaknya tim penyelam dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses evakuasi ini. "Kita ini tim gabungan yang solid dan sinergi, yang penting ini bisa kita angkat semua, korban kita bisa angkat semua," ucap dia.

         Identifikasi korban

Sementara itu, RS Polri Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur hingga saat ini telah menerima dan memeriksa 73 kantung jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Pakis Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dengan 306 sampel DNA di dalamnya.

"Total hari ini sudah masuk 73 kantung jenazah usai masuk delapan kantung pada malam kemarin hingga pagi. Sebelumnya ada 289 sampel DNA dari 65 kantung jenazah dan karena ada tambahan tersebut, kami berhasil kumpulkan sampel DNA totalnya 306 sampel," ujar Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri, Kombes Polisi Putut Tjahjo Widodo.

Sebanyak 73 kantung jenazah itu terdiri atas 306 bagian tubuh dan dari tiap bagian tubuh itu diambil sampel DNA-nya oleh Tim DVI Polri.

Adapun rincian sampel DNA tersebut adalah 87 sampel DNA dari 24 kantung jenazah hari pertama pada Senin (29/10). Selanjutnya, 24 kantung jenazah pengiriman kedua pada Selasa (30/10) yang terdiri atas 151 sampel DNA.

Di hari ketiga Rabu (31/11) ada delapan kantung jenazah yang terdiri atas 34 sampel DNA. Lalu sembilan kantung gelombang keempat terdiri dari 17 sampel DNA serta delapan kantung jenazah gelombang kelima terdiri dari 17 sampel DNA.

"Untuk DNA antemortem pembanding yang diberikan dari keluarga juga sudah lengkap. Semua keluarga dari penumpang yang namanya ada di manifes penumpang juga sudah diambil DNA-nya," kata Putut yang juga menegaskan hasil pemeriksaan DNA baru bisa ketahuan paling cepat empat hari terhitung sejak masuk ke laboratorium.

Kendati sudah terkumpul 306 sampel DNA, dia menyebut hal tersebut mungkin masih belum bisa mewakili penumpang pesawat Lion Air JT 610. Tapi dia berharap seluruh korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 sudah ditemukan dan terevakuasi di RS Polri.

"Dengan begitu, semua penumpang pun bisa teridentifikasi oleh Tim DVI Polri. Namun menilik kasus serupa sebelumnya, ada yang tidak ketemu sehingga ada yang tak teridentifikasi. Namun kita berdoa agar itu tak terjadi, semua penumpang bisa teridentifikasi dan terevakuasi," ucapnya.

Sebelumnya, sudah ada empat jenazah penumpang kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 yang teridentifikasi yakni atas nama Jannatun Cintya Dewi, Candra Kirana, Monni dan Hizkia Jorry Saroinsong.

Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang mengangkut total 189 penumpang, terdiri atas 178 orang dewasa, satu anak-anak, dua bayi, dan enam awak kabin itu mengalami kecelakaan dan jatuh di perairan Tanjungpakis,, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10), setelah sebelumnya hilang kontak selama tiga jam sejak pukul 06:33 WIB.

Akhirnya, mari berharap dan berdoa, semoga proses evakuasi ini, segera tuntas agar tak ada lagi duka menggelayut di republik tercinta ini. Aminn. (Antara) ***