logo

Menaker: Indonesia Harus Mengejar Ketertinggalan Dalan Penyiapan SDM Berkompeten

Menaker: Indonesia Harus Mengejar Ketertinggalan Dalan Penyiapan SDM Berkompeten

Menaker M Hanif Dhakiri (kiri), mwmperhatikan salah satu peserta. (foto, ist)
11 Oktober 2018 15:44 WIB

Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - MAUMERE: Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari negara-nagara lain dalam penyiapan sumberdaya manusia (SDM) kompeten. Apalagi Indonesia juga dihadapkan pada tantangan bonus demografi.

Hal itu dikemukakan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri saat mengunjungi Laboratoriun Pelatihan Politeknik ATMI Sikka (Kampus Cristo re Maumere), di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (10/10/2018).

Dalam siaran persnya, dia menyatakan, berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih mengalami persoalan angkatan kerja yang didominasi oleh lulusan SD-SMP (59,6 persen). Dalam rentang usia tersebut, kemungkinannya sangat tipis bagi masyarakat untuk dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang membutuhkan waktu tidak sebentar.

"Misalkan, lulusan Politeknik dibandingkan dengan lulusan BLK yang pelatihan hanya beberapa bulan, itukan kualitasnya (lulusan) bisa diadu," kata Menaker.

Untuk itu, ujarnya Pemerintah terus mendorong agar proses peningkatan SDM Indonesia, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Tapi, juga melibatkan lembaga swasta dan dunia usaha. Ini dibutihkan agar proses peningkatan kualitas SDM dapat dipercepat dan dapat menghasilkan tenaga kerja kompeten, yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Di bagian lain, seseorang pengurus Polteknaker ATMI, Romo Doni, menyebut, pendidikan vokasi seperti politeknik memiliki prospek bagus di dunia kerja. Sejumlah lulusan politeknik mereka pun disebutnya telah berhasil masuk ke dunia industri.

Hanya saja, pendidikan vokasi, khususnya di daerah punya banyak kendala. "Kendala yang dihadapi antara lain kebutuham alat-alat (pelatihan) yang tidak murah. Itulah kenapa tiap tahun hanya sekitar 20-an orang saja yang kami terima," jelas Romo.

Merespon jal itu, Menaker, menyebutkan dalam standar internasional (ILO), kuota pelatihan memang hanya sekitar 16 orang saja tiap kelasnya. Namun diingatkannya, selain kualitas dan kecepatan, lembaga pelatihan dan pendidikan vokasi juga harus memperhatikan pembangunan karakter dan attitude.

Ke depannya, dengan adanya standar kualitas kerja yang baik, maka para pekerja memiliki standar yang sama dalam bekerja. Sehingga, tidak ada gap keahlian satu sama lain.

Editor : Gungde Ariwangsa SH