logo

Kemenperin Gandeng Enterprise Singapore Adopsi Industri 4.0

Kemenperin Gandeng Enterprise Singapore Adopsi Industri 4.0

Kepala BPPI Kemenperin, Ngakan Timur Antara dan CEO Enterprise Singapore, Png Cheong Boon melakukan penandatanganan MoU tentang adopsi industri 4.0 di Indonesia, di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).
11 Oktober 2018 14:25 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama strategis dengan Enterprise Singapore dalam upaya mendorong implementasi industri 4.0 di Indonesia. Kesepakatan kedua belah pihak ini merupakan hasil dari rangkaian kegiatan Pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-WBG) 2018.

“Revolusi industri 4.0 ini menjadi sangat penting untuk segera diadopsi, karena akan menjadi lompatan besar di sektor industri manufaktur nasional,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin RI Ngakan Timur Antara di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

Komitmen bilateral tersebut tertuang dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kepala BPPI Kemenperin RI Ngakan Timur Antara dengan CEO Enterprise Singapore, Png Cheong Boon. Momen ini disaksikan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama beberapa Menteri Kabinet Kerja.

Ruang lingkup pelaksanaan MoU yang akan dikolaborasikan bersama, antara lain menghubungkan industri Indonesia dengan penyedia teknologi Singapura, mengeksplorasi inisiatif untuk mendorong adopsi solusi inovasi manufaktur antar industri, dan pengembangan kurikulum pelatihan terkait Industri 4.0 untuk industri Indonesia.

“Kerja sama itu termasuk di dalamnya fasilitasi pertukaran antarlembaga mengenai rancangan atau implementasi fasilitas inovasi manufaktur kepada industri Indonesia dan pengembangan platform inovasi yang akan menjadi jembatan digital bagi produsen Indonesia dalam mengakses solusi industri 4.0,” papar Ngakan melalui rilis.

MoU tersebut juga mendukung penerapan Making Indonesia 4.0 guna memacu 5 sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektonika. Perjanjian kerja sama ini mulai berlaku sejak tanggal ditandangani sampai dua tahun dan dapat diperpanjang kembali dalam periode waktu yang sama.

Ngakan optimistis, Making Indonesia 4.0 yang telah dijadikan agenda nasional akan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5 persen menjadi 6-7 persen selama tahun 2018-2030. Selain itu, rasio ekspor netto akan meningkat kembali sebesar 10 persen terhadap PDB. 

Kemudian, terjadi peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi, serta mewujudkan pembukaan  lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030. “Aspirasi besar yang ditetapkan, yakni menjadikan Indonesia masuk pada jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Maka itu, kuncinya adalah menyiapkan kompetensi SDM dan infrastruktur digital," imbuhnya.

Menperin pun menegaskan, di era digital saat ini, industri manufaktur perlu memanfaatkan teknologi otomatisasi yang tinggi dengan ditopang infrastruktur berbasis internet. Proses ini tidak hanya berlaku di dalam kegiatan produksi saja, melainkan juga di seluruh rantai nilainya sehingga terjadi alur yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi, optimalisasi, dan mutu produk.

Sementara, Png Cheong Boon menyampaikan, pihaknya berkomitmen ikut berkontribusi membangun kemampuan inovasi sektor industri di Indonesia. “Kami adalah lembaga pemerintah yang mendukung pengembangan usaha. Kami juga mendukung pertumbuhan Singapura sebagai pusat perdagangan global dan startup,” tuturnya. ***