logo

Pemanfaatan Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioetanol Belum Optimal

Pemanfaatan Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioetanol Belum Optimal

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono. (foto,ist)
04 Oktober 2018 15:46 WIB

Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Saat ini, bioetanol yang digunakan banyak berasal dari bahan pangan. Sehingga, harus berkompetisi antara bahan baku bioetanol dengan pangan. Karenanya, melalui penggunaan limbah biomassa seperti tandan kosong sawit sebagai bahan baku diharapkan dapat menjawab permasalahan itu.

Demikian dijelaskan Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) “Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil”, di Jakarta, Rabu (4/10/2018).

Sesungguhnya, ungkapnya, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 12 Tahun 2015 yang mengatur tentang pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Dalam peraturan tersebut, pemerintah mewajibkan penggunaan 2 - 5 persen bioetanol sebagai campuran BBM pada tahun 2016.

Dijelaskannya, penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM diharapkan sudah mencapai 5 - 10 persen pada tahun 2020. Namun, hingga menjelang akhir tahun 2018, implementasi dari peraturan itu belum juga terealisasi.

"Banyak tantangan dalam implementasi bioetanol sebagai bahan bakar," ujarnya. LIPI, imbuhnya, telah memiliki teknologi untuk mengubah limbah biomassa, khususnya tandan kosong sawit menjadi bioetanol. 

“LIPI sudah bekerja sama dengan dua BUMN untuk melakukan pengembangan yang mengarah pada produksi bioetanol skala industri. Kedua BUMN itu adalah PT Rekayasa Industri dan PT Pertamina (Persero),” ungkap Agus.

Agus berharap, dari forum diskusi ini, akan ada jawaban atas sulitnya implementasi penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM. “FGD akan merumuskan peta riset, pengembangan, produksi dan pemanfaatan bioetanol i sebagai campuran BBM," ujarnya.

Di bagian lain, Peneliti LIPI Pusat Penelitian Kimia Prof Dr Yanni Sudiyani mengemukakan, limbah kelapa sawit paling banyak jumlahnya di Indonesia. Jika dikelola 20 persen = 8,1 juta ton berpotensi menghasilkan energi sekitar 124 juta GJ. "Ini setara dengan kebutuhan BBM untuk 4 juta mobil per tahun," ujarnya.

Dia menyebutkan, Indonesia merupakan penghasil biomasa dalam jumlah besar, tapi pemanfaatannya belum maksimal. "Masih sedikit," ucapnya.

Sesungguhnya, kata dia, teknologi untuk memanfaatkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sudah terkuasai dari hulu sampai ke hilir. Persoalannya, di bagian hilir terdapat hambatan, industri pengembangan Bioetanol G2 ini tidak menarik investor untuk berinvestasi.

Padahal, ujarnya, guna memenuhi kebutuhan energy nasional, dan pemanfaatan energy alternative tidak bisa dilakukan secara single solution perlu adanya kolaborasi.

Editor : Silli Melanovi