logo

Jangan Tinggalkan Lansia

Jangan Tinggalkan Lansia

30 September 2018 06:06 WIB

SuaraKarya.id - Oleh : Dr Mulyono D Prawiro

Makin tinggi angka usia harapan hidup masyarakat, yang secara nasional telah mencapai 71,7 tahun, membuat saat ini Indonesia mempunyai jumlah orang tua yang kian membengkak. Kalau dibandingkan  tahun 1970-an, jumlah penduduk yang berusia di atas 65 tahun atau yang biasa disebut lanjut usia (lansia)  hanya berkisar 3 jutaan. Berdasarkan data Susenas 2016, jumlah lansia di Indonesia mencapai 22,4 juta jiwa atau 8,69 persen dari jumlah penduduk, dan tahun 2018 pasti bertambah banyak lagi.

Hal itu dikarenakan adanya kemajuan di berbagai bidang pembangunan, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, keluarga berencana dan bidang-bidang lainnya, sehingga mengakibatkan jumlah lansia Indonesia meningkat dengan drastis. Sebagian besar lansia Indonesia masih memiliki kemampuan dan daya ingat yang luar biasa, kondisi fisiknya masih sehat dan pikirannya  juga masih cemerlang.  

Tidak hanya Indonesia begitu pula bagi masyarakat Jepang, khususnya masyarakat Kota Kobe.  Pemerintahnya telah melakukan suatu terobosan luar biasa dalam mempersiapkan para lansia. D iawal tahun 1993, pemerintah Kota Kobe telah mendirikan sebuah lembaga atau kampus yang diperuntukan khusus bagi warga kota yang berusia di atas 57 tahun. Kampus yang diberi nama Kobe City Silver College, merupakan lembaga atau kampus yang mendapat subsidi 60 persen dari pemerintah ini, dalam menjalankan misinya untuk memberdayakan para lansia.

Demikian dikemukakan, College Manager, Mr Hiroshi Fujiwara. Dijelaskannya,  berbagai kegiatan dipelajari dan diajarkan di lembaga ini. Mulai dari membuat kerajian tangan, bermain musik dan berolah raga menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka yang sudah sepuh ini. Bahkan segala macam buku tersedia di perpustakaan yang luar biasa lengkapnya. Mungkin semasa masih produktif mereka ini tidak mendapat kesempatan untuk berlatih seperti itu.

Ini menunjukkan betapa pemerintah memberikan penghargaan yang sangat besar kepada para senior. Di sini para orang tua sungguh mendapat tempat terhormat di kota ini. Kampus ini membagi dalam 4 jurusan atau bidang studi yang secara terfokus diajarkan. Pertama, welfare course, program ini sengaja disiapkan bagi mahasiswa untuk membantu orang lain, khususnya membantu memberdayakan masyarakat di wilayah perkotaan. Di samping itu disiapkan juga bagaimana menjaga kebugaran agar badan tetap sehat di usia lanjut.

Kedua, International Exchange and Cooperation Course, program ini secara khusus dirancang bagi mereka yang ingin mempelajari budaya asing, terutama bidang kesenian. Selain budaya dan kesenian, di jurusan ini diberi pelatihan untuk berdiskusi untuk memecahkan permasalahan yang aktual bersama pengajarnya. Para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengadakan dialog dan mengemukakan pendapatnya.

Hubungan dosen dan mahasiswa terlihat akrab dan bersahabat.  Sehingga,  mereka merasa dihargai dan dihormati keberadaannya. Ketiga, Environment Course, program menarik ini diprioritaskan untuk belajar penanganan sampah dan lingkungan. Mahasiswa diajak untuk berpraktek dan banyak melakukan kunjungan lapangan ”visit at a wastewater treatment plant” untuk melihat langsung penanganan air limbah dan penelitian tentang sungai-sungai yang mengalir dan bersih di sekitar kota dan menyaksikan langsung upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menjalankan program wastewater treatment.

Keempat, Art Course, yang dibagi dalam 4 sub-courses. Jumlah mahasiswa dalam bidang ini biasanya lebih banyak dibandingkan dengan program atau jurusan lain. Program ini banyak peminatnya, sehingga setiap tahun dipenuhi oleh calon-calon mahasiswa. Di sini terdapat program latihan untuk belajar melukis dan menggambar, membuat semacam mangkok keramik, bukan untuk dijual tetapi bila lulus bisa diajarkan kepada anak-anak muda putus sekolah.

Seni bermain musik dengan memainkan alat musik seperti memetik gitar, memukul drum dan alat musik lainnya juga diajarkan dan melatih suara ”singing a song”. Selain memperoleh keahlian, mereka juga mendapatkan peningkatan percaya diri yang luar biasa. Mereka berani tampil bernyanyi, yang sebelum masuk Silver College belum pernah terpikirkan.

Untuk mencintai tanaman dan taman-taman yang berada di lingkungannya, mereka juga mendapat pelajaran bagaimana menyayangi dan memelihara tanamannya dengan baik dan benar. Sehingga,  lingkungannya terlihat hijau dan bersih ”Green and Clean”. Yang tidak kalah pentingnya, adalah International Friendship, yaitu menjalin hubungan dengan warga negara asing dan mendatangkan dosen atau pengajar dari negara lain untuk membagi pengalaman.

Pada semester-semester terakhir, para mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan studi banding di negara lain, dengan biaya sendiri di luar tuition fee yang telah ditetapkan. Pada umumnya mereka ini cukup kaya dan mampu bekerja,  sehingga bisa diberikan kesempatan untuk bekerja dan memberi sumbangan pada pendapatan keluarga dan masyarakat, karena saat usia produktif mereka ini selalu menabung untuk mempersiapkan masa tuanya.

Setelah lulus dari Silver College ini, para alumni diharapkan menjadi semacam Volunteer atau tenaga sukarelawan dalam melakukan kegiatannya dan menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk keluarga, masyarakat dan bangsanya. Dengan upaya-upaya yang dilakukan tersebut, para orang tua merasa dihargai dan keberadaannya memang sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Dengan moto ” Study again and serve others” atau belajar lagi dan melayani atau beramal untuk sesama, maka hubungan antar generasi akan semakin baik, yang muda menghargai yang tua, dan yang tua memberikan harapan yang besar kepada yang muda,l. Sehingga, kelangsungan berbangsa dan bertanah air tetap terus berkelanjutan. Kalau di pemerintah Jepang yang dianggap sebagai negara maju saja bisa dan sangat menghargai para lansianya, bagaimana dengan kita, apakah kita sudah berpikiran kearah sana ?

Jumlah lansia akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Jumlah yang sangat besar, dan apabila tidak diperhatikan, maka akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi bangsa ini. Kekuatan mereka luar biasa, dan jaringannya pun sangat kuat, sehingga perlu adanya pendekatan yang mengarah dan penghargaan yang sewajarnya dan diberikan tempat yang terhormat. Dengan demikian di mata dunia, kita bisa dianggap sebagai bangsa yang menghargai sesepuh dan seniornya, menghargai pendahulunya dan yang paling penting menghargai leluhurnya. Jangan tinggalkan mereka, karena sumbangannya terhadap bangsa dan negara ini sungguh luar biasa besarnya. Generasi sekarang ini bisa ada, karena adanya generasi sebelumnya.

(Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)

Editor : Yon Parjiyono