logo

Bikin Heboh Dan Dipadati Ribuan Penonton, Wayang Ajen Tebar Pesona Di Sumedang

Bikin Heboh Dan Dipadati Ribuan Penonton, Wayang Ajen Tebar Pesona Di Sumedang

24 September 2018 18:39 WIB

Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - SUMEDANG: Masyarakat Sumedang dibuat heboh dengan pertunjukan wayang Ajen dengan Ki Dalang Wawan Gunawan, Sabtu (22/9) malam WIB. Penonton yang menyaksikan pergelaran tersebut tak habis habisnya dibuat terpingkal-pingkal dengan gaya banyolan yang disuguhkan Wayang Ajen.

Pengemasan yang menarik dengan gaya tutur humor segar berisi isu-isu terkini, baik dalam negeri hingga mancanegara. Ini memang tidak seperti pertunjukan wayang golek biasa. Bahkan tantanan lampu dibuat meriah dengan permainan warna.

Wayang golek yang bermarkas di Bekasi itu, tak sekadar pertunjukan tetapi juga bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan. Pada pementasan kali ini, pesan moral kampanye damai terkait Pilpres 2019 disampaikan ki dalang dengan lugas dan jelas. Berbeda pilihan boleh, asal saling menghormati, mengkritisisi boleh, tapi jangan menuduh, jangan saling hujat.

“Karek pemilihan Nomer urut wae mani rariweuh. Padahal sarua sabangsa, sanagara. Mulai besok deklarasi kampanye damai pilpres 2019 di Puser Dayeuh. Adu program, adu prestasi Bukan adu isu, bukan adu kebencian. Hindari saling menjelekan, hindari saling fitnah, saling serang, ” celoteh ki Dalang Wayang Ajen saat pementasan berlangsung yang diteruskan ketua panitia penyelenggara  H. Nana Mulyana.

Bupati Sumedang H Donny Ahmad Munir yang menyaksikan pergelaran Wayang Ajen tersebut tampak sangat antusias. Ia berharap pergelaran ini bisa mengundang wisatawan lebih banyak lagi ke Sumedang.

"Ini wayang zaman now, peminatnya sudah banyak dan bisa menjadi media promosi wisata daerah. Buktinya Penonton membludak sekitar 10 ribu orang tumbah ruah membanjiri tempat acara. Jalanan utama arah ke tempat acara macet total, parkir memenuhi lapangan pemda," ujar Bupati Donny seusai acara di Pusat Pemerintah (IPP) Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (22/9).

Wayang Ajen sendiri kini sudah sangat dikenal baik di dalam negeri maupun mancanegara. Wayang Ajen sudah ikut memperkaya seni budaya bangsa Indonesia. Ia seakan menjawab kekosongan saat ini dimana generasi muda yang hidup di era teknologi dengan budaya modern membutuhkan karya yang mewakili budaya leluhur dengan tidak mengesampingkan modernitas yang mereka rasakan.

Pertunjukan wayang ajen tadi malam dihadiri oleh H. Umuh Muhtar selaku Manager Persib Bandung, duduk dari awal sampai akhir pertunjukan terkesima melihat dan menyaksikan pertunjukan wayang ajen yang spektakuler muatan pesan moralnya update kekinian sesuai yang ada di masyarakat, hiburannya keren pisan

Karenanya dalam setiap pementasannya Wayang Ajen selalu menampilkan tak hanya kemahiran dalang memainkan wayang, tetapi juga dipadukan dengan unsur teknologi pencahayaan, digital dan humor-humor kekinian.

Edy Wardoyo Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran 1, Kemenpar menambahkan, penampilan Wayang Ajen adalah bentuk usaha dalam mensinergikan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia dengan budaya modern.
"Jadi kita ingin budaya tidak dibenturkan tetapi kita sinergikan sehingga menghasilkan karya yang bisa diterima di era teknologi digital," kata Edy Wardoyo.

Wayang Ajen juga bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa dengan memberi kesempatan pada generasi masa kini untuk ikut berkreasi dengan teknologi digital yang mereka kuasai. Ajen yang maknanya menghargai tak hanya sekadar brande wayang golek, tetapi juga mengandung makna bahwa kesenian ini menghargai karya bangsa dan juga menghargai penikmatnya yang hidup di era digital.

"Selain itu di Wayang Ajen juga  mensinergikan antara seniman wayang dengan seniman di luar wayang secara harmonis. Juga mensinergikan antara seni tradisi dengan modern yang saling mengisi dan melengkapi" ujar Edy Wardoyo.

Meski banyak muatan modern dan humor kekinian, namun Wayang Ajen juga tak melepaskan pakem-pakem yang ada pada pertunjukan wayang tradisi umumnya. "Seperti yang sudah saya katakan, Wayang Ajen mensinergikan seni tradisi dan modern. Jadi ada pakem-pakem yang tetap dipertahankan sebagai pijakan agar tetap menjaga ruh dari pergelaran wayang," katanya.

Wayang Ajen sendiri sudah sejalan dengan program pariwisata Indonesia. Ia ikut mewarnai dan menjadi aset budaya pariwisata di tanah air dan mancanegara.

"Wayang Ajen tak sekadar menjadi tontonan tetapi juga tuntunan. Wayang Ajen juga bisa mendukung pariwisata Indonesia," tegas Edy Wardoyo. Dadang, salah seorang pengunjung sekaligus pengamat Budaya, mengatakan Semarak Wayang Ajen dengan Ki Dalang Wawan Ajen merupakn seni pertunjukkan wayang golek Sunda yang dikemas namun terlihat jadi sangat luar biasa karena adanya sentuhan kekinian dari penyajiannya. 

Mulai dari tata panggung, lighting, musik, dan berbagai ide-ide kreatif yg juga ditambah dg pemanfaatan IT dibagian backdrop utk mmperkuat apa yg sedang terjadi dipanggung.

Belum lagi tenda khusus yg disediakan untuk para penonton denga cara lesehan, sehingga semua yg hadir bisa mengapresiasi pertunjukkan dg nyaman dan aman.
Selain sebagai "tononan" ternyata Wayang Ajen betul-betul menjadi "tuntunan dan tuntunan yang sangat adiluhung, karena dipadukan juga dengan tausiah yang disampaikan oleh ahlinya (Kyai Jujun Junaedi) yang mampu memperkuat eksis tensi konten lakon yang disajikan.

Konsep pemanggungan Wayang Ajen benar-benar diciptakan dan dikemas sebagai destinasi pariwisata budaya, ditambah konten dan pesan moral tentang promosi pariwisata Sumedang khususnya dan Indonesia dengan jelas disampaikan Ki Dalang Wawan Ajen , sehingga  menjadi daya tarik puluhan ribu  para penonton yang membludak dan menyimak dengan antusias.

"Semoga melalui Wayang Ajen ini pariwisata Indonesia di masing-masing daerah bisa terangkat lagi, karena kekayaan budaya daerahnya dapat tersampaikan informasinya bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui gambaran secara nyata. Sukses Wayang Ajen," kata pria yang punya nama lengkap Dadang Sunjaya, S.Pd. Dadang merupakan Guru Seni Budaya SMA PGII 1 Bandung dan Praktisi Angklung Padaeng tinggal di Sumedang.

Editor : Gungde Ariwangsa SH