logo

Tak Kapok Edarkan Obat Keras, Dua Distributor Nakal Diciduk

Tak Kapok Edarkan Obat Keras, Dua Distributor  Nakal Diciduk

Polda merilis penangkapan distributor nakal pengedar obat daftar G (ist)
18 September 2018 20:22 WIB

Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Distributor obat nakal masih saja mengedarkan obat-obatan yang masuk dalam daftar G (obat keras atau berbahaya). Polisi menangkap dua orang, yakni  AMW (23), dan AB (23). 

"Tersangka ini bukan baru kali ini saja kita tangkap, melainkan beberapa kali sudah kita peringatkan, bahkan kita taangkap," kata Kepala Subdit Industri dan Perdagangan (Indag) Ditreskrimsus Polda Metro Jaya (PMJ) AKBP Sutarmo di Mapolda, Selasa (18/9/2018). 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menambahkan keduanya  diamankan di tempat berbeda, AMW di Babelan, Kabupaten Bekasi dan AB di Tambora, Jakarta Barat.

“Dari tangan keduanya, kita mengamankan 15.367 butir yang kebanyakan diantaranya merupakan daftar G, diantaranya Heymer Trihephenidly, dan Tramadol,” kata Argo.

Obat yang terdaftar G kerap disalahgunakan pelaku kriminal untuk berbuat kejahatan. Di mana obat-obatan itu kini telah tersebar luas di wilayah Jabodetabek.

Argo mengakui, penindakan terhadap obat daftar G bukanlah kali pertama, sebelumnya sering dilakukan Ditreskrimsus mulai dari pabrik, toko, hingga konsumenya. Upaya penindakan itu tak serta lenyap dari peredaran.

“Terhadap dua pelaku AMW dan AB sendiri melakukan operasinya sudah setahun terakhir. Selama itu keduanya menjual obat dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 20 ribu ke beberapa remaja yang kemudian disalahgunakan untuk tawuran dan aksi kriminal lainnya. Penggunaan obat menambah keberanian hingga percaya diri. Mereka mendapatkan keuntungan Rp 1 juta per hari,” jelas Argo.

Terungkapnya kasus ini, kata Tarmo,  setelah unitnya melakukan penelusuran usai menangkap penyalahgunaan obat daftar G pada Agustus lalu. Dalam kasus ini, kepolisian menduga obat tersebut palsu, pasalnya salah satu jenis obat itu yakni Tramadol tak diproduksi sejak setahun lalu.

“Ini mengindikasikan bahwa obat itu palsu,” tegas Sutarmo. Ia menambahkan, selain menjual obat daftar G, para pelaku juga kerap meracik obat.

“Padahal keduanya tidak berlisensi dan bukan ahli farmasi. Kami mencurigai ada (sales) yang kerap masukin obat. Selain itu di obat yang dipasarkan tidak memiliki lisensi dari BPOM,” kata Sutarmo.

Akibat perbuatannya, keduanya terancam hukuman penjara minimal lima tahun lantaran dianggap melanggar Undang undang kesehatan no 36 tahun 2009 dan Undang Undang Perlindungan Konsumen nomer 8 tahun 1999.