logo

Pelaku Barbar dan Persekusi Harus Diganjar Hukuman Berat

Pelaku Barbar dan Persekusi Harus Diganjar Hukuman Berat

korban Angelita dipukul saat selamatkan ibunda
14 September 2018 19:05 WIB

Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Supremasi hukum yang dibangkitkan sejak puluhan tahun silam agaknya seringkali hanya sebagai jargon-jargon. Hukum rimba, hukum mayoritas adakalanya seketika “memangsa” orang-orang yang tidak berdaya.

Maka perasaan marah, terluka, menyedihkan dan masih banyak lagi lainnya boleh jadi berkecamuk di dalam hati Siliyana Angelita Manurung, seorang gadis muda asal Deli Serdang (Sumut) yang harus melihat ibunya diarak oleh warga kampung dan diikat di sebuah pohon dengan hanya mengenakan pakaian dalam.

Advokat muda  Asrin Budi Manurung SH menilai kejadian yang menimpa Angelita dan ibunya sebagai sesuatu yang tak bermoral, barbar dan juga merusak nilai budaya Batak. “Perbuatan seperti ini adalah perbuatan manusia barbar yg hidup pada jaman batu. Saat ini kan sudah jaman modern kenapa perilaku masyarakat seperti ini masih ada? Peristiwa ini sangat memalukan dan melanggar hukum. Selain melanggar hukum, perilaku ini jelas bertentangan dengan moral dan adat istiadat kebudayaan yg ada di negara kita ini, khususnya budaya Batak,” ujarnya di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Budi  menyebut bahwa pelaku sudah sepantasnya dihajar dengan hukuman berat. “Hukuman berat harus dijatuhkan kepada para pelaku karena pelakunya adalah laki-laki yang sudah dewasa. Secara hukum para pelaku ini harus dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 170 KUHP  penganiayaan dengan ancaman pidana 7 tahun penjara serta pasal 310 dan 351 KUHP. Kami meminta agar Polda Sumut bertindak proaktif dan melakukan reaksi cepat dalam menangkap para pelaku,” harapnya.

Dengan demikian, menjadi pelajaran bagi yang lain agar tidak seenaknya bertindak dan berlaku terhadap orang-orang yang dianggap lemah di lingkungannya. Juga agar mereka tahu bahwa perbuatan itu menabrak rambu-rambu hukum, yang seharusnya dipatuhi dan dijunjung tinggi.

Menurut Angelita, setelah ibunya dan dirinya dihakimi, dia hanya kuasa   meluapkan jeritan hatinya melalui media sosial karena merasa teraniaya oleh warga di daerah  tempat tinggalnya. Melalui akun Facebooknya Angelita yang tinggal di daerah Medan Estate, Deli Serdang tersebut  menceritakan kronologis kejadian yang menimpa dirinya dengan sang ibu sambil bercucuran air mata.

Kejadian bermula pada hari Selasa (11/9/2018) malam saat dua orang pemuda datang ke kediaman mereka dengan maksud untuk menjual sepatu kepada ibunya yang juga dikenal sebagai penjual tuak yang juga memiliki lapo tuak. "Awalnya ibu saya menolak, tapi anak itu memaksa dengan alasan ingin membeli nasi, belum makan." ceritanya.

Ibundanya akhirnya membeli sepatu tersebut sekaligus menolong si penjualnya. Namun Rabu (12/9/2018) Angelita tiba-tiba dibangunkan oleh seorang pekerja lapo milik ibunya.

"Saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya, saya masih tidur di kamar, pekerja di sini membangunkan saya, dan mengatakan “Kak, mama di arak-arak sama orang kampung sini. Gara-gara mama beli sepatu dari si Basir”.

Angelita pun langsung bergegas keluar rumah untuk mencari sang ibu. Ketika dia sampai di lokasi dirinya harus melihat kondisi ibu yang sudah terikat di sebuah pohon.

Melihat kondisi ibunya diikat layaknya seperti binatang, hanya menggunakan baju dalam dikalungkan karton dikalungkan sepatu yang dia beli, membuat Angelita semakin pilu.  "Hati saya sebagai seorang anak sangat teriris," katanya sambil menangis.

Tak hanya itu, Angelita yang hendak menolong ibunya pun ikut menjadi korban kekerasan seorang pria berinisial MP yang disebut sebagai ketua sebuah ormas.

Menurut pengakuannya, MP memukulnya sebanyak dua kali di bagian wajah setelah Angelita berkata bahwa pria itu tidak berhak menghakimi ibunya. Angelita yang hendak membalas pun malah justru ditahan oleh warga hingga terjerembab ke tanah.  “Lalu saya ingin maju lagi, tetapi masyarakat memegang saya. Kemudian mama saya diarak-arak lagi sampai di lapangan bola samping rumah saya," cerita Angelita yang diketahui adalah seorang anak yatim yang tinggal hanya berdua dengan ibunya.

Kesadisan  warga di sekitar daerah tempat tinggalnya pun tak selesai sampai di situ. Setelah diarak, warga memberi dua pilihan kepada ibu dan anak itu; mereka angkat kaki dari wilayah itu atau jika tidak warga akan menghancurkan kedai tuak mereka. Sebelum ada jawaban, kenyataannya kedai tuak milik sang ibu pun tetap diporak-porandakan. Selain itu, menurut Angelita, warga juga mengambil paksa dua sepeda motor dari rumahnya dan menuduh bahwa motor itu juga adalah barang curian.

Angelita pun telah melapor ke Polrestabes Medan dan  ke rumah sakit untuk visum. Dia mengatakan, dirinya dan ibunya bukanlah orang yang sempurna, namun dia berharap mendapatkan keadilan. Dia pun meminta tolong kepada warganet, lembaga bantuan hukum (LBH), dan para jurnalis untuk menolongnya dan ibunya yang menurutnya telah menjadi korban persekusi.

"Hari ini saya sebagai warga indonesia menanyakan dimana kedilan itu.. saya hanya anak dari keluarga tidak mampu yang dianiaya.. ke mana masyarakat Indonesia yang cinta kedamaian." tanyanya.

"Lihat si pemilik mobil putih yg menganggarkan harta dan premanismenya menganiaya seorang anak gadis yang hanya ingin membela ibunya. Bagaimana mereka yang memakan uang rakyat ?"  "Lalu apa bedanya kami yang justru melakukan sebuah kekeliruan kecil yang dibesar-besarkan dan ditambah fitnah."

"Saya harap buat saudara semua yang melihat postingan saya, meluangkan waktu untuk menshare kisah seorang anak yang ingin menyelamatkan ibunya," kata Angelita. Tentunya dia juga berharap aparat penegak hukum bertindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Memberi keadilan bagi yang dizolimi/kriminalisasi dan menghukum yang bersalah sesuai dengan perbuatannya.

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH