logo

Sukses Asian Games 2018 Menuju Olimpiade 2032

Sukses Asian Games 2018 Menuju Olimpiade 2032

11 September 2018 23:15 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Atal S Depari

Optimisme tinggi merasuki Indonesia. Sukses sebagai penyelenggara dengan prestasi dan prasarana yang mengesankan pada Asian Games XVIII-2018, Indonesia berencana akan terus berjuang dengan motto citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat). Langkah besar pun dicanangkan dengan merintis peluang jadi tuan rumah olimpiade 2032. Mampukah Indonesia mewujudkan tekad besar itu?

Asian Games XVIII di Jakarta, Palembang, Sumatera Selatan dan di beberapa kota daerah Jawa Barat dan Banten, 18 Agustus – 2 September lalu, memperlihatkan Indonesia punya modal kuat menjadi tuan rumah bergengsi multievent olimpiade. Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach dan Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Skeikh Ahmad Fahad Al-Sabah mengungkapkan peluang Indonesia itu.

Usai menghadiri  puncak acara penutupan Asian Games XVIII di Gelora Bung Karno (GBK), Bach menilai Indonesia telah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi tuan rumah olimpiade. Bach terkesan menyaksikan kombinasi yang hebat antara keramahan dan efisiensi sebagai tujuan olimpiade selama Asian Games berlangsung. Sedangkan Fahad Al-Sabah secara khusus menitipkan pesan kepada Bach tentang keinginan Indonesia menjadi tuan rumah olimpiade 2032 pantas mendapat dukungan.

Klaim Indonesia atas raihan prestasi sebagai tuan rumah Asian Games XVIII dan pujian dari petinggi olahraga multievent dunia dan Asia itu memang bukanlah tanpa alasan. Indonesia mendapat kepercayaan OCA sejak pagelaran upacara pembukaan. Di sana terpancar kemegahan kolosal dari panggung spektakuler dengan berat 600 ton--terbesar yang pernah ada dalam sebuah upacara pembukaan sebuah event olahraga--, serta 6.000 atlet dan ofisial kontingen negara peserta.

Pembukaan Asian Games sarat aneka pertunjukan spektakuler dengan menonjolkan dekorasi kekayaan alam Indonesia. Tarian kolosal kebudayaan Indonesia memancarkan warna-warni dalam permainan sinar light emitting diode (LED) yang memukau. Kembang api memancar ketakkjuban, mencerminkan jati diri  Indonesia siap dan mampu menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Acara ini sungguh menyihir masyarakat Indonesia dan menyita  perhatian besar masyarakat dunia sehingga sempat menjadi trending topik.

Banyak kalangan menilai upacara pembukaan Asian Games Jakarta-Palembang berkelas olimpiade.  Penonton berduyun-duyun menyaksikan acara ini dengan merogoh kocek untuk tiket seharga Rp750.000 sampai Rp5 juta, bahkan VIP Barat melonjak sampai Rp10 juta. Mereka memanfaatkan momentum itu sambil berselfie.   

Sebagai tuan rumah, Indonesia mampu menjamu dengan baik 15.000 peserta dari 45 negara. Tidak ada keluhan selama penyelenggaraan baik menyangkut fasilitas perkampungan atlet di Kemayoran, Jakarta dan Jakabaring, Palembang. Kemacetan lalu lintas yang semula sempat dikhawatirkan OCA juga berhasil dijawab dengan antar jemput atlet dari perkampungan ke tempat pertandingan selalu tepat waktu.

Keterlibatan 15.000 relawan juga mendapat pujian. Selain ramah dan murah senyum, anak-anak muda milenial itu lancar dalam berbahasa Inggris dan memandu atlet, ofisial, dan penonton ke tempat-tempat pertandingan.

Bidang pertandingan bebas dari keluhan. Semuanya berlangsung sesuai dengan standar internasional di tempat pertandingan yang terpusat di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta dan Jakabaring Sport Centre Palembang. Ditambah fasilitas yang representatif di JCC Senayan dan JIExpo Kemayoran sebagai tempat pertandingan juga menjadi nilai plus.

Pertandingan berlangsung tanpa insiden hujan protes. Ini mencerminkan Indonesia sebagai tuan rumah sukses menegakkan fair play. Sempat ada protes di arena pencak silat namun tidak berlanjut karena semua proses berjalan sesuai dengan ketentuan.

Atlet Indonesia tampil luar biasa, merebut medali emas mulai dari hari pertama hingga dua hari jelang penutupan. Target yang semula merebut 16 emas untuk posisi 10 besar bukan hanya terpenuhi, tapi terlampaui dengan meraih 31 emas berada di posisi empat besar di bawah China, Jepang, dan Korea Selatan. Inilah capaian terbaik Indonesia sejak Indonesia mengikuti Asian Games di New Delhi, India tahun 1951. Termasuk melampaui raihan 21 emas (yang kemudian dikoreksi OCA menjadi 11 emas) pada saat menjadi tuan rumah Asian Games IV/1962.

Yang lebih menggembirakan, sukses penyelenggaraan dan penampilan heroik anak-anak bangsa itu telah mampu menyedot perhatian seluruh masyarakat di Tanah Air. Bukan saja aktif menyaksikan siaran langsung melalui layar kaca namun juga berbondong-bondong ke tempat pertandingan. Gairah masyarakat terbangun sejak acara pembukaan, saat pertandingan, dan acara penutupan.

Masyarakat rela antri untuk mendapatkan tiket masuk kompleks GBK. Mereka rela berjemur dengan tetap tenang antri panjang berjam-jam untuk mememasuki toko souvenir. Semua bersemangat mendukung tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Semua menyatu untuk Indonesia.

Olimpiade

Sukses luar biasa itu meningkatkan optimisme Indonesia untuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Indonesia sudah mempunyai modal kuat untuk itu, namun tentunya masih banyak hal yang perlu ditingkatkan. Terutama fasilitas harus lebih berstandar internasional. Selain itu kepedulian terhadap ramah lingkungan. Gerakan olimpiade sudah mencanangkan pelaksanaan olimpiade mulai 2024 di Paris harus ramah lingkungan. 

Percalonan tuan rumah Olimpiade 2032 berjumlah dimulai. Bidding baru akan dimulai setelah Olimpiade 2024. Namun Indonesia perlu segera menyiapkan proposal pencalonan dengan menyajikan keunggulannya. Proposal diajukan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ke IOC. Seleksi akan memakan waktu hampir dua tahun.

Pada tahap ini, pemohon harus memberikan jaminan akan mematuhi Piagam OIimpiade beserta aturan lain. Setelah kuisioner diisi, IOC akan membentuk anggota khusus untuk mengevaluasi kota yang diajukan. Jika evaluasi selesai, Dewan Ekskutif IOC akan melanjutkannya ke tahap kedua. Ada beberapa tahapan lagi sebelum calon tuan rumah menyampaikan presentasi di Sidang Umum IOC. 

IOC sangat ketat dalam menentukan pilihan tuan rumah olimpiade. Waktunya juga cukup panjang. Olimpiade 2020, sudah ditentukan berlangsung di Tokyo, Jepang. Berikutnya, Olimpiade 2024, bakal berlangsung di Paris, Prancis, dan Olimpiade 2028 di Los Angeles, AS.

Perjuangan Indonesia diperkirakan akan sangat berat. Indonesia harus bersaing dengan China yang sudah pernah menjadi tuan rumah, India dan juga negara dari Eropa.

Selain menghadapi lawan tangguh, Indonesia juga perlu membenahi beberapa tempat pertandingan tanpa mengandalkan Stadion Utama Senayan. Beberapa tempat pertandingan Asian Games XVIII ada yang masih perlu diperluas untuk menampung penonton. Jika perlu Indonesia membangun kompleks olahraga baru sebagai pendukung komplek GBK.

Memang, negara peserta olimpiade akan lebih banyak namun atlet yang berlaga tidak sebanyak Asian Games karena sudah ada babak kualifikasi. Jika pada Asian Games XVIII ada 15.000 peserta maka untuk olimpiade berkisar 11.000 atlet. 

Cabang olahraga dan nomor pertandingan juga lebih sedikit. Pada olimpiade terakhir di Rio de Janeiro, Brasil, 2016, diikuti 11.000 atlet untuk 28 cabang olahraga dengan 306 nomor pertandingan. Namun negara yang ambil bagian 205 negara.

Selain masalah pembenahan dalam fasilitas perkampungan atlet dan tempat pertandingan, Indonesia juga mulai berhitung biaya. Jumlah dana yang harus dikeluarkan bisa belipat dari biaya Asian Games XVIII yang mencapai Rp 30 triliun. Brasil ketika menjadi tuan rumah Olimpiade 2016 mengeluarkan dana sebesar 11,5 miliar dolar AS atau setara Rp 151,3 triliun. Bahkan dana ini kemudian membengkak hingga 20 miliar dolar AS.

Jalan menuju Olimpiade 2032 masih berliku. Optimisme yang muncul setelah Asian Games XVIII perlu didukung persiapan dan langkah berani yang matang dari pemerintah dan stakeholder olahraga Indonesia sehingga kelak mimpi Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 terwujud. ***

* Atal S Depari – Pemimpin Redaksi suarakarya.id, Ketua Bidang Daerah PWI Pusat dan mantan Ketua Siwo PWI Pusat dua periode.