logo

Saint Peterburg,  Kota Indah Dengan Himpitan Duka

Saint Peterburg, Kota Indah Dengan Himpitan Duka

10 Agustus 2018 16:30 WIB

SuaraKarya.id - Saint Peterburg, Kota Indah Dengan Himpitan Duka

Oleh Eka Sastra (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI) 

"Aku mencintaimu, buah karya Peter! Aku menyukai bentukmu yang sederhana dan simetris; Aliran Neva yang tenang dan anggun Di antara dermaga-dermaganya yang berbatu granit.” Aleksandr Sergeyevich Pushkin.

Peter yang Agung mungkin tidak pernah berpikir kalau benteng yang dibangunnya untuk menahan serangan balik Kerajaan Swedia kelak akan menjadi sebuah kota yang indah bahkan mampu menyihir dunia dan dijuluki kota terindah di dunia. Benteng yang terletak di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy yang kemudian menjadi akses satu-satunya bagi Kerajaan Rusia kelaut melalui Laut Baltik berkembang menjadi kota Saint Peterburg, kota dengan jutaan turis tiap tahunnya.

Tercatat 6 juta turis yang mengunjungi Saint Petersburg tahun lalu, lebih banyak dari jumlah penduduk Saint Peterburg sendiri. Berkeliling menikmati keindahan Kota Kanal melalui perahu, mirip Kota Venezia di Itali, “Venesia di Utara” begitu salah satu julukannya. Kelebihannya dari Venezia karena selain keindahan sungai dan kotanya, Saint Peterburg juga memiliki banyak keindahan lain, kota dengan ribuan taman dan museum yang indah, seperti museum hermitages yang dianggap museum tertua dan terlengkap di dunia dengan 3 juta koleksi benda seninya termasuk lukisan dari Leonardo Da Vinci, Rapahel, Rembrant dll.

Selain Hermitags yang merupakan istana musim dingin, ada Petrogaf atau istana musim panas yang sangat indah, dan beragam museum serta gedung cantik bersejarah di sekeliling kota serta keindahan alamnya. Ini yang membuat jutaan turis datang dan betah berlama lama di St Petersburg untuk melihat dari dekat keindahan kota terindah di dunia ini.

Semoga bukan cuma keindahan, tapi juga sejarah dan suka duka warga Saint Peterburg dapat terekam baik oleh memori turis.

Penulis menyimpulkan Saint Petersburg dengan tiga kata, pencerahan, duka nestapa dan keindahan. Tapi tentu saja memperbincangkan Saint Petersburg harus dimulai dari sosok Peter The Great, sang pendiri kota ini, bapak reformasi dan pencerahan Rusia yang dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh dunia dalam buku Michael H Hart, diurutan 88.

Peter The Great, Sang Pencerah Rusia Peter The Great adalah Tsar terakhir Rusia yang dilahirkan tanggal 9 Juni 1672 di Moskow, anak dari Tsar Alexander dari istri keduanya Natalia Narishkina. Peter menjadi Tsar pada usia 10 tahun tapi silih berganti pemberontakan dan perselisihan keluarga menjadikannya baru memegang penuh posisi sebagai Tsar pada usia 22 tahun.

Perselisihan keluarga, konflik kerajaan, perbudakan, kemiskinan serta keterbelakangan dan ortodoksi Rusia menjadi ranah yang membesarkan Peter. Karena itu, visi memajukan Rusia menjadi komitmen terbesarnya, apalagi dengan adanya kabar dari seberang tentang kemajuan Eropa Barat yang saat itu sedang meresapi makna renaissance, pencerahan, dan kemajuan. Semuanya menjadi cambuk bagi kelahiran visi besarnya untuk memajukan Rusia, setidaknya membuatnya setara dengan kerajaan di Barat yang lebih duluan melakukan modernisasi.

Kelak, Peter adalah Tsar pertama Rusia yang berkunjung ke Eropa Barat. Keinginannya untuk mengejar keteringgalan dari Eropa Barat pastilah karena berita dari para pelancong yang mampir ke Rusia, menceritakan tentang modernisasi yang sedang menghinggapi Eropa Barat saat itu, lepas dari abad kegelapan. Kerajaan di Eropa Barat saat itu juga telah mengembangkan ilmu kemaritiman dan melakukan ekspedisi keliling dunia untuk memiliki tanah jajahan di Selatan.

Hal inilah yang melahirkan tekad Peter The Great agar Rusia memiliki akses kelaut lepas, sebagai jembatan Rusia menuju dunia luas. Posisi Rusia saat itu hanyalah sebuah kerajaan kecil yang terbelakang, dikepung oleh kerajaan tetangga yang lebih besar dengan armada laut dan infantri darat yang kuat.

Di Selatan Rusia adalah Kerajaan Ottoman yang berpusat di Istambul (Konstantinopel) yang menguasai Laut Hitam dan di utara adalah kerajaan Swedia yang menguasai Laut Baltik dan Laut Kaspia sebelah selatan dikuasai oleh Kekaisaran Safawiyah.

Rencana awalnya adalah membangun koalisi kerajaan Eropa untuk menyerang Istanbul, mengembalikan kejayaan Konstantinopel yang direbut oleh Ottoman ditahun 1453. Jatuhnya Konstantinopel memutus jalur sutera dari Selatan ke Utara sehingga armada laut menjadi populer saat itu. Sayangnya, Rusia tidak memiliki akses ke laut. Perjalanan ke Eropa dengan menyamar dilakukannya dengan membawa sekitar 250 rombongan di tahun 1697. Tujuannya jelas, untuk membangun koalisi Eropa menyerang Ottoman agar Rusia memiliki akses laut melalui selatan yang dikuasai oleh Kerajaan Ottoman. Tapi sayangnya kunjungan ke Eropa tidak membuahkan hasil, Eropa saat itu banyak yang memiliki hubungan dagang dan politik dengan Ottoman ditambah lagi Eropa saat itu juga masih sibuk dengan konflik diantara sesama kerjaan Eropa.

Tapi di sisi lain dari kunjungan tersebut, makna terbesarnya adalah dihinggapinya Peter The Great dengan semangat pencerahan yang sebenarnya sudah berjalan sekian lama di Eropa Barat. Renaisance memberikan semangat baru atas kelahiran manusia yang selama ini terkungkung oleh doktrin gereja diabad pertengahan. Filsafat Cartesius yang bertumpu pada ratio, perkembangan sains dengan metode ilmiahnya dan perkembangan seni termasuk seni arsitektur yang dimulai dari Florence Itali sedang menghinggapi eropa saat itu. Eropa sedang merayakan pencerahan, lepas dari kegelapan abad pertengahan dengan doktrin gereja dan seni Gothic saat itu.

Gagal menciptakan koalisi untuk menyerang Kesultanan Ottoman, Peter The Great menghabiskan banyak waktu dengan mengunjungi kerajaan-kerajaan Eropa dan belajar sains, pemerintahan, ekonomi dan industri maritim. Di Inggris Peter belajar tata kota dan ekonomi, di Prancis belajar tentang birokrasi kerajaan dan ekonomi, di Italia belajar tentang seni dan arsitektur dan di Belanda belajar arsitektur tata kota, ekonomi, bahkan cara pembuatan kapal laut. Tak heran sebaliknya dari Eropa, beliau langsung membuat bendera kerajaan yang sama dengan Belanda merah putih biru, hanya saja bentuknya yang horisontal serta adopsi lagu kerajaan Inggris, God Save The Queen dalam bahasa Rusia sebagai lagu kerajaan Rusia. Molitva russkikh (The Prayer of Russians) pada tahun 1743 menjadi lagu kebangsaan Kerajaan Rusia, adopsi dari lagu kebangsaan Kerajaan Inggris Raya.

Peter the Great juga mengubah penanggalan Rusia mengikuti penanggalan Masehi, mengenakan pajak jenggot dan mewajibkan semua bangsawan menggunakan seragam kebangsawanan seperti kerajaan di Eropa Barat. Diantara semua itu, yang paling monumental adalah mewajibkan semua anak kecil, terutama anak bangsawan, anak tentara dan agamawan untuk belajar sains dasar, matematika dan geometri.

Inilah cikal bakal dari reformasi yang dilakukan oleh Kerajaan Rusia dalam upaya mengejar ketertinggalannya yang kelak melahirkan kelas terdidik Rusia. Reformasi birokrasi kerajaan dengan memperkuat posisi raja yang dikontrol oleh parliament serta pengakuan hak warga kerajaan walaupun terbatas menjadi salah satu warisan Peter The Great.

Di bidang ekonomi, Peter the Great memperkuat sistem perpajakan yang tersentralisasi dan perbaikan tata keuangan kerajaan. Di. bidang militer, perbaikan jenjang kepangkatan dan penciptaan armada laut yang baru pertama dalam sejarah Rusia. Pendeknya, Peter The Great melaksanakan reformasi besar-besaran kerajaan Rusia dan menjadikan dirinya Kaisar pertama Rusia. Karena itu, beliau digelari sebagai bapak reformasi Rusia. Rusia perlahan bergerak dari abad kegelapan menuju abad pencerahan, sekitar 100 tahun dibanding Eropa Barat.

Modernisasi ini kemudian yang semakin menguatkan visi lama Peter The Great untuk memiliki akses laut agar dapat menjalin hubungan dagang dengan negara lain. Karena ketidakmampuan berhadapan dengan Kerajaan Otooman yang menguasai Laut Hitam dengan balatentara yang sangat kuat waktu itu, akhirnya Peter The Great mengalihkan rencana serangan ke Kerajaan Swedia. Perang ini disebut Perang Utara Raya dimana Rusia bersekutu dengan Kerajaan Polandia. Targetnya adalah bagaimana Rusia memiliki akses ke laut Baltik. Karena itu, yang diserangnya pertama kali adalah wilayah Sungai Neva yang berhadapan dengan laut Baltik yang menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Swedia.

Berhasil merebut pesisir sungai Neva, Peter The Great membangun benteng pertahanan untuk menahan laju serangan balik kerajaan Swedia. Benteng tersebut dinamakan benteng Petropalovskaya, terkadang disebut Benteng Peter And Paul di sebuah Pulau Zayachi yang sering disebut Pulau Kelinci. Ini karena banyaknya kelinci yang berkeliaran di pulau tersebut.

Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kota Saint Petersburg, berawal dari benteng berkembang menjadi Kota nan indah. Butuh waktu lama mengakhiri peperangan dengan Kerajaan Swedia. Untungnya benteng tersebut terus bertahan sampai perjanjian perdamaian ditandatangani dan kemudian dikembangan oleh Peter The Great menjadi Kota Saint Petersburg yang kelak menjadi Ibu Kota Kota Kerajaan Rusia.

Saint Peterburg bisa dianggap sebagai simbol pencerahan. Sejarah mencatat kelahiran Saint Peterburg pada tanggal 27 Mei 1702, bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan Benteng Peter dan Paul di Pulau Zayachi. Kota yang bermula dari benteng ini kemudian diperbesar oleh Peter Yang Agung dimasa damai. Peter melarang pembangunan kota dan bangunan diluar benteng, menunggu masa damai dengan mengundang ahli tata kota dari Italia dan dari negara lain. Pesona pencerahan Eropa Barat yang ditemukan oleh Peter waktu berkunjung sebelumnya mengilhaminya untuk bertransisi dari keterbelakangan Moskow yang didominasi seni arsitektur Gothic dengan karakter Konstantinopel menuju seni arsitektur modern.

Saint Peterburg adalah simbol modernisasi Rusia. Karena itu ketika berkunjung ke Saint Peterburg, kita akan melihat keindahan kota Eropa Barat dengan sungainya dan bangunan modern tapi tetap diiringi semangat Rusia dibaliknya. Berbeda dengan bangunan Moskow yang besar, Saint Peterburg dipenuhi bangunan kecil nan artistik, seakan ingin menegaskan pesan keterbukaan Rusia. Posisinya sebagai simbol modernisasi Rusia diperkuat dengan dijadikannya Saint Peterburg sebagai Ibu Kota kerajaan Rusia pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918. Namanya pun berubah dari Saint Peterburg menjadi Petrograd (1914-1924) dan Leningrad (1924-1991) sampai akhirnya kembali menjadi Saint Peterburg sejak 1991 sampai sekarang. Bukan saja dari bangunan, salah satu aspek pencerahan dan keterbukaan dari Saint Peterburg adalah berkembangnya kota tersebut menjadi kota dagang yang dihuni oleh multi etnik. Etnik Rusia, Belarusia, negara Baltik, etnik pecahan Soviet dan etnik lain hidup bersama di kota ini membentuk kesan Saint Peterburg yang terbuka dan simbol pencerahan Rusia.

Nama Saint Petersburg sendiri sebenarnya adalah bahasa Jerman dari Saint Peter, santo pelindung Peter dan beberapa bangunan seperti Petrogaf adalah bahasa Belanda yang artinya balai besar. Semua ini menunjukkan semangat modernisasi dan keterbukaan Rusia. Pembangunan Saint Peterburg menjadi pencapaian visi dari Peter The Great tentang mengejar ketertinggalan dari Eropa Barat dan dimilikinya akses laut oleh Kerajaan Rusia melalui Laut Baltik. Melalui Saint Peterburg sebagai gerbang kerajaan, Peter The Great dan Kerajaan Rusia mengabarkan kemajuan Rusia dan kesejajarannya dengan Kerajaan Eropa lain yang lebih duluan mengarungi zaman pencerahan. Dan Peter meninggal dengan kejayaannya, dimakamkan di Benteng Peter and Paul, cikal bakal kota Saint Peterburg pada tanggal 8 Februari 1725.

Tersenyum Indah melihat kota yang didirikannya menjadi kota terindah di dunia dan menjadi warisan budaya UNESCO dengan lautan pengunjung disetiap sudut kotanya. Duka Nestapa Saint Peterburg Sebuah kota tidak hanya identik dengan keindahan dan kedamaian tapi selalu ada duka menghinggapinya. Saint Petersburg juga mengalaminya.

Duka yang tak terperikan yang banyak diceritakan dalam puisi maupun film tentang derita warga Sant Petersburg. Karena kota ini menjadi gerbang Rusia, tentu saja banyak upaya untuk merebutnya, apalagi semenjak menjadi Ibu Kota kerajaan Rusia, banyak serangan bahkan pengepungan yang diderita kota ini. Serangan dari Swedia yang ingin merebut kembali tanahnya dalam Perang Utara Raya, serangan Polandia, Napoleon Bonaparte sampai pengepungan oleh tentara Nazi diperang dunia kedua. Untungnya Saint Peterburg tetap bertahan melalui kegigihan warganya dibantu oleh ekstrimnya musim dingin Saint Peterburg. Saint Peterburg juga menjadi saksi revolusi Rusia, Revolusi Februari dan Revolusi Oktober 1917 yang menggulingkan Tsar terakhir Rusia Tsar Nikolas II Russia yang lebih dikenal sebagai Revolusi Bolshevik dipimpin oleh Vladimir Lenin yang menjadi titik awal Komunisme di Rusia.

Ada cerita nestapa dalam revolusi ini, ketika seluruh keluarga Tsar Nikolas II yang dipenjara saat itu dikumpulkan untuk foto keluarga dalam sebuah ruangan, tapi ternyata mereka diberondong dengan senapan ketika sedang berpose. Pembantaian yang sangat sedih, tapi kalau ditanyakan mana yang paling mengguratkan duka yang dalam?

Penulis dan mungkin banyak orang akan menyebut pengepungan Nazi adalah yang paling memilukan. Sekitar satu juta orang tewas bahkan ada yang menyebutkan lebih akibat perang Rusia dan Nazi waktu itu. Saint Petersburg sempat dikepung selama 882 hari, dari 8 September 1941 hingga 8 Januari 1944. Inilah pengepungan paling besar dan paling berdarah sepanjang sejarah. Karena itu, kota Saint Peterburg dijuluki sebagai Kota Pahlawan oleh Josef Stalin. Tentara Nazi dibantu Finlandia mengepung kota St Peterburg dan memutus semua jalur pasokan makanan, meninggalkan warga Saint Peterburg dalam kedinginan dan kelaparan. Sebagian besar warga yang meninggal akibat kelaparan akut ditengah musin dingin yang ekstrim, bukan karena bidikan senapan. Sejarawan Michael Walzer menyebutkan bahwa pengepungan Saint Peterburg membunuh lebih banyak korban dari total seluruh korban dari pengeboman Hamburg, Dresden, Hiroshima dan Nagasaki. Korban-korban berjatuhan karena kedinginan, kelaparan dan wabah penyakit yang menyebar. Tapi dengan semangat patriotik, tentara Merah Rusia dan warga Saint Peterburg bertahan sampai akhirnya pengepungan tersebut berakhir.

Impian Hitler untuk merayakan kemenangan pengepungan sambil minum champagne di Hotel Astoria berhasil digagalkan walaupun menelan jutaan korban warga Saint Peterburg. Kota itu hancur lebur, diserang disemua lini, dikepung semua wilayah, diserang dari darat dan udara. Hampir setengah warganya meninggal dan sisanya dievakuasi meninggalkan kota Saint Peterburg. Sebuah bencana kemanusiaan yang semoga tidak terulang kembali tapi masih terekam jelas dalam memori dunia. Seni dan Keindahan Dengan sejarah yang begitu dalam mengiringinya, sejak pendiriannya, revolusi Oktober sampai pengepungannya, Saint Peterburg tetap rendah hati dan ramah menyambut tamunya.

Dengan segala duka yang dideritanya, eksekusi berondongan senapan kepada Tsar Nicolas dengan keluarganya saat foto keluarga sampai pengepungan Saint Petersburg yang menelan korban jutaan jiwa, Saint Peterburg tetap ramah dan tersenyum menyambut tamunya. Hal itu yang dirasakan oleh siapapun yang berkunjung. Duka dan pahit getirnya sejarah Saint Peterburg tidak membuatnya menutup diri. Kegigihan warganya dalam mempertahankan kota tercintanya walaupun diterpa kedinginan, kelaparan dan sakit menjadi semangat untuk bangkit kembali. Hampir seluruh kota porak- poranda alibat bombardir serangan tidak menyurutkan semangat warga dalam membangunnya.

"Kota kami mungkin hancur lebur tapi cinta dan semangat kami tidak pernah hancur. Kami tetap bangkit kembali." Begitulah, mungkin semboyan warga Saint Peterburg yang bisa dirangkum penulis. Perlahan-lahan mereka membangun kotanya, mengundang kembali keluarganya yang tercerai berai akibat revolusi dan pengepungan.

"Dan sampailah kita sekarang di tepi Sungai Neva, memandang keindahan Kota Saint Petersburg dimusim panas. Bangunan indah terlihat mengepung mata, perahu kecil yang mengitari kota dan semburat mentari keemasan nan indah. Warganya menyapa dengan ramah, mengucapkan bahasa Inggris yang bercampur baur dengan bahasa Rusia dan bahasa isyarat. Semua menyadarkanku."

Penulis sedang menikmati dan menulis kembali dalam bentuk tulisan kita terindah di dunia, kota yang bangkit dari pahit getirnya kehidupan, sedih tapi tetap ramah dan terbuka.