logo

Bersama Mencari Harta Untuk Kemudian Diperebutkan Di Pengadilan

Bersama Mencari Harta Untuk Kemudian Diperebutkan Di Pengadilan

Sonya berpose dengan pria lain
09 Agustus 2018 18:26 WIB

Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Bersama-sama mencari kekayaan sampai akhirnya pasangan suami istri itu menjadi miliader. Namun harta berlimpah itu agaknya bukan jaminan kerukukan dan kebahagiaan dua insan tersebut dalam mengarungi perjalanan rumah tangganya.

Begitulah agaknya yang terjadi dalam kekeluargaan Sonya Shankardas Samtani dengan Vimal Indru Kumas Mukhi. Akhirnya terjadi perceraian kemudian rebutan harta gono-gini bos Mega Kreasi Fim (MKF/Sonya Shankardas Samtani) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Meski tidak direncanakan sama sekali, perceraian dan persiteruan mereka terkait harta gono-gini seperti terjadi dalam kisah-kisah sinetron yang mereka produksi. Kini Vimal Indru Kumar Mukhi telah menjadi mantan (suami/tergugat), sementara Sonya juga mantan istri sebagai penggugat.

Pernikahan keduanya berakhir dengan perceraian sesuai dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat No 138/Pdt. G/2017/PN.Jkt.Pst.Brt tertanggal 25 Oktober 2017. Meskipun keduanya tidak pernah membuat perjanjian pembagian harta bersama sebelum dan sesudah pernikahan, sudah hukumnya bahwa seluruh harta bersama harus dibagi dua antara kedua pihak seperti yang tertulis dalam ketentuan Pasal 37 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 128 KUHPerdata dan Yurisprudensi MARI No. 424 K/Sip/1959 berbunyi: “apabila antara suami istri berakhir karena perceraian, maka seluruh Harta Bersama harus dibagi 2 antara penggugat dan tergugat”.

Sonya dinikahi Vimal secara agama Hindu pada 16 Agustus 1992 yang disahkan oleh Pegawai Pembantu Catatan Sipil Bidang Agama Hindu, bernama Gde Ketut Djelantik, BA dan tercatat pada Dinas Kependudukan/Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada 16 Januari 2009. Perkawinan keduanya pun dinyatakan sah menurut hukum sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. yang berbunyi : “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing masing agamanya dan kepercayaan itu”.

Dalam 25 tahun perkawinannya, Sonya dan Vimal dikarunia dua orang anak bernama Akhil dan Azarya. Mereka juga  memperoleh harta kekayaan bersama, yang dalam kasus ini diklaim Sonya sebanyak delapan aset dimana lima di antaranya sudah dijadikan jaminan ke Maybank oleh PT Sai Tech (ST). Kedelapan aset tersebut yakni satu (1) unit mobil BMW tipe 730i tahun 2015 warna coklat metalik a/n Vimal Kumar Indru Mukhi, satu (1) unit mobil Toyota Fortuner 2.4 tahun 2016 warna coklat tua metalik a/n Sonya Shankardas Samtani dan satu (1) unit apartemen The Peak Sudirman seluas 407 meter persegi a/n Vimal Kumar Indru Mukhi.

Berikutnya satu (1) unit apartemen Mitra Oasis a/n Sonya Shankardas Samtani, satu (1) unit ruang kantor di Wisma Eka Jaya lantai 6 suite nomor 6 a/n Sonya Shankardas Samtani dan satu (1) unit ruang kantor di Wisma Eka Jaya lantai 6 suite nomor 7 a/n Vimal Kumar Indru Mukhi. Juga terdapat sebuah ruko di Mangga Dua Square a/n Sonya Shankardas Samtani dan sebuah toko di Mangga Dua Mall a/n Sonya Shankardas Samtani.

Versi Vimal berbeda dengan Sonya. Lelaki itu berpendapat bahwa harta milik bersama antara dirinya dengan Sonya berjumlah 13 aset dan bukan 8. Lima aset lain yang tidak disebutkan oleh pihak Sonya adalah tanah dan bangunan dengan total luas 3.037 meter persegi di Jl. H. Basir, Pondok Kacang, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Juga sebidang tanah dan bangunan di Jl. Lebak Bulus II No. 6A, RT 04/RW 04, Cilandak, Jakarta Selatan, saham pada PT MKF sebanyak 150 lembar serta sejumlah dana yang ditempatkan pada beberapa bank baik di dalam maupun luar negeri. Ada lagi satu  unit kamar di Nirvana Apartement, Jakarta Selatan.

"Sonya  tipikal isteri yang tidak mau terbuka dan jujur soal harta gono-gini. Dia masih mencoba melakukan rekayasa dokumen,” ujar Vimal di Jakarta, Kamis (9/8/2018). Ketika berusaha dikonfirmasi soal tudingan ini, Sonya tidak mau menanggapinya.

Menurut Vimal, sejak 2008 sampai dengan 2017 justru Sonya sebagai Direktur PT ST yang lebih dahulu mengajukan pinjaman kredit ke  Maybank dengan menandatangani Perjanjian Kredit dengan menjaminkan sejumlah aset. Namun kemudian diketahui  kredit tersebut macet bahkan PT ST memiliki tunggakan pajak sebesar Rp1,4 miliar.

Penggugat Sonya sebelumnya mengatakan bahwa semua pinjaman ke Maybank  justru untuk keperluan Vimal. Namun hal itu dibantah Vimal. Fakta hukum juga menunjukkan  Vimal justru bertanggung jawab membiayai kebutuhan keluarganya selama ini sebelum bercerai.  Bahkan dirinya sampai harus membayar cicilan kartu kredit hingga puluhan juta tiap bulannya, belum lagi ketika anaknya melanjutkan study di luar negeri yang mengharuskan Vimal membayar biaya sebesar Rp400 juta. 

"Saya menjadi Direktur PT ST menggantikan posisi Sonya hanya sebentar, pada 1 Juni 2016. Belakangan baru saya ketahui jika Sonya sudah memperpanjang PK-nya dengan  Maybank hingga 2017. Saya menjadi memikul beban PK-nya Sonya termasuk setelah kami bercerai," tutur Vimal.

Atas berbagai upaya yang dilakukan penggugat (Sonya), Vimal berharap majelis hakim cermat dalam mempertimbangkan perkaranya sehingga dirinya (Vimal) tidak sampai merasa dirugikan dan putusan majelis hakim PN Jakarta Pusat tersebut nantinya dapat memenuhi rasa keadilan mereka berdua.

 

Editor : Silli Melanovi