logo

Kemenperin-UNDP Bersinergi Tekan Sampah Plastik

Kemenperin-UNDP Bersinergi Tekan Sampah Plastik

Limbah plastik. (ist)
24 Juni 2018 21:07 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Perindustrian bersama Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Program Pembangunan (United Nations Development Programme/UNDP) mengajak seluruh pihak di Indonesia bersinergi mengurangi sampah plastik.

UNDP memperkirakan 13 juta ton sampah plastik terbuang ke lautan dan berdampak mencemati lingkungan hidup di seluruh dunia setiap tahunnya.

“Oleh karena itu, penanganan sampah plastik ini merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, swasta, dan masyarakat,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Minggu (24/6/2018).

Menurut Ngakan, menekan sampah plastik secara garis besar dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu meminimalisir penggunaan produk berbahan plastik sekali pakai, menggunakan material alternatif yang lebih mudah terurai, dan melakukan daur ulang sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomi. 

Guna mengurangi sampah kantong plastik, penggunaan plastik urai hayati (biodegradable plastic) bisa menjadi salah satu solusi. "Namun itu belum begitu popular di kalangan non-retail, karena harganya dianggap masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan plastik konvensional,” ucapnya.

Tidak hanya teknologi biodegradable plastik saja yang menjanjikan perubahan pola konsumsi plastik di masyarakat. Kemasan siap makan (edible coating) mulai berkembang digunakan.

Kemasan tersebut sifat materialnya seperti plastik dan berfungsi seperti plastik yang lazim digunakan pada industri makanan. Namun bahan edible coating ini biasanya dari material nabati seperti tapioka yang dipastikan lebih ramah lingkungan, dan tentunya bisa dimakan (edible). 

Ngakan meyakini bahwa akan lebih banyak teknologi di masa depan yang dapat membantu memecahkan masalah plastik. Namun,! memasukkan plastik ke dalam circular economy merupakan salah satu solusi tercepat saat ini. 

“Contoh sederhana peran masyarakat dalam circular economy tersebut adalah dengan membawa kemasan sisa produk atau produk yang tidak terpakai ke dalam collecting point,” katanya.

Ngakan menyebutkan, salah satu merek kosmetika ternama bahkan memberikan reward berupa poin kepada konsumen yang mengembalikan kemasan kosmetik bekas pakai. Poin tersebut bisa ditukarkan dalam rupiah dan bisa dibelanjakan kembali untuk produk-produk dari merk tersebut.

Inisiasi lainnya adalah pengurangan sedotan plastik yang sedang digalakkan franchise restoran cepat saji terkenal di Indonesia. Gerakan tersebut malah menciptakan peluang baru, yakni pembuatan sedotan yang bisa dipakai berkali-kali, yang ternyata juga melahirkan kreativitas. “Sekarang sudah ada yang menjual sedotan berbahan logam atau bamboo, bahkan desainnya banyak yang unik,” ucap Ngakan. ***