logo

Keturunan Op Tahioloan Pasaribu Tolak Pembangunan Patung Tuhan Yesus

Keturunan Op Tahioloan Pasaribu Tolak Pembangunan Patung Tuhan Yesus

demo tolak pembangunan Patung Tuhan Yesus
22 Juni 2018 19:32 WIB

Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - SAMOSIR: Sejumlah keturunan (pomparan) Op Tahioloan Pasaribu di Desa Janjimartahan,  Kecamatan Harian,  Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dan yang diperantauan Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Tangerang, Bali serta Medan  menolak  pembangunan Patung Tuhan Yesus di Sibea-bea, Simussung-mussung sampai Sibara-bara di Desa  Janjimartahan.

Pasalnya,  lahan lokasi Patung Tuhan Yesus seluas 15 hektare tersebut  diduga diambilalih Yayasan Jadilah Terang Danau Toba (JTDT)  sebagai pelaksana pembangunan Patung Tuhan Yesus secara melawan hukum.

Keturunan Op Tahioloan Pasaribu yang diperkirakan mencapai  ribuan orang, belum pernah bermusyawarah secara langsung dengan JTDT untuk penyerahan tanah ulayat atau adat tersebut. Tiba-tiba saja kawasan perbukitan itu dikuasai JTDT dengan dalih telah diserahkan segelintir orang. Itu pun ada di antara  mereka mengaku dijebak. 

Salah seorang ahli waris atau keturunan Op Tahioloan,  Sahril Pasaribu menyatakan sudah pernah  melakukan upaya untuk merebut kembali tanah warisan leluhurnya itu. Antara lain menutup jalan masuk ke kawasan perbukitan itu dengan kawat berduri. Mereka juga mengadu sekaligus meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir agar tidak menerbitkan perizinan di lokasi yang dipersengketakan dengan JTDT.

Selain itu, pomparan Op Tahioloan  juga melancarkan demo penolakan pembangunan Patung Tuhan Yesus pada Minggu (17/6/2018) bersamaan dengan peletakan batu pertama. "Kami keturunan Op Tahioloan telah diadu domba terkait punguasaan lahan warisan kami. Setahu kami,  yayasan JTDT tidak pernah bermusyawarah dengan kami sebagai ahli waris terkait tanah tersebut,  tapi JTDT mengesankan seolah tanah kami telah diserahkan. Padahal, kalau ada penyerahan, itu dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung, " ujar Sahril di Desa Janjimartahan, Jumat (22/6/2018).

Usman Pasaribu yang juga pomparan  Op Tahioloan menambahkan, JTDT telah  mencoba membenturkan warga Desa Janjimartahan (sesama pomparan Op Tahioloan) dengan warga desa tetangga Kecamatan Harian. JTDT mengesankan bahwa pemilik tanah ulayat adat Marga Pasaribu itu  seolah warga desa tetangga di Kecamatan Harian.

Caranya dengan membuat berita acara penyerahan kuasa dari Kepala Desa Janjimartahan Patam Pasaribu kepada Ketua Pembina Yayasan Jadilah Terang Danau Toba Sudung Situmorang SH MH. Penyerahan pada Oktober 2017 itu disebutkan dihadiri Uspika Harian di antaranya Kepala Desa Janjimartahan, Kepala Desa Turpuk Sihotang, Kepala Desa Turpuk Sagala, Kepala Desa Turpuk Malau, Kepala Desa Turpuk Limbong, Kepala Desa Sosordolok dan rajabius/tokoh masyarakat. Padahal, lahan tersebut adalah ulayat/adat Marga Pasaribu Janjimartahan dalam hal ini warisan keturunan Op Tahioloan.

Pengurus Yayasan JTDT yang beralamat di Jalan Insfeksi Saluran Kalimalang, Kelurahan Pondok Kelapa Duren Sawit, Jakarta Timur,  yang berusaha dihubungi tidak berhasil. ***

 

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH