logo

Kemiskinan Keluarga Mohammad Soleh Belum Tersentuh Program Beri Ramadhan Terbaik ACT

Kemiskinan Keluarga Mohammad Soleh Belum Tersentuh Program Beri Ramadhan Terbaik ACT

Kakek Mohammad Soleh menjajakan es krim di Jakarta
12 Juni 2018 06:53 WIB

Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Trenyuh melihat kakek-kakek tiap hari harus "banting tulang", berjalan kaki puluhan kilometer untuk menjajakan es krim dari rumah ke rumah warga.

Pendapatannya yang sangat minim, membuat keluarga Mohammad Soleh (66) yang tinggal di kontrakan rumah petak Gang F No 15 RT 12 RW 06 Kelurahan Karanganyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, terpaksa berhemat makan.

Di Ibu Kota yang banyak dihuni orang kaya ‘tajir melintir’, namun masih ada ribuan orang ‘melarat sekarat’ sangat miskin yang terabaikan dari jaring pengaman sosial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Fakta ini diakui Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan saat meluncurkan Program Buka Puasa Bersama Jakarta Bahagia sinergi antara Premprov DKI dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada awal Rhamadhan 1439 hijriah lalu. Bahwa di Jakarta masih ada kemiskinan ekestrim, masih ada ketimbangan yang sangat dalam antara si kaya dan si miskin.

Melihat sosok kakek Soleh yang selama puluhan tahun hanya makan nasi sekali atau dua kali setiap harinya, menunjukkan ketimpangan sosial yang sangat parah di tengah gemerlapnya kemewahan kota Jakarta.

“Yaaah, beginilah hidup keluarga saya yang tiap hari hanya makan sekali atau dua kali. Beda kalau orang kaya, sehari makannya minimal tiga kali. Ada satu keluarga makan di restoran bisa ratusan ribu rupiah hanya sekali makan, ” tutur Soleh ditemui Suarakarya.Id di gang sempit bilangan Jalan Angkasa II, Jakarta Pusat, Minggu (10/6/2018).

Selama puluhan tahun sebagai pedagang es krim, ia hampir setiap hari keliling menjajakan dagangan di Komplek Angkasa Pura, Kelurahan Gunung Sahari Utara dan sekitarnya yang jaraknya cukup jauh jika diukur dengan jalan kaki.

Selain jumlah makan yang kurang, lauknya pun cuma tahu, tempe atau paling banter telur ayam. “Kami tidak pernah makan tiga kali sehari, karena ndak punya uang,” ujar Soleh yang tiap hari dari pagi sampai jelang malam, berjalan kaki hingga berpuluh-puluh kilometer sambil berteriak ‘Es krim Woody!’

Menurutnya kalau lagi mujur, dagangannya ludes, maka dia dapat keuntungan sekitar Rp 75 ribu untuk dipakai kebutuhan hidup Soleh dan Rohyati (istri) serta anak semata wayang yakni pemuda pengangguran bernama M Ridwan.

Menjadi pedagang asongan es krim sejak 40 tahun lalu, Soleh mengaku keberuntungannya terpengaruh oleh cuaca.

“Kalau musim kemarau dagangan laris, tapi kalau sering hujan dagangan sepi. Berarti kami hanya makan sekali dalam sehari. Kalau lapar ya ditahan, lama-lama jadi biasa,” kata Soleh yang mengais rezeki dengan cara halal dan mulia.

Di tengah kemiskinannya yang mendera, kakek berperawakan kecil kurus ini tak mau menjadi tukang minta-minta. “Hidup susah ndak apa-apa, yang penting ndak jadi pengemis,” ucap lelaki renta yang tiap hari berjalan kaki sambil menggendong kotak es yang cukup berat.

Sebagai warga DKI, Soleh dan keluarga juga memiliki KTP DKI. Namun selama ini dia termasuk keluarga miskin yang tidak menikmati program sosial dari Pemprov DKI. Dia sangat berharap anaknya yang berusia 20 tahun dapat diterima sebagai pegawai harian lepas (PHL) Pemprov DKI agar kehidupannya lebih baik.

“Selama ini, hidup kami hanya tergantung pada jualan es krim,” tutur Soleh yang tiap bulan harus menyisihkan Rp 450 ribu buat bayar sewa kontrakan di rumah Pak Asep.

Sedang Soleh membeli dagangan dari pasar swalayan dengan modal sekitar Rp 250 ribu. “Jujur, saya sering ketakutan kalau dagangan sepi. Kami mau makan apa dan tinggal di mana," ucapnya.

“Dulu, saya ndak bisa bayar sewa kontrakan. Terpaksa sering tidur di emperan rumah orang,” ucap Soleh. Tiap hari dia menabung minimal Rp 10 ribu untuk bayar sewa rumah kontrakan.

Suarakarya.id berharap berita ini dibuat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan dengan tujuan untuk mengetuk hati nurani para dermawan. Alangkah baiknya di bulan suci ini, para dermawan mengunjungi rumahnya atau menemui di lokasi berjualan untuk memberikan bantuan.

Dari hari pertama hingga hari ke duapuluh bulan Ramadhan 1439 hijriah, Pemprov DKI dan ACT membagi paket makan buka bersama Jakarta Bahagia, namun tidak sampai kepada keluarga Soleh.

Editor : Yon Parjiyono