logo

Libatkan Masyarakat Dalam Menghapus Stunting

Libatkan Masyarakat Dalam Menghapus Stunting

09 Juni 2018 17:07 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Haryono Suyono

Beberapa bulan lalu, dalam persiapan peluncuran dana khusus untuk Padat Karya Tunai guna menjamin agar tingkat kemiskinan dan kasus stunting yang mencuat dewasa ini segera dapat diatasi, Menko PMK Puan Maharani, didampingi Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro, dan Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo menghadiri dan memberikan arahan kepada Bupati dan pejabat penting dari pusat dan dari seluruh Indonesia.

Secara khusus Menteri PMK menggarisbawahi dimulainya program Padat Karya Tunai yang diarahkan mengatasi masalah stunting atau anak balita cebol karena pertumbuhannya tidak normal, menjadi anak kerdil yang terbelakang. Menteri menyatakan bahwa stunting disebabkan anak balita kurang gizi, biasanya mulai saat di kandungan maupun terjadi setelah lahir, karena tidak mendapat masukan gizi yang baik dari air susu ibu yang tidak diberikan dengan baik, atau air susu ibu tidak bermutu,  karena orang tua tidak peduli atau orang tua miskin.

Kertelodoran orang tua itu sebagian karena salah orang tuanya sendiri yang tidak peduli, atau aparat pemerintah dalam memberikan pendidikan kepada rakyat banyak perlu disempurnakan. Salah satu sebab adalah karena ukuran keberhasilan program ialah daya serap anggaran, bukan apakah sebuah keluarga mendengar pesan dan melaksanakan pesan itu dengan baik.

Menurut pakar Pemberdayaan Keluarga Haryono Suyono yang semasa menjabat Kepala BKKBN membantu Departemen Kesehatan (DepKes) dengan program gizi di seluruh desa di Indonesia. Program penanganan kasus stunting ini perlu disampaikan melalui strategi tiga demensi, perluasan jangkauan, pembinaan, serta pembudayaan. Berbagai kalangan luas perlu dilibatkan, agar penanganan stunting menjadi sangat menonjol.

Akhirnya pesan penanggulangan stunting sampai kepada sasaran, yang dikepung oleh masyarakat luas yang sadar upaya penanggulangan. Serta, memberikan dorongan moral dan material menolong keluarga yang diperkirakan bakal menghasilkan anak stunting. Keluarga ini perlu “dikeroyok” agar melakukan upaya pencegahan dengan sungguh-sungguh.

Masyarakat bukan saja mengawasi melalui Posyandu tetapi memberikan bantuan. Agar keluarga tersebut “tunduk” pada berbagai langkah untuk mengatasi stunting. Salah satu contoh kecil, pada jaman Orde Baru Pak Harto, setiap tahun diadakan pemilihan bayi teladan secara nasional yang dimulai dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan akhirnya dipertandingkan untuk memilih juara nasional. Pada kesempatan jurara nasional terpilih bayi dari Irian Jaya, sekarang Papua, mengalahkan bayi dari desa dan kota lain yang maju.

Setelah ditelusuri ternyata dokter Puskesmasnya dengan masyaarkat luas melakukan pembinaan secara intensip kepada beberapa keluarga muda. Keluarga binaan yang hamil "dipaksa" mengikuti petunjuk dengan ketat dan diawasi oleh seluruh relawan Pusyandu di desanya secara ketat. Hasilnya menakjubkan, kehamilan berjalan sehat dan bayinya lahir dengan sehat, gizi ibunya baik, masukan gizi selama tumbuh kembangnya baik dan akhirnya menjadi juara nasional, biarpun bayi lain kebanyakan tumbuh sebagai bayi dengan gizi buruk.

Suatu strategi kemasyarakatan dengan partisipasi yang luas, bukan sekedar memberi dana kepada keluarga miskin semata. Lebih dari itu, masalah stunting bisa terjadi di mana saja, tetapi pada umumnya banyak terjadi di kawasan yang penduduknya miskin atau di daerah yang keluarga mudanya memiliki pekerjaan yang tidak memberikan penghasilan cukup. Sehingga keluarganya kebanyakan adalah keluarga prasejahtera atau keluarga sejahtera I. Namun, ada daerah-daerah tertentu yang kondisinya begitu buruk sehingga jumlah keluarga yang melahirkan anak stunting, anak yang tidak tumbuh nomal sangat tinggi.

Salah satu dari sahabat WA mengabarkan bahwa di NTB ada yang tingkat stunting di antara penduduk di desanya mencapai lebih dari 35 persen dari bayi yang dilahirkan. Bahkan, keadaan stunting itu seakan seperti keadaan yang wajar serta dianggap bukan masalah karena tetangganya dari waktu ke waktu juga melahirkan anak yang cebol, tidak tumbuh dengan baik. Sehingga, kejadian stunting dianggap sebagai bagian dari budaya yang secara turun menurun memang diwariskan kepada anak dan cucunya di daerah tersebut.

Bahkan, ada yang mengira ini semua merupakan kutukan kepada nenek moyang di masa lalu. Oleh karena itu, penggarapan stunting tidak boleh hanya dilakukan sebagai upaya pengentasan kemiskinan belaka, atau upaya kesehatan semata. Tapi, perlu ditonjolkan bahwa stunting bukan bagian dari budaya turun termurun suatu suku bangsa atau suatu bagian dari suatu wilayah tertentu. Stunting suatu keadaan yang bisa diubah, seperti halnya memiliki jumlah anak yang banyak.

Bisa diubah menjadi budaya baru. Sehingga, stunting perlu ditangani dari berbagai sudut dan tidak boleh diserahkan kepada petugas kesehatan semata, atau sebagai upaya salah satu sektor pembangunan. Namun, semua komponen masyarakat perlu diikutsertakan dan bekerja secara terpadu agar keluarga miskin paham, keluarga kaya dan mereka semua harus bekerja keras tanpa merasa dosa menghapuskan stunting, dalam jaringan budaya keluarga dan masyarakatnya.

Untuk itu, keluarga yang memotong sejarah panjang keluarganya yang memiliki anak stunting perlu ditonjolkan, diangkat kepermukaan, serta diberikan penghargaan dalam acara publik yang luas. Kalau diperlukan bisa dilakukan suatu upacara bersama, atau doa bersama disertai niat luhur. Untuk memotong mata rantai kutukan budaya dalam tatanan agama, yang berlaku tanpa ada rasa seperti jaman lama yang menghormati hantu. Tapi, doa yang luhur untuk membangun keluarga dan warga secara keseluruhan.

Pada saat yang sama perlu penjelasan sederhana tentang proses terjadinya stunting. Mulai saat persiapan pernikahan yang harus memenuhi syarat usia atau kesehatan kedua calon pengatin. Sesudah itu, perlu penjelasan secara sederhana proses kehamilan dan kesehatan, selama kehamilan dimana pasangan perlu rajin ke Posyandu untuk memeriksakan diri, minimum empat kali selama masa kehamilan. Setelah melahirkan, orangtua perlu rajin pergi ke Posyandu membawa bayinya, untuk pemeriksaan dan imunisasi. Belajar bagaimana memelihara kesehatan selama menyusui anak dan bagaimana kewajiban ayahnya. Untuk mengalah memberikan makanan yang sehat kepada istri yang sedang menyusui.

Bagian ritual yang disertai penjelasan modern ini perlu dikombinasikan kepada keluarga desa. Agar menjadi panutan yang membudaya. Kombinasi pendekatan masyarakat disertai pendekatan sosial budaya sangat diperlukan bagi masyarakat, yang di desa-desa yang belum maju masih mempercayai “kata orang tua” dan beberapa kepercayaan atas budaya lama yang membuat masyarakat pasrah dan tidak memiliki motivasi untuk maju.

Biarpun kelihatannya tidak masuk akal, tetapi kenyataannya kepercayaan itu membuat banyak kalangan yang secara diam-diam tidak mengambil langkah modern untuk memperbaiki dirinya. Pasalnya, merasa semua itu adalah takdir yang harus diterima dengan sabar tanpa rasa mengeluh, menerimanya sebagai bagian dari kesetiaan kepada nenek moyangnya. Semoga stunting bisa segera dapat diatasi.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Tim Pakar Mendes PDTT).

Editor : Dwi Putro Agus Asianto