logo

Miliki Multi Biokatalis, POH Mampu Mengurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Miliki Multi Biokatalis,  POH Mampu Mengurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Nara sumber diskusi LIPI. (foto, pnes)
22 Mei 2018 20:51 WIB

Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Penggunaan pupuk organik hayati (POH) mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia hingg 30 - 50 persen. Formula POH berbasis bahan atau substrat organik lokal yang mudah didapat. Bahan baku pupuk terdiri dari tauge, gula merah, molase, air kelapa muda, agar-agar, tepung jagung, serta tepung ikan.

Demikian dijelaskan, Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Sarjiya Antonius, pada acara Media Brie fing “POH LIPI untuk Penyediaan Bahan Pangan Bergizi dan Berkelanjutan”, di kantor Pusat LIPIJ akarta, Senin (21/5/2018).

Dikatakannya, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi pupuk organik hayati (POH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyasar berbagai wilayah di Indonesia. Teknologi produksi dan aplikasi POH, ujarnya, telah disosialisasikan, didesiminasikan, dan dipraktikan kepada sekitar 6.000 masyarakat petani di sekitar 70 pemerintah kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

"Produksi pupuk ini sendiri telah mencapai sejumlah 14.000 liter dengan potensi aplikasi kepada lahan seluas 600 hektar dalam satu musim," tutur dia.

Dikemukakannya, POH merupakan pupuk non axenic kultur Rizo-mikroba Pemacu Pertumbuhan Tanaman (RPPT) yang memiliki multi biokatalis, dalam menyediakan Nitrogen, Phosfat, Kalium (NPK), zat pengatur tumbuh, dan asam-asam organik yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi tanaman dan kesehatan tanah.

Manfaat utama POH LIPI adalah meningkatkan produksi pertanian secara signifikan. Lalu, tanaman yang menggunakan POH lebih tahan hama penyakit dan meningkatkan kualitas biokimia tanah pertanian.

Lebih lanjut diterangkannya, teknologi produksi dan aplikasi POH telah diadopsi secara resmi oleh Kabupaten Malinau, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Bangka, dan Kabupaten Sangihe. Selain itu, juga telah diproduksi secara rutin dan mandiri di berbagai kelompok tani dan praktisi di berbagai wilayah Indonesia lainnya.

Editor : Markon Piliang