logo

Unggah Teror Bom Surabaya Pengalihan Isu, Oknum Dosen USU Ditangkap Polisi 

Unggah Teror Bom Surabaya Pengalihan Isu, Oknum Dosen USU Ditangkap Polisi 

Foto ilustrasi. (Istimewa)
20 Mei 2018 22:33 WIB

Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Himma Dewiyana, dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Medan diciduk jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara. Perempuan berusia 46 tahun ini ditangkap polisi karena unggahannya di Facebook yang menyebut kalau tiga aksi teror bom yang terjadi di Surabaya hanyalah pengalihan isu. 

Tulisannya itu berbunyi “Skenario pengalihan yang sempurna #2019GantiPresiden.”

"Itu yang mem-posting di FB-nya bahwa bom yang meledak di gereja di Surabaya itu dibilang pengalihan isu," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumut, Ajun Komisaris Besar Polisi Tatan Dirsan Atmaja, Minggu (20/5/2018) seperti dilansir Viva.

Himma diciduk di kediamannya di Jalan Melinjo II, Komplek Johor Permai, Medan, Sabtu (19/5/2018) sore. Hingga kini Himma masih diperiksa intensif oleh aparat.

Polisi pun menyita beberapa barang bukti. Di antaranya satu unit telepon genggam dan simcard yang diduga digunakan saat membuat postingan-nya itu.

Akibat perbuatannya, Himma terancam Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 (UU No 11/2008) atau Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). 

Tatan menjelaskan, sebenarnya tak jadi masalah seandainya unggahan itu tidak dikaitkan dengan masalah teror bom di Surabaya, beberapa waktu lalu.

"Dia menyampaikan seperti itu. Tetap fokus pergantian presiden 2019. Sebenarnya kan memang ada pilpres (pada tahun 2019), cuma kaitan dengan masalah bom itu adalah palsu (skenario pengalihan isu) itu menciderai perasaan korban yang kehilangan keluarga. Bahwa itu memang terjadi kok dibilang pengalihan isu," katanya lagi. 
 
Oknum Kepala Sekolah

Sebelumnya Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat (Kalbar) menetapkan FSA sebagai tersangka penyalahgunaan Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Oknum Kepala Sekolah SMPN 9 dan PNS Kabupaten Kayong Utara, Kalbar ini telah mengunggah ujaran kebencian pada status Facebook-nya.

FSA telah membuat status di Facebook terkait peristiwa teror bom yang terjadi di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) lalu. Ia pun langsung ditahan polisi setelah ditetapkan tersangka ujaran kebencian oleh penyidik Polda Kalbar setelah melakukan gelar perkara dan memeriksa FSA.

Kepala sekolah ini dikenai Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Atas perbuatannya itu, FSA diancam hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp1 miliar.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo mengatakan, saat ini status FSA yang merupakan PNS di Kabupaten Kayong Utara. sudah resmi sebagai tersangka. "Kemarin sudah dilakukan pemeriksaan dan langsung kita naikkan statusnya sebagai tersangka," ujar Nanang, Kamis (17/5/2018).

Dipecat Dari Kepala SMPN

Kepala Dinas Pendidikan Kayong Utara, Romi Wijaya memastikan telah menerbitkan surat pemberhentian sementara terhadap FSA setelah pihaknya menerima dokumen surat penahanan dari kepolisian.

FSA selama ini diketahui mengemban tugas sebagai kepala sekolah di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Namun, jika FSA sudah diputuskan bersalah di pengadilan, maka Dinas Pendidikan Kayong Utara akan memberhentikan FSA secara definitif.

"Yang bersangkutan akan diberhentikan sementara karena (statusnya) baru tersangka, bukan terpidana," katanya, Rabu (16/5/2018). ***

Editor : Pudja Rukmana