logo

Setda Kota Bekasi Hamburkan Anggaran Daerah Belanja Meubelair

Setda Kota Bekasi Hamburkan Anggaran Daerah Belanja Meubelair

20 Mei 2018 17:30 WIB

Penulis : Muhamad Agung Elang Prakoso

SuaraKarya.id - BEKASI: Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dinilai melakukan pemborosan anggaran pajak rakyat, hal itu terbukti dengan adanya pembelian Meubelair setiap tahunnya.

Direktur (Center For Budget Analysis) Uchok Sky Khadafi mengatakan, tahun 2017  Setda kota Bekasi melakukan pengadaan Muebelair sebesar Rp.987.203.000 untuk 293 unit. Dan juga pengadaan Meubelair untuk kepala daerah sebesar Rp.200.000.000 untuk 86 unit.

"Tak puas dengan memborong meubelair sebanyak 379 unit muebelair dengan anggaran sebesar Rp.1.187.203.000 pada tahun 2017. Setda Kota Bekasi juga pada tahun 2018, memborong Meubelair paket I sebesar Rp.711.100.000 untuk 187 unit," tuturnya, dalam keterangan tertulis yang di terima suarakarya.id, Minggu (20/5/2018).

Tak hanya sampai disitu, Setda Kota Bekasi selain memborong Meubelair. Pada tahun 2017, sekretariat daerah juga mengalokasi anggaran untuk Pemeliharaan Meubelair sebesar Rp.166.030.000, dan pada tahun 2016 sebesar Rp.165.300.0001. 

"Kalau ada anggaran pemeliharaan untuk meubelair setiap tahun, seharusnya meubelair milik setda tidak ada yang rusak, dan tak usah lagi membeli meubelair yang baru," kata Uchox.

Kemudian dari gambaran diatas, CBA meminta agar aparat hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyelidik pengadaan atau "borongan" Meubelair setda Kota Bekasi tersebut.  

CBA meminta KPK menelusuri harga perunit Meubelair tersebut. Karena menurut data yang diterima oleh CBA harganya meubelair tersebut  memang berbeda beda. "Ada harga meubelair perunit sebesar Rp.3.3 juta perunit. Ada juga sebesar Rp.2.3 perunit, dan harga yang paling tinggi Perunit adalah sebesar 3.8 juta," tuturnya.

Maka dari itu, Uchok berpendapat agar KPK segera melakukan pemanggilan kepada sekretaris daerah Kota bekasi untuk diminta keterangan atas harga meubelair yang berbeda beda tersebut serta menjelaskan perihal perbedaan harga yang terlalu mencolok.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto