logo

Bulog Akan Fokus Pada Pengadaan Beras

Bulog Akan Fokus Pada Pengadaan Beras

16 Mei 2018 20:58 WIB

Penulis : Silli Melanovi

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi, menyatakan bahwa gudang Bulog yang tersebar di Indonesia, saat ini hanya berkapasitas sekitar  3,9 juta ton. Untuk mencapai  pasokan beras 1 juta ton sampai 1,5 juta ton,  diperlukan pasokan gabah sekitar 3 juta ton. 

"Karenanya dengan keterbatasan fasilitas,  maka Bulog  akan berfokus terhadap pengadaan beras. Gudang kami sebenarnya cukup asal petani memiliki pengering,” kata Andrianto, di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Menurut Andrianto, ketersediaan pengering akan membantu petani untuk menghasilkan produksi gabah yang berkualitas, sehingga dapat memotong rantai pasok tengkulak. Dengan begitu, petani tidak harus menjual hasil produksi kepada pengepul, karena gabah  bisa dijual ke Bulog. Kementerian Pertanian sudah menyediakan anggaran sebesar Rp1 triliun untuk 1.000 unit pengering yang dibagikan kepada Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan).

Dijelaskannya, satuan kerja Bulog bekerja sama dengan Gapoktan, sehingga bisa memasok gabah ke perusahaan pelat merah tersebut sesuai Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015. Selain itu, petani juga akan mendapat kredit dan modal kerja sehingga lebih mandiri.

Saat ini, stok beras di gudang Bulog tercatat  sebanyak 1,2 juta ton, yang mana sekitar 450 ribu ton terdiri dari beras impor dan pengadaan beras komersial kurang lebih 100 ribu ton. Sisanya, berasal dari pengadaan dalam negeri.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoeso sebelumnya menjelaskan kebijakan peningkatan fleksibilitas 20 persen pada 12 Februari 2018  diperkirakan telah memicu kenaikan harga gabah dan beras beberapa waktu lalu.

Kebijakan pemerintah memberlakukan fleksibilitas 20 persen pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP)  Bulog diduga menjadi penyebab tingginya harga gabah dan beras di tingkat produsen. Aturan peningkatan harga beli dari HPP gabah sebesar Rp3.700 per kilogram dan beras Rp 7.300 per kilogram telah menyebabkan psikologis pasar ikut terdorong. “Fleksibilitas  membentuk keseimbangan harga baru,” kata Soetarto.

Harga beli Bulog sebesar Rp8.760 per kilogram dinilai terlalu tinggi untuk bisa dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp9.450 per kilogram. Perbedaan harga sekitar Rp700 masih  pun menurutnya  terlalu minim, mengingat distribusi beras harus melewati rantai pasok pengepul dan distribusi ke penjualan retail.