logo

Abai Dengan Pembangunan

Abai Dengan Pembangunan

14 Mei 2018 09:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Bumi semakin tua dan renta sementara daya dukungnya terhadap pemenuhan kebutuhan manusia semakin terbatas akibat populasi penduduk yang semakin meningkat. Fakta ini tidak dapat dipungkiri dan karenanya pembangunan dan industrialisasi harus bisa selaras dengan kemampuan bumi.

Oleh karena itu sangat beralasan jika akhirnya muncul seruan dari berbagai elemen yang kemudian memperkuat argumen atas urgensi konsistensi dan komitmen terkait pembangunan berwawasan lingkungan. Selain itu aspek lain yang juga penting yaitu implementasi industrialisasi berwawasan lingkungan, termasuk juga saat ini kian berkembang kesadaran publik tentang proses produksi yang ramah lingkungan sehingga kebutuhan terhadap produk ramah lingkungan dan bisa di daur ulang menjadi semakin tinggi.

Dampak simultan tentang pentingnya pembangunan, industrialisasi, dan pemasaran yang ramah lingkungan, maka argumen Olijnyk (2007) dalam artikelnya berjudul: “Cleaner and greener” semakin memperkuat tentang pentingnya proses produksi dari hulu ke hilir yang ramah lingkungan sehingga memperkecil dampak bagi lingkungan. Jika diruntut ke belakang, konseptual tentang proses produksi yang ramah lingkungan telah berkembang di era 1990-an. Setidaknya, argumen Prothero (1990) dalam artikelnya berjudul: “Green consumerism and the societal marketing concept: Marketing strategies for the 1990s” menunjukan kesadaran publik atas itu semua. Trend ke depan terhadap konsumsi model ini diyakini akan terus berkembang sehingga daya dukung bumi akan bisa meningkat.

Dikotomi Kepentingan

Regulasi era global tentang pembangunan, industrialiasasi, termasuk kegiatan pemasaran yang ramah lingkungan memang haruslah diimplementasikan agar terjadi harmonisasi antara industrialisasi dan manajemen lingkungan. Terkait ini Tadajewski dan Tsukamoto (2006) pada artikelnya: ‘Anthropology and consumer research: Qualitative insights into green consumer behavior’menegaskan perlunya proses edukasi sehingga konsumen kian peduli terhadap lingkungan melalui permintaan produk global. Andai saja kampanye ini berhasil maka perusakan lingkungan akibat proses produksi dapat dicegah dan terjalin harmonisasi indutrialisasi dan manajemen lingkungan dapat terjaga baik. Artinya, isu ini bisa menjadi strategis di tahun politik, baik dalam pilkada serentak atau pilpres 2019.

Memang tidaklah mudah untuk mengimplementasikan pembangunan dan industrialisasi yang ramah lingkungan. Bahkan, era pembangunan perkotaan melalui rencana tata ruang juga banyak yang tidak konsisten karena perubahan berbagai kepentingan, utamanya dipengaruhi tekanan faktor ekonomi – bisnis. Paling tidak, ini terbukti adanya tuntutan ketersediaan pemukiman dan perumahan akibat jumlah penduduk alami dan laju migrasi yang terus meningkat di perkotaan. Akibatnya, ketersediaan ruang terbuka hijau semakin langka dan konsekuensinya daya serap air tanah menjadi semakin kurang, sementara di sisi lain, pembangunan perkantoran dan apartemen serta sentra-sentra bisnis menuntut ketersediaan air tanah dalam jumlah yang besar melalui penyedotan yang sistematis. Hal ini pada akhirnya memicu penyerapan air laut karena supply air tanah tidak sebanding dengan demand yang kemudian penyerapan air laut masuk di rongga-rongga tanah kota.

Penggerusan tanah akibat serapan air laut tersebut perlahan tapi pasti akhirnya memicu penurunan tanah karena beban jalan yang kian padat di perkotaan. Hasil penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum secara sistematis maka lalu lintas perkotaan mati. Prediksi ini didasarkan pertumbuhan kendaraan yang rata-rata per tahun 11% sedang pertumbuhan panjang jalan tidak mencapai 1%. Tercatat setiap hari ada ratusan pengajuan STNK baru yang berarti setiap hari penambahan jalan sepanjang 800 meter. Beban lalu lintas dan penggerusan tanah oleh air laut pada akhirnya semakin mempercepat penurunan tanah di perkotaan di seluruh Indonesia. Perkotaan juga tidak bisa mengelak dari ancaman ini.

Harmonisasi - Sinergi

Berkaca dari teoritis diatas, kasus amblesnya jalan R.E Martadinata di Jakarta beberapa waktu lalu berdampak signifikan bagi kegiatan ekonomi karena terhambatnya lalu lintas barang dari dan ke Tanjung Priok. Di satu sisi, ini menjadi warning tentang ancaman penurunan tanah di Jakarta antara 10-70 cm per tahun mengacu data Kelompok Geodesi ITB untuk rujukan pada kasus sampel di kawasan Cibubur, Kebayoran, Pantai Mutiara, Ancol, kawasan Besuki, Daan Mogot, kawasan Klender, Kelapa Gading, Pulogadung dan kawasan Cengkareng Barat. Di sisi lain, hipotesis tenggelamnya Jakarta akibat rob dan abrasi bisa jadi terbukti dan karenanya pemindahan ibukota Jakarta sangat rasional.

Andai saja pembangunan perkotaan di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya bisa selaras antara kepentingan sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan maka daya hidup kota dan daya dukung kota terhadap warganya tentu akan lebih baik. Dalam survey yang dilakukan Economist Inteligence Unit, kota ternikmat ditinggali (world's best place to live in) sebagian besar ada di Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Survey ini memakai 40 indikator yang berbeda dalam 5 katagori utama, yaitu stabilitas, perawatan kesehatan, budaya - lingkungan, pendidikan dan infrastruktur. Artinya belajar dari kasus amblesnya jalan R.E Martadinata beberapa waktu lalu dan ancaman tenggelamnya Jakarta maka wajar jika pemerintah dan dunia usaha perlu lebih memperhatikan konsep pembangunan dan industrialisasi yang berwawasan lingkungan agar terjadi harmonisasi dan sinergi. Hal ini sejalan dengan komitmen untuk menjaga keselarasan bumi yang semakin renta tergerus usia dan kepadatan penduduk. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo