logo

Kowani: Teror Bom Surabaya, Tragedi Kejahatan Kemanusiaan Yang Harus Ditumpas

Kowani: Teror Bom Surabaya, Tragedi Kejahatan Kemanusiaan Yang Harus Ditumpas

Ketua Umum Kowani, Dr Giwo Rubianto Wiyogo
14 Mei 2018 00:48 WIB

Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengecam keras tindakan keganasan teror bom yang menimpa tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi dan kemudian disusul bom di Rusunawa, Wonocolo Sidoarjo, Minggu malam (13/5/2018).

"Dua kejadian dalam satu hari ini merupakan tindakan yang tak bisa ditoleransi oleh semua agama dan keyakinan apa pun. Aksi teror ini sangat melukai nilai-nilai kemanusiaan yang universal,"ujar Ketua Umum Kowani, Dr Giwo Rubianto Wiyogo di Jakarta, Minggu (13/5/2018).

Kowani yang merupakan organisasi Federasi dengan anggota 91 organisasi perempuan tingkat pusat yang memiliki anggota lintas sektoral dan lintas agama (Islam, Kristen, Budha dan Hindu) dengan jumlah anggota sebanyak 60 juta menyampaikan keprihatinan dan duka yang amat dalam kepada korban dan keluarga korban bom Surabaya dan Sidoarjo yang menewaskan 14 orang dan puluhan lainnya terluka.

Giwo mengatakan terorisme merupakan kejahatan serius yang harus ditumpas secara kolektif oleh seluruh komponen bangsa hingga ke akar-akarnya mengingat tidak ada satu agama dan keyakinan apa pun yang mengajarkan paham-paham radikalisme dalam bentuk teror kepada sesama ciptaan Tuhan.

"Semua agama dan keyakinan yang kita peroleh selalu dan terus mengajarkan prinsip-prinsip kedamaian dan kebaikan antar manusia. Seluruh rakyat Indonesia, tentu sepakat bahwa terorisme tidak mempunyai tempat di bumi Indonesia karena telah melanggar esensi Hak Azasi Manusia (HAM)," jelasnya.

Menurut Giwo yang juga Ketum Aliansi Pita Putih menyebut bahwa gerakan terorisme atau radikalisme harus terus diwaspadai setiap anak bangsa karena mereka memiliki agenda terselubung yang bertujuan untuk memecah belah bangsa Indonesia.

"Masyarakat tak boleh cemas apalagi takut. Tak boleh gentar melawan terorisme. Kita semua harus bersatu untuk melawan terorisme. Semua agama mengajarkan kasih sayang dan tanpa kekerasan," katanya.

Sebagai Ibu Bangsa, Giwo mengingatkan agar seluruh perempuan harus aktif dalam meningkatkan kerukunan umat beragama dan tidak membawa isu SARA dalam setiap persoalan bangsa.

"Sudah saatnya kita aktif mencegah potensi terorisme serta meningkatkan ketahanan keluarga untuk meredam dan mencegah paham-paham radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI dalam mencapai Indonesia aman dan damai," katanya.

Mantan Ketua KPAI ini juga mengaku sangat prihatin atas aksi-aksi terorisme yang tidak bertanggung jawab yang melibatkan anak-anak dalam satu anggota keluarga ini. Fenomena aksi terorisme yang dilakukan oleh satu keluarga harus menjadi perhatian serius pemerintah dan DPR untuk cepat mengambil langkah-langkah taktis dan progresif agar aksi-aksi terorisme ini tidak terulang lagi***