logo

Profil Kompetensi Dosen Di Era Milenial

Profil Kompetensi Dosen Di Era Milenial

13 Mei 2018 17:01 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Jusuf Irianto

Sesuai tridharma perguruan tinggi (PT), seorang dosen harus mampu melaksanakan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, dan kegiatan penunjang lain. Oleh karena itu, dosen harus memiliki kompetensi berupa serangkaian pengetahuan untuk diajarkan, skill dan penguasaan metodologi riset dan publikasi, serta kemampuan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang dimiliki sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Kompetensi dosen diatur dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 (UU 14/2005) tentang Guru dan Dosen, di antaranya menyatakan bahwa dosen harus memiliki kualifikasi akademik ditandai dengan diraihnya sertifikat pendidik, serta memenuhi syarat sesuai ketentuan satuan pendidikan tinggi tempat penugasan. Dengan kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya, dosen merupakan sosok cerdas yang sangat diandalkan mencapai berbagai tujuan pendidikan nasional.

Profil kompetensi dosen secara riil ditunjukkan dengan kemampuan mengajar, trampil meneliti, dan konsisten mengabdi pada masyarakat. Selain itu, dosen harus mampu mempublikasikan karyanya terutama dari pengajaran dan hasil penelitian. Dari pengajaran misalnya, dosen harus menerbitkan sebuah buku teks (text book) atau buku ajar.

Seorang guru besar diwajibkan menerbitkan minimal sebuah buku dalam satu tahun. Dosen juga dituntut mempublikasikan hasil penelitian atau karya lainnya pada jurnal bereputasi. Untuk dapat diusulkan menjadi guru besar, seorang dosen harus memiliki tulisan ilmiah dengan kategori accepted dan/atau published alias mampu menembus jurnal internasional terindeks global. Dengan kompetensi dan kinerja tingkat internasional yang dicapai dosen, pemerintah berharap reputasi Indonesia dapat terangkat dari sisi keilmuan.

Ranking PT diupayakan semakin meningkat dan bahkan kian kompetitif terhadap berbagai PT kelas dunia (world class university) lain, karena para dosen gencar mempublikasikan karyanya di tingkat internasional. Keterlibatan akademisi dalam berbagai pertemuan ilmiah dunia diharapkan juga kian intensif, sehingga mampu membangun citra bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional.

Namun demikian, membangun citra bangsa Indonesia di mata warga dunia seraya berharap pada peran dan fungsi dosen bukanlah perkara semudah membalik telapak tangan. Para pejabat di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristedikti) mengeluhkan performa dosen belum optimal. Pola dan proses pembelajaran belum berubah sesuai kebutuhan mahasiswa dan perkembangan iptek.

Produk yang dihasilkan dosen melalui riset belum “membumi” sehingga tidak mudah terhilirisasi, untuk segera dapat diterapkan bagi kepentingan dunia usaha atau industri secara praktis. Para dosen Indonesia juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris. Dalam berbagai pertemuan ilmiah, dosen Indonesia cenderung pasif, karena kurang lihai beragumentasi atau berdebat dalam bahasa asing.

Dosen muda Indonesia juga sering kalah bersaing memperebutkan beasiswa lembaga internasional, guna memperoleh pembiayaan hibah kompetitif untuk studi tingkat doktoral (S3) di luar negeri. Selain persoalan bahasa, terbatas pula penguasaan dosen terhadap teknologi pembelajaran.  Sehingga, proses belajar-mengajar bersifat monoton dan out of date.

Para dosen juga terjebak status quo dalam sangkar disiplin ketat bidang keilmuan. Sehingga,  terkesan kurang pergaulan dengan rekan sejawat dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Kurikulum kaku dan membelenggu menyebabkan dosen sibuk dan asyik dengan kenyamanan menara gading. 

Sementara permasalahan kehidupan selalu berubah dan mengalir secara dinamis. Secara fisik dan mental, banyak dosen yang ketinggalan jaman dan tidak adaptif dalam dialektika perubahan kehidupan masyarakat dan dunia. Berbagai keterbatasan kompetensi dan performa dosen tersebut membuat berbagai pihak kuatir karena para mahasiswa sebagai peserta didik di PT saat ini adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam era revolusi industri seri ke-empat.

Klaus Schwab, pendiri dan ketua eksekutif World Economic Forum dalam bukunya berjudul The Fourth Industrial Revolution (2017) menyatakan bahwa dunia saat ini dibanjiri teknologi baru,  yang mendeterminasi pola pemikiran, tindakan, dan kehidupan manusia secara total. Sehingga, mampu mengubah makna kemanusiaan serta cara hidup dan berkehidupan.

Dalam era teknologi seperti saat ini, berbagai perubahan dapat dirasakan mulai dari bentuk dan pola layanan publik oleh pemerintah, proses bisnis yang dilakukan unit usaha, pergeseran budaya dalam masyarakat, serta perubahan gaya dan perilaku individu dalam kehidupan sosial. Semua pihak harus dapat beradaptasi dengan mengubah cara pandang dan tindakannya,  agar tak terpinggirkan dari pusaran arus dan mutu kehidupan dunia.

Dengan kemampuan beradaptasi, Schwab berpendapat bahwa kehidupan manusia di masa depan diharapkan menjadi lebih baik. Para dosen harus memiliki profil kompetensi yang adaptif terhadap perubahan. Profil kompetensi dosen di era milenial menunjukkan tingkat kemampuan kreatifitas dan inovasi yang tinggi dalam proses belajar-mengajar, riset, dan aplikasi iptek bagi kepentingan masyarakat.

Profil kompetensi ditunjang penguasaan bahasa asing sebagai bekal pergaulan internasional,  serta akrab dengan teknologi terbaru sebagai instrumen yang memudahkan transformasi pemikiran akademik menjadi produk bermanfaat bagi semua pihak. Lebih daripada sekadar penguasaan ilmu pengetahuan, bahasa, dan teknologi yang bersifat hard-skill.a

Para dosen sebagai pribadi terpuji harus pula memiliki soft-skill dengan sikap selalu menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab moral untuk mewujudkan kehidupan di masa depan yang lebih baik.

(Jusuf Irianto, Guru Besar Administrasi Negara FISIP Universitas Airlangga)

Editor : Silli Melanovi