logo

Pelemahan Rupiah Untungkan Perusahaan Berbasis Ekspor

 Pelemahan Rupiah Untungkan Perusahaan Berbasis Ekspor

Foto Ilustrasi
14 Maret 2018 21:26 WIB

Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - SEMARANG: Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Tengah, Deddy Mulyadi Ali, mengakui perusahaan berbasis ekspor telah mendapatkan keuntungan atas melemahnya nilai rupiah dalam sepekan terakhir. Namun, dia tidak yakin apakah sentimen itu akan mempengaruhi pendapatan perusahaan selama setahun penuh.

"Memang sentimen ini bagus bagi perusahaan berbasis ekspor. Namun yang patut dicermati, pelemahan rupiah ini tidak mempengaruhi peningkatan permintaan. Hanya mengerek dari segi nilai ekspornya saja," ujarnya, Selasa (13/3/2018).

Sebab, lanjut Deddy, sentimen pergerakan mata uang cenderung berjalan temporer atau jangka pendek. Adapun sentimen terbesar yang memengaruhi para eksportir di Jateng adalah tren pulihnya perdagangan global.

Hal itu menurutnya, memberikan efek jauh lebih signifikan bagi pebisnis di Jateng yang memiliki mitra dagang di luar negeri. Dia memperkirakan, tren perbaikan ekonomi global tersebut akan membantu perekonomian Jateng tumbuh pada kisaran 5,1%-5,2% secara year on year (yoy).

Disinggung soal Pilkada, Deddy memprediksi tidak akan memberikan dorongan siginifikan bagi pebisnis dan perekonomian Jateng secara keseluruhan. Dalam hal ini, pihaknya memperkirakan bisnis sektor jasa, periklanan dan konveksi menjadi yang paling mendapatkan keuntungan.

"Tapi yang menjadi catatan, momen pilkada ini juga temporer. Dari sekian banyak yang terdampak positif, perhotelan mungkin mendapat porsi keuntungan terbesar," terang Deddy.

Eksportir furnitur Jateng sekaligus pemilik UD Permata Furni, Ernie Sasmito, mengatakan pelemahan mata uang Indonesia tidak terlalu berdampak signfikan kepada aktivitas pengiriman furnitur Jateng ke luar negeri. Terlebih, permintaan dari pasar domestik saat ini terus meningkat. Meski demikian, dia tidak menampik bahwa para pengusaha furnitur berbasis ekspor, mendapatkan sentimen positif dengan menigkatnya daya saing di pasar global dari sisi harga.

"Patokan kita di kisaran Rp13.500 per dolar AS. Jadi ketika bergerak ke kisaran Rp13.800 kami menganggap itu belum terlalu signifikan pengaruhnya bagi keuntungan kami," kata Ernie.

Sementara Deputi Kepala BI Jateng, Rahmat Dwisaputra, memperkirakan momentum pilkada serentak akan menjadi salah satu pendongkrak perekonomian Jateng. Menurutnya, agenda pemilihan gubernur dan pemilihan kepala daerah di 7 kabupaten/kota di Jateng pada kuartal II/2018, diharapkan bakal mendorong meningkatnya konsumsi publik.***

Editor : B Sadono Priyo