logo

Tersangka Ayah Memartil Anak Hingga Tewas, Jalani 16 Adegan Rekontruksi

 Tersangka Ayah Memartil Anak Hingga Tewas, Jalani 16 Adegan Rekontruksi

Foto : Istimewa
14 Maret 2018 20:00 WIB

Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Jajaran Polres Magetan melakukan rekontruksi kasus seorang ayah yang memartil anak kandungnya sendiri Abdul Azis (17) hingga tewas, di rumahnya Desa Temboro, Kecamatan Karas, Magetan, Rabu (14/3/2018). Uniknya, sang ayah Ahmad Thohir (48) yang menjadi tersangka justru mendapat simpati dari para tetangga yang menyaksikan adegan tersebut.

Menurut Kapolres Magetan, AKBP Muslimin, dari hasil rekontruksi terlihat tidak ada indikasi perencanaan dalam insiden tersebut. "Kalau soal motif masih akan terus kita dalami dan itu masuk ranah penyidik," ujarnya, Rabu (14/3/2018).

Saat rekontruksi, tersangka menjalankan 16 adegan, sejak sebelum insiden pembunuhan tersebut. Korban Abdul Azis yang putus sekolah dari Madrasah Tsnawiyah (MTs) itu meminta uang kepada ibunya Kamirah (47). Karena tidak diberi uang, korban yang dikenal memiliki temparemen buruk itu, meminta Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor.

Sang ibu tidak mengabulkan permintaan korban. Emosi korban semakin memuncak, lalu memukul dan mengancam akan membunuh Kamirah (47) dan dua adik kandungnya.

Sang ayah Ahmad Thoir yang sehari-hari berprofesi sebagai pemecah batu, tersulut emosi melihat kelakuan korban. Keduanya terlibat cekcok hingga akhirnya berujung tindakan menghujamkan martil ke bagian kepala anak sulungnya itu hingga tewas.

Saat melihat rekontruksi, para tetangga memberikan dukungan moral, kepada tersangka yang selama ini dikenal sabar tersebut. "Sabar ya Pak Thohir, sing sabar," ujar para tetangga.

Sebelumnya, pihak keluarga juga sudah meminta agar tersangka yang menjadi tulang punggung keluarganya itu, untuk dibebaskan. Kakak tersangka, Ro'ib juga menyebutkan bahwa selama ini ulah korban sudah sangat keterlaluan.

Korban disebut sering memukli ibu kandung dan adik-adiknya bila permintaannya tidak dikabulkan. Kenakalan korban yang suka merusak barang-barang itu terjadi sejak korban putus sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fatah Temboro.

Disinggung soal permintaan keluarga tersebut, Kapolres AKBP Muslimin menyebut bahwa itu merupakan hak keluarganya. "Tapi proses hukum akan terus berlanjut, dan majelis hakim yang nantinya akan menentukan," ujarnya.***

Editor : B Sadono Priyo