logo

Kuliah Umum Di Unhan> Panglima TNI: Kita Tidak Boleh Alpa Menyikapi Perkembangan Dunia

Kuliah Umum Di Unhan> Panglima TNI: Kita Tidak Boleh Alpa Menyikapi Perkembangan Dunia

14 Maret 2018 02:29 WIB

Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id -  

BOGOR: Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto SIP mengingatkan agar kita tidak boleh alpa dalam menyikapi perkembangan dunia.

 Seperti kita ketahui, kata Panglima TNI memberi contoh, bahwa Revolusi industri terus bergerak, dari revolusi industri pertama, kedua, ketiga dan saat ini kita sudah berada di era Revolusi Industri 4.0. 

"Dalam setiap revolusi pasti selalu diwarnai oleh hal-hal yang bersifat kekinian dan selalu ada inovasi-inovasi yang bersifat disruptif, di mana suatu terobosan dapat serta-merta mengubah paradigma atau tatanan yang selama ini kita kenal," kata Panglima TNI saat memberikan Kuliah Umum kepada 243 mahasiswa dan civitas akademi Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) dengan tema “Kebijakan TNI Dalam Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah NKRI”, di Kawasan IPSC, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/3/2018).

Menurut Panglima TNI, beberapa dampak yang telah kita rasakan di antaranya adalah kemajuan teknologi digital yang tumbuh secara eksponensial. Hal ini telah memicu berbagai perbaikan cara berproduksi di segala bidang ke arah yang lebih maju, efisien serta berdaya guna tinggi.

Oleh karenanya, kekhawatiran masa depan.yang utama bukan terletak pasa krisis kelangkaan pangan dan energi.

"Melainkan lebih pada ketidakmampuan kita untuk beradaptasi terhadap transformasi destruktif yang terjadi," katanya.

Menurut Marsekal Hadi Tjahjanto, jika dahulu penguasaan wilayah secara fisik sebagai hal yang utama, maka dalam nuansa kekinian, penguasaan itu lebih bersifat virtual, yakni penguasaan dan pengelolaan terhadap wilayah dunia maya yang disebut Big Data.

Ia mengingatkan, kemajuan teknologi ternyata memiliki paradoks. Beberapa yang perlu dicermati utamanya adalah cyber threat, bio threat dan inequality threat.

"Masing-masing ancaman tersebut memiliki alasan tersendiri untuk terus kita waspadai," katanya.

*Ancaman cyber menjadi perhatian utama, mengingat lebih dari separuh penduduk dunia telah terhubung dengan dunia cyber dan tiga perempat waktunya dihabiskan di dunia maya,” katanya.

Dengan perkembangan teknologi digital profilling, saat ini dimungkinkan untuk merekrut teroris tunggal (lone wolf).

Mengenai bio threat, saat ini bukan hal luar biasa untuk menciptakan virus atau wabah penyakit mematikan melalui rekayasa genetika.

Inequality threat, kondisi kekurangan pangan dan energi bisa  memicu timbulnya potensi konflik horizontal maupun vertikal di masyarakat. Kekecewaan bisa menimbulkan ekstrimisme dan radikalisme. Mereka akan berusaha mendelegitimasi pemerintah.

Dalam awal paparannya, Panglima TNI menjelaskan tentang “ Kebijakan TNI dalam Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah NKRI ”, mendasari kebijakan setiap kementerian maupun lembaga, termasuk TNI, meliputi visi dan misi pemerintah yang dicanangkan oleh Presiden. 

Presiden Joko Widodo saat ini berkeinginan untuk “Mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.” Kata kunci yang dipedomani oleh TNI dalam menyusun kebijakannya adalah Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian berlandaskan gotong royong.

Panglima TNI menjabarkan tiap-tiap misi pemerintah yang telah ditetapkan ke dalam rencana tindak dan aksi TNI. TNI berkomitmen untuk mewujudkan keamanan nasional dalam menjaga kedaulatan dan keamanan sumber daya maritim yang memang merupakan tugas pokok TNI. 

Selanjutnya, TNI berkomitmen untuk sejalan dan mendukung kebijakan pemerintah, di antaranya untuk meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme prajurit, membangun kekuatan TNI yang bercirikan negara maritim, hingga mengawal ideologi Pancasila sebagai kepribadian bangsa yang paling utama.

Faktor selanjutnya yang menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan TNI adalah perkembangan lingkungan strategis. Fenomena lingkungan strategis saat ini masih diliputi oleh beberapa hal penting, seperti perang dagang, ketegangan semenanjung Korea dan konflik di Laut Cina Selatan, pelanggaran yurisdiksi wilayah, radikalisme, bencana alam, dan isu kesenjangan masih menjadi fokus perhatian kita saat ini.  

Satu hal lagi yang menjadi perhatian bagi kita semua adalah bahwa tahun ini akan diselenggarakan Pilkada serentak pada 171 daerah di seluruh wilayah Indonesia, serta tahapan Pilpres 2019. Hal ini tentunya merupakan sebuah kegiatan yang akan sangat menentukan stabilitas jalannya roda pemerintahan baik tingkat pusat maupun daerah.

Kuliah Umum dibuka  oleh Rektor Unhan Mayor Jenderal TNI Dr. Yoedhi Swastanto MBA

Dalam sambutannya Rektor Unhan mengucapkan terima kasih kepada Panglima TNI yang telah meluangkan waktu dan tenaga  memberikan kuliah umum  kepada  Mahasiswa Unhan.

Rektor Unhan dihadapan Panglima TNI menjelaskan awal berdirinya Unhan hingga saat ini telah menginjak 9 tahun dan telah memiliki 4 fakultas yaitu Fakultas Strategi Pertahanan, Fakultas Manajemen Pertahanan, Fakultas Keamanan Nasional dan Fakultas Teknologi Pertahanan. Dengan 17 Program Studi.

Rektor Unhan mengingatkan kepada mahasiswa Unhan untuk menyadari pentingnya materi yang akan disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P sebagai bekal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan implementasi dalam penerapan tugas dimasa mendatang. ***

 

 

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto