logo

Investasi Manufaktur Bawa Efek Berantai Bagi Perekonomian

Investasi Manufaktur Bawa Efek Berantai Bagi Perekonomian

Menperin Airlangga Hartarto. (dok. Kemenperin)
13 Maret 2018 23:14 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan investasi di Indonesia. Melalui penanaman modal, sektor manufaktur akan memberikan efek berantai pada penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor.

“Efek berantai itu mendorong pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor, sehingga kinerja investasi di Indonesia yang sudah baik akan semakin meningkat, dan tentunya investasi existing dapat lebih berdaya saing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Kementerian Perindustrian mencatat, pada tahun 2017, total investasi (PMA dan PMDN) di sektor industri mencapai Rp274,06 triliun atau berkontribusi sebesar 39,6 persen dari total investasi di Indonesia sebesar Rp692,8 triliun. 

Adapun nilai investasi terbesar yang disumbangkan oleh sektor manufaktur, antara lain dari industri makanan sebesar Rp64,74 triliun, industri logam, mesin dan elektronik Rp64,10 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp48,03 triliun. 

Investasi sektor industri pada tahun 2018 diproyeksikan mencapai Rp352,16 triliun dan menjadi Rp387,57 triliun pada 2019. “Industri tetap menjadi penggerak utama dari target pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Airlangga.

Pertumbuhan industri juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Total tenaga kerja yang terserap pada tahun 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibanding tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. Capaian ini mendorong pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia secara signifikan.

Selain itu, pada tahun 2017, nilai ekspor produk industri mencapai 109,76 miliar dolar AS, naik 13,14 persen dibandingkan tahun 2016 sebwsar 125,02 miliar dolar. Capaian ekspor produk industri di tahun 2017 tersebut memberikan kontribusi hingga 74,10 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Secara terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan, untuk lebih menggeliatkan kegiatan berusaha dan berinvestasi di Indonesia, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha. 

Salah satu upayanya dilakukan melalui pembentukan Satuan Tugas Nasional dalam rangka pengawalan dan percepatan kegiatan berusaha secara nasional. 

“Satuan tugas ini akan melakukan pengawalan dan percepatan penyelesaian perizinan usaha industri dalam rangka kemudahan melakukan investasi di sektor industri,” ujarnya.

Kemenperin juga telah menyiapkan beberapa strategi untuk mendorong investasi. Di antaranya melakukan optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku. 

Selain itu, Kemenperin telah mengusulkan adanya terobosan fasilitas baru bagi kegiatan investasi dalam bentuk super deduction untuk kegiatan litbang dan vokasi serta pengurangan PPh bagi industri padat karya yang mampu menyerap lebih dari 1.000 orang. ***