logo

Citizen Journalism Di Era Now

Citizen Journalism Di Era Now

08 Maret 2018 00:09 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Hiruk pikuk pemberitaan pers dua tahun ke depan tidak bisa terlepas dari agenda politik sehingga memberikan keleluasaan bagi media untuk menjaring iklan. Fakta belanja iklan di hajatan pesta demokrasi cenderung naik. Data tahun 2014 pada Q1 saja belanja iklan mencapai Rp.26 triliun atau naik 15 persen dibanding Q1 2013 dan periode 2013 belanja iklan Rp.106,8 triliun.

Data dari Nielsen dominasi belanja iklan kategori pemerintahan dan parpol di semua media naik 89 persen dan alokasi dari Partai Golkar tertinggi Rp.170,13 miliar, Gerindra Rp.147,61 miliar, Demokrat Rp.135,96 miliar dan Nasdem Rp.115,9 miliar. Sebaran iklan tersebut di tv 69 persen (naik 19 persen), koran 29 persen (naik 9 persen) dan ada peralihan belanja iklan dari koran ke tv sehingga porsi di koran turun 2 persen sedangkan di majalah dan tabloid berkurang 1 persen dengan porsi tetap sama 2 persen.

Fakta diatas menggambarkan adanya potensi tambahan ‘kesehatan’ bagi media karena di tahun politik terjadi lonjakan pemasukan melalui perolehan iklan. Pemahaman sehat dalam industri pers adalah tetap bertahan di era persaingan yang kian ketat yaitu tidak saja dari aspek pergeseran perilaku konsumen dari edisi offline – cetak ke edisi online – epaper tapi juga sehat dalam arti kehidupan jurnalisme itu sendiri termasuk independensi dari industrialisasi media yang saat ini semakin pesat. Bahkan di era demokrasi berbiaya tinggi kini muncul hipotesa mereka yang menguasai media maka akan mendulang suara. Oleh karena, tidak heran jika tahun ini semua media, baik offline atau online kebanjiran iklan demi meraup suara di tahun politik.

Sosial

Relevan dengan industrialisasi media maka salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan yaitu fakta perkembangan citizen journalism. Paling tidak, Mitchelstein dan Boczkowski (2010) dalam artikelnya berjudul Online news consumption research: An assessment of past work and an agenda for the future yang dimuat New Media & Society menegaskan bahwa media di era internet tidak bisa mengabaikan terjadinya transformasi perilaku konsumen yang didukung adopsi teknologi. Oleh karena itu realita ini kemudian memicu paradigma global information society yaitu ketika masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai obyek pemberitaan semata tapi mereka juga bisa berpartisipasi aktif menjadi subyek dari semua pemberitaan di media.

Salah satu faktor yang mendukung perkembangan citizen journalism adalah kekuatan riil dari jejaring sosial yang kini menjadi salah satu faktor kekuatan media online. Tentu hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa dengan gadget yang semakin murah dan jaringan internet yang semakin merakyat maka generasi muda menjadi bagian penting dari perkembangan media dan informasi adalah menu dari perkembangan media itu sendiri. Artinya, realitas perkembangan dan transformasi media adalah bagian dari kebutuhan konsumsi terhadap informasi. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak online di setiap saat karena semua informasi kini bisa dengan mudah disajikan dan juga tersaji realtime online yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.

Fakta perkembangan citizen journalism tentu menjadi kekuatan terbesar bagi media saat ini dan karenanya media edisi online ‘tidak lagi’ mengenal deadline seperti yang terjadi di media offline. Bahkan, perkembangan citizen journalism juga mengaburkan distribusi di republik ini yang dikenal dengan negara kepulauan. Bayangkan dengan kasus bencana – banjir yang menghambat distribusi secara fisik, tetapi ini tidak menjadi kendala ketika media bersifat online dan semua liputan bisa tersaji secara lengkap dalam waktu sekejap. Artinya, citizen journalism benar-benar menjadi kekuatan media saat ini dan iklan tentu menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan citizen journalism.

Mengacu perkembangan citizen journalism, muncul pertanyaan bagaimana realitas dari media offline dan online? Terkait ini Graham  dan Greenhill (2013) di artikelnya yang berjudul: ‘Exploring interaction: Print and online news media synergies’ yang dimuat di jurnal Internet Research menegaskan fakta sinergi media offline dan online di era global information society. Artinya, keduanya adalah komplementer, bukan subsitusi karena pada dasarnya setiap produk memiliki segmentasi tersendiri. Oleh karena itu, era global information society yang berpengaruh terhadap fenomena citizen journalism tidak bisa dianggap sebagai penyebab matinya media cetak, tetapi justru sebaliknya bahwa hal ini adalah konsekuensi dari transformasi perubahan perilaku konsumen sementara di sisi lain fakta ini juga didukung oleh perkembangan hardware dan software dari gadget serta tarif internet yang semakin murah.

Industri  

Fakta perkembangan media dan relevansinya dengan industrialisasi media kali ini maka tidak ada salahnya jika pers harus berbenah, tidak saja untuk mengantisipasi perubahan perilaku konsumen, tapi juga tuntutan terus melakukan inovasi. Bahkan, jika dicermati sebenarnya realitas yang berkembang di masyarakat saat ini misalnya jejaring sosial media secara tidak langsung menjadi barometer perkembangan citizen journalism. Oleh karena itu, kian banyak gadget yang memberi peluang tumbukembangnya jejaring sosial maka secara otomatis menguatkan citizen journalism. Terkait ini Newman, et al., (2012) dalam artikelnya yang berjudul: Social media in the changing ecology of news: The fourth and fifth estates in Britain yang dimuat di jurnal International Journal of Internet Science menegaskan bahwa jejaring sosial yang berkembang menjadi kekuatan dalam memetakan perilaku konsumen.

Sinergi antara jejaring sosial, citizen journalism dan realitas global information society, maka tidak salah jika industrialisasi media saat ini dihadapkan kepada pilihan dilematis yaitu tetap mempertahankan format offline – cetak atau berinovasi dengan edisi online – epaper. Pilihan tersebut tentu terkait dengan sejumlah konsekuensi yang tidak kecil. Jadi transformasi adalah konsekuensi dan tentu ini harus dialami oleh industrialisasi media di era global information society yang ditandai dengan berkembangnya citizen journalism. Padahal, jika citizen journalism berkembang dengan baik maka secara tidak langsung ini menjadi implementasi industrialisasi media. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo