logo

Perubahan Datang Tidak Bisa Dihindari

Perubahan Datang Tidak Bisa Dihindari

10 Maret 2018 12:53 WIB

SuaraKarya.id - Oleh : Dr Mulyono D Prawiro

Perubahan itu bisa terjadi setiap hari, tetapi adanya suatu perubahan organisasional yang signifikan akan memiliki dampak yang besar terhadap individu, dan perubahan ini menciptakan tensi antara masa lalu dan masa depan. Suatu strategi yang berhubungan dengan perubahan, akan meminta orang untuk mengubah sikap demi tujuan tertentu, dan secara otomatis akan menciptakan reaksi yang emosional.

Menjadi seorang pemimpin perubahan yang professional, tentunya yang pertama kali harus dipahami adalah dinamika perubahan itu sendiri, dan kemudian bagaimana ketidakpastian itu mempengaruhinya, baik itu mempengaruhi diri sendiri maupun orang lain. Cara-cara lama yang dianggap tidak sesuai lagi harus dilupakan, kemudian cara baru harus segera dipahami.

Yang sangat penting bagi pemimpin perubahan adalah mereka harus mampu melihat dirinya sebagai seorang panutan yang patut untuk ditiru dan diteladani. Segala tingkah laku dan tindakannya dapat dijadikan contoh bagi banyak orang, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin, baik itu di sebuah perusahaan atau pun di lembaga. Mereka akan dipandang oleh banyak orang terutama bagi anggota tim yang ada di lingkungannya. Banyak orang yang akan berusaha mencari untuk meminta petunjuk dan isyarat kepada pemimpin tersebut, bagaimana cara menghadapi situasi yang sedang berubah saat ini.

Nah, disinilah awal untuk memulai memahami cara menjadi seorang sukses yang berubah. Haryono Suyono, dalam suatu kesempatan mengatakan, bahwa pemimpin dan pengusaha yang berpikiran maju harus segera menganut manajemen yang berorientasi pada masa depan, bukan manajemen yang berorientasi masa lampau. Karena menganut manajemen masa depan, maka strategi komunikasi dan informasi atau pemasaran yang dianut dan dikembangkan sebaiknya bersifat ”menyerang”, dan “bukan mempertahankan”, bersifat “attacker” dan bukan “defender”.

Demikian juga, Alvin Toffler pernah mengatakan bahwa, “orang yang buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak dapat membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak dapat belajar melupakan yang telah dipelajari, dan belajar kembali”. Dari apa yang dikatakan Toffler, kita bisa lihat di lingkungan kita sendiri misalnya, banyak kejadian-kejadian kecil yang tidak terhitung banyaknya mewarnai hari-hari yang kita lewati.

Beberapa kejadian dapat membuat kita mengubah atau menghentikan kebiasaan yang selama ini kita lakukan dan ini bisa menyebabkan adanya iritasi dan kegerutuan (ngedumel) pada diri kita. Disini kita dihadapkan pada situasi yang berbeda, mau tidak mau, bisa tidak bisa, kita harus belajar beradaptasi dan melanjutkan apa yang pada awalnya tidak familier dengan kita.

Disamping itu, ada banyak perubahan yang mengikuti dan biasanya itu hanya sekali waktu saja dalam karier kita, sehingga kadang-kadang bisa membuat kekhawatiran, ketidaknyamanan maupun stress berat pada diri kita. Apa lagi kalau perubahan itu terlalu besar dan sangat mendasar yang mencakup hilangnya masa lalu yang dapat diperkirakan dan dipastikan, sehingga muncul rasa kebingungan dan tidak tahu apa yang akan diharapkan.

Dengan demikian, perasaan kehilangan inilah yang akan membuat orang menjadi ketakutan, sehingga hal ini sebenarnya yang menyebabkan sulitnya orang berurusan dengan perubahan itu. Orang menjadi takut ketika kepastian tidak lagi bisa diraih dan mungkin akan beranjak pergi dan meninggalkannya.

Menurut Michael D. Marginn, Presiden dan CEO dari Singularity Group di Amerika Serikat dalam bukunya berjudul “Managing in Times of Change” mengatakan bahwa, salah satu cara untuk menghadapi perubahan itu adalah dengan merespons-nya secara positif. Biasanya respons adalah reaksi pembelaan diri yang alami dan spontan, untuk itu maka tariklah diri ke dalam dunia pribadi dan jadilah waspada dalam apa yang kita katakan dan kepada siapa kita mengatakannya.

Selain itu dalam menghadapi adanya perubahan, kita juga perlu membiasakan diri untuk melakukan yang terbaik di dalam situasi apapun, mengenali kesulitan, dan memutuskan untuk menghadapi kesulitan itu secara positif. Walau bagaimana, perubahan itu pasti akan tetap terjadi, seberapa pun kekuatan dan daya tangkal kita, tetap tidak akan mampu membendung derasnya perubahan itu, apapun usaha yang kita lalukan.

Kerelaan untuk melepas masa lalu dan meninggalkannya serta bersiap untuk maju menatap ke arah masa depan, dibutuhkan adanya suatu penyesuaian. Ini memang tidak mudah, tetapi sangat penting. Konsep ini merupakan hal yang luar biasa bila kita bisa mencermatinya dengan baik, dan merupakan resep yang sangat ampuh bila kita dihadapkan pada suatu perubahan. Mengakhiri cara lama memang terasa begitu sulit, apa lagi bagi individu di semua tingkatan organisasi, karena itu kebiasaan akan cenderung bertahan dalam melewati cobaan pada perubahan organisasi.

Seperti yang kita dengar di sebagian masyarakat kita, apabila mereka bercerita betapa indahnya keadaan masa lalu dan rasanya ingin kembali lagi ke masa itu. Ini memang ada sebagian dari kita yang menginginkan seperti itu, namun kalau ada yang berpendapat bahwa segalanya jauh lebih baik di masa lalu, kalau begitu mereka ini bisa dikatakan meremehkan arti perubahan itu sendiri, apa lagi kalau mereka mengatakan “tidak sebaik dulu”.

Dari beberapa bentuk keengganan untuk meninggalkan kebiasaan lama itu dapat dipahami, karena mereka takut kehilangan sesuatu, terutama bagi mereka yang merasa dirinya berhasil dan biasa memegang tongkat kekuasaan. Di sisi lain, melekat pada masa lalu dapat mencegah seseorang untuk terlibat dalam perubahan yang terus bergerak maju ke arah depan. Bila masih ada yang bertahan menggunakan cara lama, maka bagi sebagian orang akan kebingungan, karena sudah tidak cocok lagi bila diterapkan.

Salah satu cara untuk memimpin jalan menuju perubahan adalah dengan menyampaikan harapan yang jelas kepada para pengikutnya. Menjelaskan visi baru serta menunjukkan sikap yang dibutuhkan, kemudian mengubur cara lama yang dianggap tidak sesuai lagi dengan struktur perubahan yang terjadi atau mengucapkan selamat tinggal cara lama dan selamat bergabung cara baru dan visi baru.

Perubahan itu mau tidak mau pasti dan harus terjadi, bila kita pada posisi seorang pemimpin yang ingin berubah, sebaiknya kita berusaha mendorong para karyawan untuk melakukan komunikasi, baik melalui forum rapat intern maupun pada kesempatan lainnya. Karyawan sebaiknya diajak berbicara dari hati ke hati, dan kalau perlu diajak diskusi dengan jujur dan terbuka, kapan pun kesempatan itu ada.

Dengan suatu pendekatan yang positif, antara lain dengan cara menanyakan bagaimana keadaannya, pendapatnya, kehendaknya, dan lain-lain yang bisa mendorong mereka untuk ikut berperan dalam organisasi, siapa tahu diantara mereka itu bisa memberikan solusi terbaik bagi perkembangan dan kemajuan organisasi. ***

Dr Mulyono D Prawiro -  Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta

Editor : Gungde Ariwangsa SH