logo

Airlangga Hartarto, Pemilih Milenial Dan Revolusi Industri Keempat

Airlangga Hartarto, Pemilih Milenial Dan Revolusi Industri Keempat

06 Maret 2018 23:44 WIB

SuaraKarya.id - oleh: Denny JA. Ph.D

JAKARTA: Berulang saya baca lagi berita yang unik itu. Pertama kali dalam sejarah manusia, sebuah robot sangat cerdas diresmikan menjadi warga negara (citizen) sebuah negara. Sophie nama robot itu.

Arab Saudi yang memberinya status terhormat warga negara. Robot wanita bernama Sophie itu berpidato di depan panel di Ryadh, Arab Saudi.

Mungkin karena robot, ia tak memakai hijab selayaknya wanita warga negara umumnya di negeri King Zalman ini. Robot cerdas itu bercanda. Ketika panel ahli meminta pendapat bahwa robot berbahaya bagi kelangsungan species manusia asli: homo sapiens, ia tertawa.

Sophie berkomentar santai kepada team ahli di forum tersebut. Sophie berujar, "Anda terlalu banyak menonton film Holywood."

Menyimak Sophie, kita menyimak zaman baru. Betapa peradaban sudah berubah. Kita memasuki revolusi industri keempat, yang bersandar pada artificial inteligence, robot, internet of things, virtual community, nano technology, 3D-printing, bio technology, Chripto currency, dan aneka istilah yang kita belum terlalu akrab.

Saya pun hilang dalam keasyikan eksplorasi dunia internet. Sungguh saya ingin tahu lebih jauh: seberapa dalam revolusi industri keempat menyentuh indonesia.

Sampailah saya pada Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Wapres JK yang kini Ketua Umum Partai Golkar.

Berita nasional menyebut pada 5 Maret 2018, Airlangga Hartarto menghadiri wisuda Universitas Muhammadiah Malang (UMM) ke -86. Tak banyak yang tahu, ternyata team robot universitas ini menang kontes internasional pada Conity College Fire Fighting Home Robot Contest di Amerika Serikat.

Putra putri Indonesia ternyata tak kalah soal robot. Bertanya saya dalam hati. Apakah tak lama lagi akan lahir Sophie, robot cerdas, ala Indonesia?

Dalam acara itu, Airlangga Hartarto hadir sebagai Menteri Industri. Ia singgung pula data yang mungkin belum banyak publik Indonesia sadar dan paham.

Betapa sebagai negara industri, Indonesia kini masuk dalam rangking 10 besar tingkat dunia. Indonesia sejajar dengan Inggris dan Brazil, bahkan di atas Rusia. Sumbangan sektor industri kepada ekonomi nasional lebih dari 20 persen.

Airlangga bahkan melangkah lebih jauh. Penerus legacy dari sang ayah, Ir Hartarto yang juga Menperin era Presiden Soeharto ini, telah mencanangkan empat langkah strategis membawa Indonesia masuk ke dalam revolusi industri ke empat.

Pertama, IOI (Internet of things). Sebanyak mungkin indonesia perlu melibatkan industri agar terintegrasi dengan internet.

Ini era yang semakin lama dunia terhubung dalam koneksi internet. Tak hanya ada smart phone atau smart city, tapi juga smart labour.

Semakin banyak pekerja yang mendayagunakan fasilitas yang tersedia karena hadirnya peradaban internet.

Kementrian yang dibesutnya ini menginisiasi pendidikan advokasi, sehingga tercipta link and match antara SMK dan industri.

Airlangga yang dibesarkan dalam kekuatan intelektual dan praksis ini menyiapkan tenaga kerja yang terampil, fasih dengan perkembangan baru, satu juta orang hingga 2019.

Kedua, tak hanya industri skala besar, bahkan industri skala kecil dan menengah (IKM) disiapkan masuk ke era itu.

Kementriannya menyiapkan E-Smart IKM memperluas jaringan dan mempermudah IKM bahkan ke dunia ekspor.

Ketiga, ini era Big Data, Robot Otomatis, Cybersecurity, Cloud, Augmented Reality, dan aneka istilah teknologi super canggih lain. Teknologi ini bisa menghemat biaya produksi hingga 12-15 persen.

Yang istimewa, kehadiran teknologi tinggi tetap menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (labour intensive). Itu sudah ditunjukan dalam usaha industri makanan dan minuman.

Keempat, memgembangkan tempat inkubasi bisnis, start up, dan technopark di beberapa wilayah Indonesia. Antara lain: Bandung Technopark, Tohpati Center (Denpasar), Incubator Business Center Semarang, Makasar Techno Park.

Aneka lokasi itu memfasilitasi dan mensimulasi lingkungannya.

Siapapun yang tergerak dalam start up business, yang ingin memulai usaha, dan terhubung dengan revolusi indutri keempat dapat menggunakannya.

Lama saya merenungi empat strategi yang diperkenalkan sang menteri ini. Jika berhasil, Airlangga tak hanya menjalankan kerja seorang menteri bagi pemerintahan Jokowi. Airlangga memberikan efek lebih jauh. Ini adalah kerja peradaban.

Tak berlebihan dan bukan menyenangkan Airlangga, kelak achievmentnya akan dikenang ikut menumbuhkan dan menyebar benih revolusi indutri keempat ke dalam evolusi budaya Indonesia. 

Adakah efek elektoral dari kerja besar dan sebagian publik, jamak mengatakan kerja strategis ini? Demikianlah pertanyaan siapa pun yang juga peka dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019.

Apapun kerja besar di hari-hari ini tetap akan dieksplor efek elektoralnya.

Tentu saja Airlangga mengerjakan empat strategi itu bukan dalam kapasitasnya ansich sebagai ketua umum partai besar.

Namun dalam opini publik, apapun yang melambumgkan nama Airlangga, akan pula melambungkan lingkungannya.

Sebaliknya, apapun yang menjatuhkan Airlangga, akan pula menjatuhkan lingkungannya.

Ini era generasi milenial. Para ahli mendefinisikan generasi ini untuk mereka yang tumbuh remaja dan dewasa ketika datangnya era digital. Batas tahun lahir generasi ini di tahun 1982.

Secara elektoral, ini usia pemilih dari 17 tahun hingga 37 tahun. Total jumlah mereka sekitar 40 persen dari total pemilih nasional. Mereka adalah generasi yang peka teknologi tinggi. Dibanding generasi sebelumnya, mereka lebih antusias pada revolusi industri ke empat. Ke depan, generasi ini akan dominan.

Siapun yang bisa mengambil hati generasi ini akan menguasai pemilu Indonesia.

Menjawab pertanyaan itu, jika empat strategi Airlangga itu berhasil, tentu saja punya efek elektoral tak hanya pada Airlangga pribadi. Efeknya juga terasa pada Jokowi, bahkan Partai Golkar sebagai kekuatan politik yang mendukungnya secara total. Efek itu lebih terasa pada segmen pemilih milenial.

Tapi peradaban tak hanya soal pemilu. Membawa teknologi tinggi untuk memajukan bangsa, itu yang utama.

Efek paling dalam dan lebih penting tentu tak hanya terbatas pada efek elektoral, tapi efek kesejahteraan publik dan kemajuan peradaban.

Selamat datang revolusi industri keempat. Teruslah membesar, walau beberapa wilayah Indonesia bahkan belum tuntas pula dengan revolusi industri yang pertama. ***

*Denny JA.Ph.D adalah konsultan politik dan tokoh media sosial