logo

UNESCO Serahkan Pengakuan Pinisi Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia

UNESCO Serahkan Pengakuan Pinisi Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia

unesco, kapal pinisi, UNESCO, warisan budaya tak benda dunia, kemenpar, menpar arief yahya
15 February 2018 06:52 WIB
Penulis : Suki Serocksia

SuaraKarya.id -JAKARTA: Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB UNESCO menetapkan Kapal Pinisi asal Sulawesi Selatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, menerima langsung sertifikat dari UNESCO.

Retno Marsudi menerima langsung sertifikat tersebut yang diserahkan oleh Duta Besar RI untuk Prancis, sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO di Kementerian Luar Negeri, Hotmangaradja Pandjaitan. "Ditetapkannya Pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia merupakan kebanggaan besar bagi rakyat Indonesia," kata Menlu Retno pada Selasa (13/2/2018).

Bagi Retno, penetapan dari UNESCO bukanlah tujuan akhir. Melainkan sarana untuk mendukung pelestarian budaya nasional. Selain itu, pihaknya juga terus bekerjasama dengan pemangku kepentingan terkait dalam melestarian budaya dan kekayaan alam nasional.

Ia berharap setiap penetapan yang diberikan UNESCO kepada budaya atau kekayaan alam Indonesia diikuti dengan kebijakan pelestarian yang baik. Termasuk penyuluhan kepada masyarakat.

Kapal Pinisi menambah daftar elemen budaya Indonesia yang masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Elemen-elemen budaya tersebut, yakni wayang (2008), keris (2009), batik (2009), angklung (2010), Tari Saman (2011), noken Papua (2012), Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015), serta satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Menteri Pariwisata Arief Yahya tersenyum bahagia mendengar kabar ini. Selama ini Kementerian Pariwisata selalu menggunakan desain Kapal Pinisi dalam pameran-pameran di luar negeri.

Bahkan, desain kapal Pinisi kerap menjadi desain terbaik dan menerima banyak penghargaan. Sepanjang 2016, Indonesia juara 46 kali di 22 negara. Sedang 2017  juara 11 kali di 6 negara. Rata-rata menggunakan desain booth replika Pinisi.

"Semua karena filosofi desainnya. Indonesia lebih kuat. Replika kapal Pinisi itu sangat Indonesia. Memberi kesan Indonesia, karena punya sejarah panjang berabad-abad lalu," kata Arief.

Selain itu,Kapal Pinisi itu merujuk pada arah pengembangan destinasi Indonesia yang menuju bahari. Tujuh dari 10 Bali Baru yang dikembangkan Pemerintah Presiden Joko Widodo itu merupakan wisata bahari, menaikkan peran kemaritiman di tanah air. Dari Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sutra dan Morotai Maltara.

Karena itu, konsisten dengan pilihan Pinisi itu akan memperkuat kesan Indonesia yang kaya akan potensi bahari. Lalu barang-barang yang khas, dan didatangkan langsung dari Indonesia, itu juga semakin memperkuat keyakinan Menpar Arief Yahya.

"Kapal Pinisi memang layak masuk dalam warisan budaya dunia UNESCO," kata Arief mengakhiri.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto