logo

Prof DR Suhandi Cahaya: Bank Punya Kitab Suci, Seharusnya Tak Ada Kredit Macet

Prof DR Suhandi Cahaya: Bank Punya Kitab Suci, Seharusnya Tak Ada Kredit Macet

Prof DR Suhandi Cahaya
14 February 2018 20:35 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -JAKARTA:  Prof DR Suhandi Cahaya menegaskan tidak akan terjadi kredit macet, apalagi dengan agunan jauh lebih kecil nilainya dibandingkan nilai pinjaman atau kredit yang dikucurkan, jika pihak bank atau debitur benar-benar menganut prinsip kehati-hatian.  Kecuali ada oknum di bank tersebut yang bermain dengan sengaja memacetkan kredit yang dikucurkannya itu.

Demikian ahli hukum dan bisnis Suhandi Cahaya saat memberikan pendapat pada sidang pembobolan Bank M dengan terdakwa Hasan Ridwan dan Prabowo di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Rabu.

Kalau ada nasabah nakal, misalnya sudah memacetkan kredit di bank lain, menurut Suhandi Cahaya, tidaklah sulit bagi perbankan untuk mendeteksinya.  “Komputerisasi dan tehnologi memudahkan perbankan memonitor sepak-terjang calon nasabah atau debitur. Bank punya link sehingga bisa tahu ke bank mana saja nasabah itu sebelumnya berurusan. Jadi, perbankan tidak akan terjebak debitur nakal sejauh orang bank itu sendiri memedomani prinsip-prinsip kehati-hatian dalam mengucurkan kredit,” tutur Suhandi Cahaya.

Mengenai kerugian yang mungkin timbul dan diderita kreditur pada saat kredit benar-benar macet, menurut Suhandi Cahaya, akan dengan sendirinya dapat ditekan jika penilai agunan bernar-benar menjalankan tugasnya.  Artinya, kredit tidak akan dikucurkan apabila nilai agunan tersebut sangat tidak sebanding dengan nilai kredit tersebut.

“Sewaktu agunan dilelang, dan tentu saja setelah dilakukan audit independen atas jaminan itu, tentunya kreditur tidaklah terlalu merugi. Soalnya nilai agunan yang dilelang tak begitu jauh dengan nilai kredit. Tetapi hal itu  berlaku tentunya  jika pengucuran kredit itu sebelumnya dilakukan sesuai SOP bank itu sendiri,” kata Suhandi.

Menurut Suhandi, bank sesungguhnya tak bisa ditipu oleh debitur nakal sekali pun. Di samping bank menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian, SOP dan menjunjung tinggi kepercayaan  juga memiliki semacam kitab suci.

Kalau pada akhirnya ada bank yang dibobol nasabah, menurut Suhandi, bukan hanya sangkaan penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang harus diterapkan. Tetapi juga Undang-Undang Perbankan, karena melibatkan orang dalam bank itu sendiri.

Kredit macet, kata Suhandi, bisa terjadi kalau debitur menyalahgunakan kredit yang diterimanya ke proyek B padahal peruntukannya ke proyek A. Atau kredit itu dipergunakan untuk keperluan pribadi pemohon kredit itu.

“Tetapi hal semacam ini pun seharusnya bisa dimonitoring bankir-bankir. Sebab, bank tidak hanya bertugas mengucurkan kredit tetapi juga melindungi perkembangan usaha debitur itu demi keamanan kredit yang dikucurkan tersebut,” tutur Suhandi. (Wilmar Pasaribu)

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH