logo

Industri Pengolahan Logam Dan Mineral Indonesia Tumbuh Pesat

Industri Pengolahan Logam Dan Mineral Indonesia Tumbuh Pesat

Menperin Airlangga Hartarto. (dok. Kemenperin)
14 February 2018 19:42 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id -JAKARTA: Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, industri pengolahan logam dan mineral mengalami pertumbuhan dan ekspor paling pesat. Kebijakan hilirisasi industri yang didorong Kementerian Perindustrian dalam upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, dituding sebagai penyebab utamanya.

“Kita punya beberapa klaster industri baja. Sektor ini sebagai mother of industry. Di Cilegon misalnya, kapasitas produksi hari ini mendekati 5 juta ton per tahun dan ditargetkan mencapai 10 juta ton pada tahun 2025,” ujarnya ketika menjadi narasumber Diskusi Panel pada Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI dan Kementerian Luar Negeri RI Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Selain itu, lanjut Menperin, Indonesia juga memiliki klaster industri baja di Morowali, Sulawesi Tengah. “Sebelumnya, kita mengekspor yang namanya nickel ore, tetapi saat ini kita sudah memproduksi tiga juta ton nickel pig iron dan 1,5 juta ton produk tengahnya berupa stainless plat,” ungkapnya.

Kawasan industri Konawe, Sulawesi Tenggara akan menghasilkan nickel pig iron sebanyak 2 juta ton pada tahun 2018.

“Jadi, di akhir tahun ini, kita akan punya baja berbasis nikel hampir 4 juta ton atau setara dengan produksi seluruh Eropa. Tahun depan, kita naikkan targetnya mencapai 5 juta ton dan akan bisa menjadi produsen stainless steel terbesar kedua di dunia,” jelasnya.

Airlangga menegaskan, pihaknya terus berupaya memperdalam struktur industri nasional. Tujuannya agar bisa masuk di dalam rantai pasok global.

“Di Batulicin, Kalimantan Selatan, sedang dibangun pabrik dengan kapasitas produksi carbon steel sebesar 2 juta ton. Kita lihat yang berbasis alumunium, juga akan meningkat dari produksi di Kalimantan Barat,” tuturnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri logam dasar merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi sebesar 7,05 persen pada kuartal IV tahun 2017. Capaian ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen tahun 2017.

Di samping itu, kelompok industri logam, mesin dan elektronik mencatatkan sebagai subsektor yang menunjukkan perkembangan investasi terbesar kedua di Indonesia, dengan kontribusi sebesar Rp64,10 triliun. Capaian ini di atas perolehan investasi dari industri kimia dan farmasi sebesar Rp48,03 triliun. Sedangkan, yang tertinggi dari industri makanan sebesar Rp64,74 triliun.

“Pemerintah terus berkomitmen untuk menjalankan kebijakan pengembangan daya saing investasi di Tanah Air. Hal ini terlihat dari kenaikan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business). Kemudian, pemerintah juga tengah berupaya untuk memberikan insentif fiskal guna memberikan daya tarik bagi industri,” tuturnya.

Misalnya, pemberian fasilitas tax allowance untuk sektor industri padat karya berorientasi ekspor. Selain itu, tax allowance sebesar 200 persen bagi industri yang mengembangkan pendidikan vokasi, serta tax allowance 300 persen bagi perusahaan yang aktif dalam kegiatan riset dan pengembangan (R&D).

Menperin menambahkan, alasan utama mengapa investor asing berminat menanamkan investasi di Indonesia adalah potensi pertumbuhan pasar domestik serta kondisi pasar domestik saat ini. Juga, tenaga kerja dengan upah yang lebih kompetitif serta adanya supply base untuk industri perakitan. ***