logo

Menperin: Perekonomian Nasional Sudah ‘On The Track’

Menperin: Perekonomian Nasional Sudah ‘On The Track’

Menperin Airlangga Hartarto (kiri). (dok. Kemenperin)
14 Februari 2018 19:32 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai perekonomian Indonesia saat ini telah berada di jalur yang benar (on the track) dan mengarah pada tren pertumbuhan positif. Hal ini didukung dengan berbagai upaya strategis pemerintah seperti menjaga stabilitas politik, peningkatan level pendidikan, serta menciptakan keamanan di dalam negeri.

“Dari geoekonomi, Indonesia sudah masuk dalam one trillion club. Dan, Bapak Presiden Jokowi berhasil untuk terus mendorongnya. Saat ini, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dibanding rata-rata dari pertumbuhan ekonomi ASEAN,” ujar Airlangga, ketika menjadi narasumber Diskusi Panel pada Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI dan Kementerian Luar Negeri RI Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (13/2/2018). 

Pembicara lain adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Kepala BKPM Thomas Lembong dengan dipandu Staf Khusus Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar.

Airlangga mengatakan, perekonomian Indonesia terus mengalami perbaikan dari berbagai aspek selama 15 tahun terakhir. Indikatornya antara lain, Indonesia menjadi negara dengan populasi tenaga kerja terbesar ke-4 di dunia, dengan jumlah mencapai 30 juta pekerja dan rata-rata gaji pekerja telah naik 2 kali lipat.

Selain itu, nilai investasi Indonesia telah naik 13 kali lipat dan sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional naik dari 22 persen menjadi 34 persen. 

Pertumbuhan konsumsi masyarakat domestik pun mengalami peningkatan 8 kali lipat dan saat ini berkontribusi sebesar 55 persen pada PDB. Diikuti dengan kapitalisasi pasar modal, naik 15 kali lipat, yang nilainya kini setara 500 miliar dolar AS.

Dukungan dari sektor industri manufakur nasional, daya saing dan nilai tambahnya ikut mengalami peningkatan. Bisa dilihat berdasarkan kontribusi ekspor produk manufaktur sebesar 74 persen terhadap nilai ekspor Indonesia pada tahun 2017. “Nilai ekspor industri pengolahan naik 13,14 persen dari tahun 2017 dibanding 2016,” ujarnya.

Beberapa industri pengolahan yang menyumbangkan ekspor cukup signfikan tahun 2017, yaitu industri kelapa sawit sebesar Rp287,24 triliun, industri logam Rp141,16 triliun, industri makanan Rp134,93 triliun, industri alat transportasi Rp116,63 triliun, industri elektronika Rp105,94 triliun, industri pakaian jadi Rp90,31 triliun, industri pulp dan kertas Rp84 triliun, serta industri logam Rp59,9 triliun.

“Produk-produk manufaktur tersebut menunjukkan daya saing yang kuat dan memiliki nilai tambah tinggi,” tutur Menperin. 

Dari sisi manufacturing value added (MVA), Indonesia mampu menempati posisi tertinggi dibanding negara-negara di ASEAN. MVA Indonesia mencapai 4,84 persen, sedangkan rata-rata di ASEAN berkisar 4,5 persen. Bahkan, untuk tingkat dunia, Indonesia berada di peringkat ke-9.

Negara tujuan ekspor utama antara lain adalah China, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura. 

Adapun 5 negara yang berkontribusi besar melalui investasi di Indonesia sepanjang tahun 2017, adalah Jepang yang menanamkan modal hingga 2,13 miliar dolar AS, diikuti Singapura 2,05 miliar dolar,  China 1,14 miliar dolar, Korea Selatan 0,93 miliar dolar, dan Swiss 0,32 miliar dolar AS. ***