logo

Semangat Industri Kreatif

Semangat Industri Kreatif

08 Februari 2018 00:09 WIB

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Presiden Jokowi membeli motor kustom berjenis mesin Royal Enfield Bullet 350 cc dan kemudian dikustom bergaya chopper. Penyerahan motor kustom telah dilakukan pada Sabtu 20 Januari 2018 dan tampak Presiden Jokowi puas dengan hasil kustom motornya. Sayangnya, belum tahu kapan motor kustom itu akan dipakai touring atau dinas secara blusukan.

Terkait ini, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia kustom telah menjadi industri tersendiri yang menarik dicermati. Bahkan, dunia kustom seolah menjadi magnet yang bisa meraup profit cukup menjanjikan dan karenanya penegasan Presiden Jokowi terkait pentingnya brand value untuk membangun industri kreatif secara berkelanjutan memang ada benarnya dan era milenial memberikan peluang bagi pengembangan industri kreatif, termasuk juga dunia motor kustom.

Industri kreatif bisa beragam dan dunia kustom mewakili identifikasi kreatif itu sendiri sehingga beralasan jika Presiden Jokowi setelah mengamati motor kustomnya memberi penegasan bahwa industri kustom di bidang otomotif juga bisa berpengaruh terhadap brand value. Artinya, apresiasi yang disampaikan Presiden Jokowi secara tidak langsung berpengaruh terhadap brand value, tidak hanya terkait merek Royal Enfield, tetapi juga hasil kustom dari anak-anak muda Indonesia. Oleh karena itu, pasca pemesanan motor kustom oleh Presiden Jokowi maka bukan tidak mungkin ke depan apresiasi terhadap dunia kustom otomotif akan kian berkembang pesat. Relevan dengan hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa ada 3 kota yang lekat dengan dunia kustom dan industri kreatif yaitu Yogya, Bandung dan Jakarta.

Menjanjikan

Yogya sendiri telah menjadi ikon dari perhelatan motor kustom di tanah air dan paling tidak dalam rentang waktu 5 tahun terakhir telah ada dua tokoh yang meramaikan dunia kustom yaitu pertama: Sri Sultan yang menaiki motor kustom berbasis mesin Harley di pembukaan Kustomfest 2016 yang diberi label “Kebo Bule”, lalu “Kyai Perkoso” yang juga dilabelkan oleh Sri Sultan pada 22 Mei 2010 dan yang kedua yaitu Presiden Jokowi dengan motor kustom berbasis mesin Royal Enfield. Paling tidak, dari kedua tokoh ini bisa memberikan pencerahan terhadap industri kustom di tanah air karena pada dasarnya kemampuan kreatif dari builder dalam negeri tidak kalah dibanding dari mancanegara. Hal ini juga dibuktikan dengan prestasi yang ditorehkan dari berbagai ajang kompetisi kustom di luar negeri. Artinya brand value dari dunia kustom dan industri kreatif pada umumnya dapat dibangun sedari awal dan juga keterlibatan para tokoh menjadi faktor pendukung yang tidak bisa diabaikan demi kemajuan industri kreatif dan dunia kustom.

Ironi dari berbagai prestasi hasil builder kustom motor dalam negeri adalah apresiasi yang rendah justru di dalam negeri. Betapa tidak, regulasi berlalulintas terkadang tidak sejalan dengan perkembangan dunia kustom dan akibatnya adalah penilangan sejumlah motor hasil kustom karena dianggap tidak layak jalan di jalanan umum. Bahkan, yang fatal adalah dalih membahayakan keselamatan orang lain di jalanan. Konsekuensi dari hal ini maka motor-motor kustom hasil kreatifitas anak dalam negeri akhirnya hanya bisa dipakai untuk pajangan lomba semata, padahal semestinya motor kustom itu bisa juga dinikmati di jalanan sambil touring. Jadi, wajar saja jika di media sosial kemudian berkembang sindiran tentang bentuk motor kustom Pak Jokowi yang protolan karena tidak sesuai dengan standar kelayakan sebuah motor secara umum.

Jika dicermati berbagai prestasi dunia kustom Indonesia tidak bisa diragukan sehingga di ajang lomba kustom, termasuk misalnya di Yokohama yang menjadi baromenter dari dunia kustom berhasil mendapatkan apresiasi. Oleh karena itu, apa yang diapresiasi oleh Presiden Jokowi atas motor kustomnya harus menjadi edukasi ke depan tentang urgensi dunia kreatif di semua aspek, bukan hanya di bidang otomotif. Artinya, ini peluang bagi generasi muda untuk terus mengasah kreatifitas tanpa batas karena dari kreatifitas itulah maka dunia akan mengenal kita. Terkait hal ini, maka apa yang dilakukan Sri Sultan dan Presiden Jokowi bisa menjadi panutan bagi para petinggi untuk melihat potensi besar dari industri kreatif di bidang kustom motor dan juga industri kreatif lainnya. Selain itu di era now yang identik dengan generasi milenial memberikan peluang dan pangsa pasar terbesar bagi industri kreatif dan motor kustom pada khususnya.

Implikasi lebih lanjut dari apresiasi itu adalah dukungan terhadap perkembangan industri kreatif dalam negeri secara sistematis dan berkelanjutan. Setidaknya apresiasi ini juga diharapkan ada dukungan sponsor dan regulasi bagi industri kreatif di motor kustom, tidak hanya bersaing di pasar domestik tapi juga di pasar global. Keyakinan ini secara tidak langsung juga akan mendorong daya saing produk lokal karena sejatinya apa yang bisa dikembangkan melalui industri kreatif akan memberikan efek makro, termasuk juga geliat ekonomi di bidang kustom motor. Jika Yogya saja bisa memulainya dengan label Kustomfest, maka daerah lain tentu juga bisa melakukan dan jika ini berlanjut tentunya akan berdampak sistemik terhadap kreatifitas anak-anak muda pecinta motor, bukan hanya ber-cc besar tapi juga yang kecil.

Maju Terus
 

Potensi besar ini tentu bisa diapresiasi dengan melibatkan pihak ketiga dan pemerintah daerah. Paling tidak, industri rokok juga berkepentingan dengan potensi ini karena fakta yang ada menunjukan bahwa segmen terbesar dari industri rokok adalah anak muda. Jadi, selain di bidang olah raga maka industri rokok bisa melihat peluang kustom motor sebagai target pasar yang juga menjanjikan untuk diraih melalui sponsorship. Selain itu, kepentingan dari pemerintah daerah adalah menumbuhkembangkan ide-ide kreatif kaum muda, sementara di sisi lain fenomena jaman now memberikan keleluasaan bagi anak muda untuk kreatif - inovatif yang ditunjang dengan perkembangan ipteks dan internet.

Terlepas dari apresiasi dari Sri Sultan dan Presiden Jokowi terhadap dunia kustom maka ke depan perlu pemetaan yang lebih rinci tentang potensi apa saja yang bisa digali dari dunia kustom motor tanah air. Oleh karena itu, pesta Kustomfest tahunan di Yogya bisa menjadi pembanding untuk membuat dunia kustom motor lebih kreatif lagi tanpa harus mengabaikan urgensi muatan lokal, daya saing dan kreatifitas tanpa batas. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo