logo

Gerakan KB Berbasis Desa Melahirkan Anak Yang Cerdas

 Gerakan KB Berbasis Desa Melahirkan Anak Yang Cerdas

Prof Dr Haryono Suyono menyampaikan paparannya (kanan berdiri). (foto, ist)
13 Februari 2018 21:15 WIB

Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sejak tahun 1975-an gerakan KB Nasional yang berumur sekitar lima tahun dan baru saja diperluas ke enambelas provinsi di Indonesia, mulai dikembangkan berbasis desa, suatu terobosan yang berani dibandingkan dengan gerakan KB di seluruh dunia yang biasanya berbasis klinik atau rumah sakit.

Demikian diungkapkan pakar Pemberdayaan Keluarga Prof Dr Haryono Suyono, dalam paparannya, pada acara Rakornis BKKBN, di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Dikatakannya, gerakan KB ke desa itu mendapat sambutan hangat karena peserta KB bukanlah keluarga sakit. Tapi, keluarga sehat yang ingin tetap sehat dan mengandung, serta melahirkan dengan teratur.

Agar tetap sehat dan berumur panjang, serta melahirkan anak-anak yang bisa tumbuh dengan baik, menjadi anak cerdas, menggantikan kedua orang tuanya, serta memimpin bangsanya dengan kasih sayang dan cerdas pula.

Rakernis KKB dihadiri para mitra kerja BKKBN dari seluruh jajaran di Indonesia. Untuk lebih memberikan peran positif kepada keluarga desa, maka tidak seperti biasa para peserta KB diajak membentuk Kelompok Akseptor. Agar bisa berbagi sesama.

Dengan demikian, antar Akseptor KB yang umumnya kaum ibu sederhana di desa, dapat membandingkan keadaan dirinya bersama sesama yang ikut KB. Lebih lagi, banyak Akseptor KB yang menggunakan spiral sehingga antar sesama Ibu akseptor dapat bebicara intiem sesama kaum ibu.

Pembentukan Kelompok Akseptor itu kemudian memiliki fungsi ganda, tatkala para ibu pemakai Pil KB keluarga dari desa tidak harus berbondong-bondong pergi ke klinik. Tapi, dapat mewakilkan kepada tetangganya untuk mengambil supply yang diberikan melalui klinik.

Kemdian, setelah Kelompok berkembang, kelompok ini bertindak juga menjadi supplier pil untuk akseptor yang tidak lagi harus meninggalkan rumahnya untuk mendapatkan supply pil, atau kondom untuk keperluan keluarganya. Kelompok itu kemudian aktif sebagai motivator untuk pasangan lain yang belum ber-KB mendapatkan informasi sebelum ber-KB lebih dulu.

Dalam perkembangannya kelompok ini bersama para bidan yang bergabung di dalamnya menjadi sangat instrumental melayani banyak keperluan para peserta KB. Karena itu, kesertaan KB di desa menjadi sangat kuat dan lebih lestari. "Banyak keluhan peserta diselesaikan oleh kelompoknya," ujar Haryono, yang juga pernah menjadi Kepala BKKBN tersebut.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto