logo

Densus Geledah Rumah Terduga Teroris Banyuwangi

Densus Geledah Rumah Terduga Teroris Banyuwangi

13 Februari 2018 21:13 WIB

Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA : Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 mengamankan sejumlah barang dari dalam rumah terduga teroris Rizal Muzaki (27) yang ditangkap di Poso. Rumah di Dusun Rejosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi yang awalnya ditempati Bu Anah itu dalam keadaan kosong setelah ibu kandung Rizal tersebut meninggal dunia saat menjadi TKW di luar negeri.

Menurut Ketua RW 1, Dusun Rejosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Samroto, sejumlah polisi mengajaknya masuk ke dalam rumah sebagai saksi dalam penggeledahan tersebut. "Mereka membawa berbagai barang bukti diantaranya semacam benda logam sebesar jari segi empat ukuran 20 centimeter ada sumbunya," ujarnya, Selasa (13/2/2018).

Polisi juga mengamankan sablon tulisan berlafal seperti lambang isis, handphone yang sudah dimodifikasi dengan kabel, ada alat sablon lainnya dan botol berisi cairan mencurigakan.

Seperti diketahui, Rizal ditangkap oleh Densus 88 di Poso, Sulawesi Tengah pada Minggu (11/2/2018). Ia ditangkap karena dicurigai terlibat jaringan teroris dan mengaku pernah melakukan dua kegiatan teror berupa pelemparan bom molotov di dua tempat di Polsek Cluring dan Samsat Benculuk, di Banyuwangi pada tahun 2016 silam.

Rizal sendiri dia kenal sebagai sosok pendiam. Rizal merupakan anak kedua dari dua bersaudara yang ditinggal sang ibu bekerja sebagai TKW di Arab Saudi dan ayahnya yang sudah bercerai dengan sang ibu, pilih menetap di Purwoharjo. Sementara kakak satu-satunya juga bekerja sebagai TKI di Korea.

Sejumlah warga menyebut Rizal memiliki banyak buku-buku tentang jihad. Sebelum menghilang, Rizal sangat rajin beribadah dan sering mengumandangkan adzan di mushola depan rumahnya. Ayah korban yang dimintai keterangan menyebut bahwa Rizal berada di Sulteng sejak kejadian pelemparan bom molotov di Banyuwangi.

Sejumlah tetangga menyebut, perilaku Rizal saat pulang ketika lebaran lalu, sudah jauh berbeda. "Dia sudah tidak mau bersalaman lagi dengan kaum perempuan," ujar Samroto.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto