logo

Irak Butuh Rp1.200 Triliun Untuk Rekonstruksi Akibat Perang

Irak Butuh Rp1.200 Triliun Untuk Rekonstruksi Akibat Perang

Kehancuran kota Mosul akibat perang melawan ISIS. (ist)
13 February 2018 10:57 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id -MOSUL: Dampak perang berkepanjangan dirasakan Irak sekarang. Tak hanya banyak warganya kelaparan namun juga banyak bangunan hancur.

VOA melaporkan, Irak diperkirakan membutuhkan dana sekitar 88,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.200 triliun untuk membangun kembali negara itu ke arah semula.

Negara tetangganya, Kuwait menginisiasi, sejak Senin (12/2/2018) membuka pekan konferensi yang bertujuan mencari bantuan untuk membangun kembali Irak yang hancur akibat serangan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Pemerintah Irak mengklaim sudah mampu mengalahkan ISIS di wilayahnya.

Sementara itu, secara terpisah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson diyakini akan mengumumkan bantuan lebih dari 3 miliar dolar AS atau Rp40,9 triliun untuk upaya rekonstruksi Irak. Namun, masih banyak uang yang dibutuhkan untuk membangun Irak.

"Kami telah menyelesaikan satu pertempuran, tetapi sekarang kami menghadapi perang untuk rekonstruksi," kata Mustafa al-Hiti, kepala pendanaan rekontruksi Irak untuk daerah yang terkena dampak operasi teroris.

Wilayah yang paling parah terkena adalah Mosul. Kendati pasukan koalisi pimpinan AS dapat memukul mundur ISIS, serangan udara dan bom mobil telah menghancurkan rumah dan bangunan pemerintah.

Dari kebutuhan dana tersebut, pejabat Irak memperkirakan sekitar 17 miliar dolar AS atau Rp231,9 triliun bakal dialokasikan untuk pembangunan rumah warga.

PBB mengestimasi 40.000 rumah perlu dibangun kembali di Mosul.

"Sebagian besar kerusakan terjadi di Mosul barat. Wilayah itu melewati salah satu pertempuran terburuk dan paling sengit dalam sejarah," kata Nofal al-Akoub, Gubernur Provinsi Nineveh, Irak.

Al-Akoub mengatakan, butuh 42 miliar dolar AS atau Rp 572,9 triliun untuk membangun provinsinya.

Perang melawan ISIS telah mengungsikan lebih dari 5 juta orang. Baru sekitar setengahnya kembali ke kampung halaman mereka di Irak.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Senin (12/2/2018) berkicau di Twitter mengenai penghabisan dana di Timur Tengah menurutnya merupakan tindakan bodoh.

Miliaran dolar AS telah dikucurkan ke Irak, setelah invasi pimpinan AS pada 2003 berhasil menggulingkan diktator Saddam Hussein.

AS telah menghabiskan lebih dari 60 miliar dolar AS atau Rp818 triliun selama 9 tahun untuk pasukannya di Irak. Sekitar 25 miliar dolar AS atau Rp314 triliun masuk ke pendanaan militer Irak.

Auditor Pemerintah AS juga menemukan pemborosan dan korupsi yang memicu kecurigaan politisi Barat seperti Trump sehingga ingin mengurangi bantuan luar negeri dari negaranya. ***