logo

Pemberdayaan Dan Kepemimpinan

Pemberdayaan Dan Kepemimpinan

26 January 2018 00:09 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Tanwir Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah telah dilaksanakan pada 19-21 Januari 2018 di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Topik yang dibahas yaitu pemberdayaan dan penguatan ekonomi perempuan. Argumen yang mendasari karena tema ini relevan dengan fenomena pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar dari kemakmuran bangsa.

Tema ini juga mengacu hasil Muktamar ke-46 Muhammadiyah di Makasar yang memfokuskan peran utama penguatan ekonomi sebagai pilar keempat Muhammadiyah, selain pendidikan, kesehatan dan sosial. Oleh karena itu tema dalam tanwir kali ini adalah “Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Pilar Kemakmuran Bangsa”. Aspek yang tidak bisa terlepas dari tema ini yaitu semakin kuatnya peran dari sejumlah komunitas, termasuk komunitas perempuan dalam perekonomian nasional. Dari tanwir ini diharapkan muncul gerakan kesadaran kolektif untuk dapat memberikan peran yang lebih baik bagi kinerja perempuan secara berkelanjutan.

Persepsian tentang pemberdayaan itu sendiri sebenarnya sangat luas, termasuk misalnya terkait kepemimpinan kaum perempuan, dalam konteks domestik atau cakupan yang lebih luas, termasuk juga implementasinya dalam fenomena pluralisme. Fenomena yang ada menunjukan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang unik, meski di satu sisi menghargai adanya pluralisme tapi di sisi lain pemahaman tentang pluralisme masih sekedar melihat lintas entis, terutama terkait diterimanya etnis Tionghoa di kehidupan demokrasi - sosial. Padahal, semestinya pluralisme juga melibatkan kesetaraan gender, termasuk kepemimpinan dari kaum perempuan. Uniknya lagi, sebagian rakyat Indonesia terkesan malu-malu kucing menerima tipologi kepemimpinan perempuan. Wacana ini kian penting dilontarkan karena di tahun 2018 ini, kita melaksanakan pilkada serentak dan ada sejumlah kandidat perempuan. Di sisi lain, demokrasi kita juga mensyaratkan keterwakilan perempuan di parlemen.

Menarik

Yang menarik dari fenomena pilkada ini yaitu munculnya sejumlah tokoh perempuan yang akan meramaikan bursa pilkada. Jika nanti menang maka mereka akan menjadi pemimpin di daerah dan sekaligus menjadi penerus dari kepemimpinan Megawati dan implementasi dari cita-cita RA Kartini. Yang menarik sejumlah perempuan yang maju di pilkada kali ini punya modal besar, bukan hanya popularitas tetapi juga hasil survei. Yang justru menjadi pertanyaan bagaimana kepemimpinan perempuan dalam konteks pemerintahan? Pertanyaan itu wajar mengemuka karena ada sejumlah argumen, yaitu pertama: tentang kepemimpinan perempuan. Meski masih ada perdebatan, fakta kian membuktikan kinerja kepemimpinan perempuan di berbagai bidang, baik di lembaga formal ataupun informal. Setidaknya, argumen ini diperkuat oleh hasil riset empiris dari Rohmann dan Rowold (2009) dalam artikelnya: Gender and leadership style: A field study in different organizational contexts in Germany dimuat jurnal Equal Opportunities International. Riset ini menyimpulkan kepemimpinan perempuan mampu mendukung terjadinya transformasi kepemimpinan secara sistematis dibanding kepemimpinan yang dilakukan oleh pria.

Kedua: lima tahun terakhir cenderung banyak keluar fatwa haram mulai dari masalah facebook sampai rebonding dan terbaru fatwa haram merokok. Jadi, bukan tak mungkin kalau pencalonan sejumlah perempuan dalam pilkada menjadi sasaran tembak yang sangat mudah, terutama dari aspek religi. Sasaran tembak ini bisa dari pihak terkait atau rival politik yang sama-sama maju dalam pilkada tersebut. Hal ini sangat dimungkinkan karena pendewasaan dalam kehidupan demokrasi kita masih sedang mencari identitas dan karenanya momen pilkada ibarat api dalam sekam yang setiap saat bisa terbakar.

Meski demikian pilkada dengan pemilihan langsung sangat memungkinkan bagi semua orang untuk menentukan pilihannya dan aspek popularitas menjadi sangat utama di era demokrasi saat ini karena tidak ada satupun yang berkuasa memanipulasikan suara demokrasi. Keyakinan ini diperkuat bukti dari sejumlah artis yang lolos pada pemilu legislatif kemarin. Bahkan, ada parpol yang dengan senang hati merekrut banyak artis – selebritis sekedar untuk mendongkrak popularitas demi perolehan kursi parlemen. Jadi, siapapun berhak untuk bertarung dalam pilkada dan hal ini secara tidak langsung sejalan dengan fenomena pluralisme dan pemberdayaan perempuan.

Ketiga: aspek gender dalam agama tertentu masih sangat kuat menerapkan aturan terkait kepemimpinan. Meski demikian, fakta yang ada sebenarnya juga menunjukan dikotomi dalam melihat persoalan ini karena sejumlah bukti empiris juga menguatkan tentang sisi penting kepemimpinan perempuan dan terjadinya pergeseran dalam memandang aturan tentang kepemimpinan perempuan. Setidaknya, Al-Lamky (2007) dalam artikelnya: Feminizing leadership in Arab societies: The perspectives of Omani female leaders, dimuat jurnal Women in Management Review secara tegas menggambarkan masyarakat di era kekinian telah memandang sesuatunya secara lebih moderat tidak semata-mata melihat aspek gender, termasuk kasus kepemimpinan sehingga bukan lagi melihat pria atau wanita, tetapi bagaimana kualitas kepemimpinan itu bisa dilakukan dengan bijak.

Relevan dengan temuan itu, Powell, et.al. (2008) dalam artikelnya Leader evaluations: a new female advantage?, di jurnal Gender in Management: An International Journal justru menekankan tentang pentingnya kesadaran kaum perempuan untuk meningkatkan kualitas dan eksistensi diri dalam menjawab peluang kesempatan menjadi pemimpin di berbagai sektor dan ini pada dasarnya bukan persoalan mudah. Bahkan, kepemimpinan perempuan saat ini juga dimungkinkan di bidang militer seperti yang terjadi di Inggris. Oleh karena itu, beralasan jika Dunn, (2007) dalam artikel British army leadership: Is it gendered?, pada jurnal Women in Management Review mempertanyakan apakah kasus ini bias gender? Intinya, tidak ada lagi alasan untuk menolak kepemimpinan perempuan selama ia memiliki kemampuan dan potensi untuk memimpin. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo