logo

Yuni Kartika: Tunggal Putri Butuh Atlet Potensial & Pelatih Berkualitas

Yuni Kartika: Tunggal Putri Butuh Atlet Potensial & Pelatih Berkualitas

Yuni Kartika. (foto: Istimewa).
23 Januari 2018 10:41 WIB

Penulis : Markon Piliang

JAKARTA (Suara Karya): Dunia bulutangkis Indonesia mengalami pasangan surut prestasi dalam perjalanan waktu. Adakalanya meningkat, namun tak jarang pula terpuruk. Banyak yang terpuruk bisa bangkit lagi, sehingga mata rantai prestasi yang terputus dapat disambung lagi. Tapi juga yang putus terlalu lama sampai kini tak bangkit lagi.

Dari lima nomor pertandingan bulutangkis, tunggal putri paling lama tenggelam dan tidak pernah bangkit lagi. Generasi Mia Audina adalah yang paling terakhir mencatat prestasi di tunggal putri. Setelah itu, tak pernah muncul lagi pemain yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di pentas dunia.

Apa gerangan yang terjadi di tunggal putri Indonesia? Wartawan Suara Karya Markon Piliang mewawancarai mantan tunggal putri Indonesia Yuni Kartika di sela-sela acara jumpa pers Daihatsu Indonesia Masters 2018 di Hotel Sultan Jakarta, Senin (22/1/2018). Berikut petikannya:  

Sektor tunggal putri Indonesia lama sekali tidak muncul ke permukaan. Sehingga mata rantai prestasi dari era Susi Susanti dan terakhir Mia Audina, tidak lagi bisa disambung. Apa yang terjadi di tunggal putri?

Kalau saya melihatnya memang beda era saya dan Susi dengan sekarang. Persaingan dengan negara-negara lain cukup merata. Apalagi sistem rally poin yang diterapkan sekarang ini sangat berpengaruh terhadap prestasi seorang atlet. Artinya kalah menang itu sangat mungkin terjadi begitu cepat.

Saya tidak bisa bilang pemain kita menurun prestasinya, tapi memang persaingan yang sangat ketat. Negara-negara yang dulu tidak terdengar di bulutangkis tiba-tiba melejit. Seperti Carolina Marin dari Spanyol, yang sempat menjadi ranking satu dunia.

Tapi kita mengalami kekeringan gelar tunggal putri yang cukup lama. Berbeda dengan nomor lain seperti tunggal putra dan ganda.

Betul. Sejak era Mia Audina memang terjadi mata rantai prestasi yang terputus cukup lama . Tapi inilah kondisi yang ada di sektor tunggal putri. Memang kita sedang mencari hero lagi, tapi itu butuh waktu.

Apakah ada perbedaan dari segi motivasi atlet dulu dan sekarang. Khususnya di tunggal putri. Pemain di era Anda dulu sering menambah jam latihan sendiri di luar jadwal latihan resmi. Menurut Anda?

Ya, memang berbeda ya. Kebudayaan anak-anak dulu dengan anak-anak sekarang. Sekarang kan mereka terbiasa dengan serba instan. Semuanya mau cepat. Tapi kondisi ini sebenarnya dialami juga oleh negara lain. Dimana perkembangan prestasi itu berlangsung sangat cepat dan ketat.

Nah, kalau pemain Indonesia saat ini dalam posisi mengejar. Artinya motivasi pemain harus lebih tinggi lagi. Perlu kerja yang ektra keras untuk menaikkan prestasi tunggal putri Indonesia.

Bagaimana dengan materi pemain yang ada sekarang. Adakah yang bisa diorbitkan mengejar ketertinggalan ini?

Ini problem yang dihadapi sekarang. Satu, materi pemain tunggal putri sangat kurang. Padahal kita butuh pemain yang bagus. Kedua, pelatih berkualitas. Nah, untuk menciptakan Susi Susanti-Susi Susanti baru memang perlu dua hal itu. Materi pemain potensial dan pelatih yang berkualitas. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Seperti pasangan yang ketemu kemistrinya. Mudah-mudahan ke depan ketemulah.

Apa pelatih berkualitas untuk tunggal putri tidak ada di Pelatnas Cipayung?

Ya, inilah yang dipunyai Indonesia sekarang. Kita tidak bisa bilang pelatih tidak berkualitas. Masalahnya kan itu tadi. Kalau pelatihnya berkualitas tapi atletnya tidak berkualitas kan tidak bisa juga. Jadi, harus dua-duanya. Ini tentu pekerjaan kita semua. ***

 

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH