logo

Penyakit IKM, Kalau Sudah Laku Harganya "Belagu"

Penyakit IKM, Kalau Sudah Laku Harganya

Dirjen IKM Gati Wibawaningsih didampingi Ketua Dekranasda DKI Jalarta, Hapy Farida Djarot. (foto: sk/laksito)
Banyak pelaku industri kecil belum paham menentukan harga jual produk mereka. Ada yang menilainya terlalu tinggi, ada pula yang di bawah harga. Ditjen IKM Kemenperin siap hadir untuk mendampingi mereka.
19 June 2017 21:41 WIB

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan melakukan pendampingan bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dalam menentukan harga jual produk. Selama ini mereka kurang paham cara menentukan harga jual, sehingga terkesan sangat mahal atau sangat murah.

"Itu penyakit IKM. Kalau sudah laku (produknya) harganya gak ketulungan.
Kita akan memberikan pendampingan cara menentukan harga jualnya. Unsur apa saja yang mesti masuk dalam biaya produksi dan berapa keuntungan wajar yang sebaiknya diambil," ujar Dirjen IKM Gati Wibawaningsih usai memebuka Gelar Produk IKM Unggulan Provinsi DKI Jakarta 2017 di Plasa Pameran Industri, Kemenperin, Jakarta, Senin (19/6).

Gati mengungkapkan masalah harga jual produk menjadi penting pada saat daya beli masyarakat belum naik seperti sekarang ini dan masih mementingkan kebutuhan primer. "Mereka yang industri kecil, umumnya belum paham cara menetapkan harga jual. Ketika harga over value risikonya barang gak laku," tambahnya.

Pemerintah belum memiliki acuan harga untuk produk IKM, berbeda dengan produk pangan strategis yang telah memiliki harga eceran tertinggi (HET).

"Kita nggak ngatur. Untuk produk IKM sulit menetapkan harga acuan, tapi kita ajari mereka menghargai barang mereka agar tidak over value atau under value. Yang bisa kita harap cuman keuntungan yang wajar lah," tambahnya.

Sebelumnya Happy Farida Djarot, istri Gubernur DKI Jakarta, juga mengingatkan agar pelaku usaha IKM tidak memanfaatkan momen pameran untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

"Jangan mentang-mentang pameran di kantor kementerian, dan yang beli orang kantoran, terus harganya dinaikkan sangat tinggi," ujar Happy.

Barometer Daerah

Gati mengungkapkan di DKI Jakarta terdapat sebanyak 4.815 unit IKM dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 20.494 orang. IKM di Ibukota Indonesia ini memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan. “Mereka juga menjadi barometer bagi daya saing IKM di daerah-daerah,” ujarnya.

"Jadi pameran-pameran offline semacam ini harus terus dilakukan, di samping pameran atau penjualan secara online," ungkapnya. Gati pun meyakini, dengan terus mempromosikan produk IKM, diharapkan bisnis mereka semakin ekspansif dan jumlah unit usahanya dapat meningkat sehingga menyerap lebih banyak tenaga kerja baru.

Guna memacu produktivitas dan daya saing IKM nasional, Kemenperin telah melakukan pembinaan melalui fasilitasi pelatihan dan pemberian bantuan mesin atau peralatan, serta memperkenalkan sarana digitalisasi IKM melalui program e-Smart IKM, agar mampu mempromosikan produk lebih luas dan mudah dengan biaya yang efesien.

“Selain perluasan akses pasar IKM di marketplace, kami juga telah membangun infrastruktur jaringan internet di setiap sentra-sentra IKM seluruh Indonesia untuk mendorong mereka terus mengembangkan produk kreativitasnya dan mengubah cara pemasaran menjadi lebih efesien,” papar Gati.

E-smart IKM mengusung sembilan komoditas unggulan yang akan dikembangkan di marketplace antara lain, kosmetik, fesyen, makanan, minuman, kerajinan, perhiasan, furnitur, herbal dan produk logam."

Gelar Produk IKM Unggulan Provinsi DKI Jakarta 2017, menampilkan berbagai produk khas betawi mulai dari fesyen dan aksesoris, makanan dan minuman, serta kerajinan. Pameran yang diikuti sekitar 40 peserta ini dimulai pukul 09.00-16.00 WIB, terbuka untuk umum. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: [email protected] phone: 0822 1003 2420
Editor :
header-ad