logo

Kementan: Petani Semakin Sejahtera

Kementan: Petani Semakin Sejahtera

foto (ist)
Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim tingkat kesejahteraan petani semakin meningkat karena program pangan berdampak pada peningkatan produksi dan langsung menyentuh petani.
18 June 2017 22:51 WIB

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah melalui program-programnya tidak pernah mengabaikan petani. Akibatnya kesejahteraan mereka terus meningkat, demikian Kepala Pusat Data Kementan Anna Astrid, melalui rilis, Jumat (16/6).

Anna menyebutkan, banyak indikator menunjukkan petani lebih sejahtera. Pertama, penduduk miskin di pedesaan September 2016 sebesar 17,28 juta jiwa turun dari September 2015 sebesar 17,89 juta jiwa; Kedua gini rasio September 2016 sebesar 0,316, turun dibandingkan September 2015 sebesar 0,329; Ketiga Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2016 mencapai 101,65 meningkat 0,06 persen dibandingkan NTP 2015 sebesar 101,59; dan keempat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) rata-rata nasional tahun 2016 berada di posisi tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Tahun 2016 NTUP mencapai 109,86 atau naik 2,3 persen dibandingkan tahun 2015.

Meskipun NTP bukan indikator kesejahteraan terbaik, lanjut Anna, tetapi mampu menggambarkan kemampuan daya beli petani. "Wajar lah NTP berfluktuasi antarbulan dalam setahun, karena terkait dengan musim tanaman," cetusnya.

Indikator terkini cukup baik yakni Mei 2017 NTP naik 0,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya, upah buruh tani juga naik 0,29 persen.

Ia mengingatkan bahwa program kerja pemerintah seperti membagikan benih gratis tidak sesederhana yang dibayangkan. Sejumlah kriteria teknis harus dipenuhi dan bibit tidak ditanam di lokasi eksisting, sehingga menambah luas tanam. 

"Masih banyak program-program yang manfaatnya dirasakan petani. Pertama, rehabilitasi jaringan irigasi tersier 3,4 juta hektare berdampak meningkatkan indeks pertanaman. Kedua, bantuan traktor dan alat mesin pertanian 80.000 unit pertahuan berdampak menghemat biaya produksi, hemat tenaga, waktu kerja lebih cepat, menurunkan susut hasil dan lainnya. Ketiga, asuransi usahatani 1 juta hektare melindungi petani dari gagal panen. Keempat membangun 19.400 embung dan longstorage untuk multi fungsi kegiatan pertanian karena ada air berarti ada kehidupan," urai Anna. 

Hasil dari program tersebut adalah luas tanam padi 2016 naik 1,05 juta hektare dibandingkan 2015 dan jagung juga naik 862 ribu hektare. Dengan demikian produksi padi dan jagung naik signifikan.

Kinerja ini diakui Kundhavi Kadiresan, FAO Regional Representative untuk Asia dan Pasifik. Dia mengatakan FAO menghargai keberhasilan Indonesia dalam swasembada beras 2016.

Anna menambahkan pada aspek hilir telah ditetapkan kebijakan harga bawah dan harga atas untuk melindungi petani dan konsumen, dilakukan serap gabah/beras oleh Bulog dengan hasil serap gabah/beras 2016 naik 1 juta ton dibandingkan 2015.

"Ini kan bukti Pemerintah hadir melindungi petani dari harga jatuh saat panen raya. Pengendalian impor pangan sesuai kebutuhan dengan hasil sejak 2016 hingga sekarang tidak ada impor beras medium, tidak ada impor cabai segar dan tidak impor bawang merah konsumsi dan hingga Juni 2017 tidak ada impor jagung," ujar Anna.

Guna menata aspek tata niaga, Kementan bersinergi dengan Kemendag, Kemendagri, KPPU dan Polri membentuk Satgas Pangan dengan hasil lebih dari 80 kasus penimbunan barang dan peredaran pangan ilegal ditindak. KPPU juga telah memberi sanksi bagi pelaku kartel sapi dan ayam. 

"Perilaku pasar yang tidak sehat seperti kartel dan mafia selama ini lah yang telah menyengsarakan petani dan merugikan konsumen dan akan dibasmi habis oleh Satgas Pangan," pungkas Anna. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: [email protected] phone: 0822 1003 2420
Editor :
header-ad