logo

Perdagangan Sektor Pertanian Surplus 10,9 Miliar Dolar AS

Perdagangan Sektor Pertanian Surplus 10,9 Miliar Dolar AS

Hasil perkebunan sawit masih menjadi andalan sektor pertanian. (Foto: ist)
Kinerja pembangunan pertanian terus menunjukkan geliat positip. Selain menyumbang 13,4 persen pada PDB 2016, juga menyerap banyak tenaga kerja. Perdagangan sektor ini juga surplus hingga 10,9 miliar dolar AS.
16 June 2017 10:50 WIB

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pertanian mengklaim kinerja sektor pertanian dalam kurun waktu 3 tahun tahun terakhir mampu mendongkrak perekonomian nasional. Pada kurun waktu ini, sektor pertanian masih dominan dalam penciptaan nilai tambah dalam perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atas dasar harga berlaku, mencapai Rp 1.410 triliun di tahun 2014, naik menjadi Rp 1.556 triliun (2015) dan menjadi Rp 1.669 triliun di tahun 2016.

"Rata-rata kontribusi sektor pertanian terhadap PDB tiga tahun terakhir mencapai 13,4 persen dan tumbuh 3,75 persen per tahun,” kata Statistisi Kementerian Pertanian, M. Ade Supriyatna, melalui rilis Kamis (15/6) di Jakarta.

Ia menjelaskan bila dihitung secara keseluruhan dalam arti mencakup kegiatan industri pengolahan (off-farm), kontribusi sektor pertanian terhadap PDB bisa lebih dari 20%. Namun secara statistik, kegiatan industri pengolahan hasil pertanian dimasukkan ke dalam sektor industri dan lainnya.

Ade mengungkapkan di tahun 2016, subsektor perkebunan paling tinggi memberikan kontribusi terhadap PDB yakni 3,46%, diikuti subsektor tanaman pangan 3,42%, peternakan 1,62% dan hortikultura 1,51%.

Menurut Dirjen Perkebunan Kementan Bambang, dari sisi on-farm saja, sektor perkebunan mampu memberikan kontribusi Rp 409 triliun terhadap PDB. "Kalau dihitung dengan pengolahan produk turunannya bisa 100 kali lebih besar," ujarnya.

PDB subsektor perkebunan disumbang dari komoditas unggulan yakni kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, kakao dan tebu. Kontribusi terbesar dari komoditas tanaman pangan yakni padi, jagung dan kedelai. Komoditas peternakan yakni ternak besar, ternak kecil, unggas dan susu. Sedangkan PDB hortikultura sumbangan terbesar dari komoditas bawang merah, aneka cabai, pisang, jeruk dan kentang.

Subsektor perkebunan juga berkontribusi besar dalam neraca perdagangan ekspor-impor Indonesia, sehingga setiap tahun mengalami surplus. Provinsi Riau dan Sumatera Utara berkontribusi besar dalam menciptakan surplus neraca perdagangan dari ekspor sawit.

"Besarnya surplus neraca perdagangan perkebunan ini menopang terjadinya surplus sektor pertanian pada tahun 2016 sebesar 10,9 miliar dolar AS,” ungkapnya.

Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2016, sektor pertanian Provinsi Aceh dan Jambi berkontribusi besar terhadap total PDRB provinsi, yaitu mencapai 30%, dengan tingkat pertumbuhan pertanian di atas 5,5%.

Untuk provinsi lainnya di Sumatera juga menunjukkan kontrbusi pertanian cukup signifikan. Hal ini menunjukkan Sumatera masih bertumpu pada kegiatan on-farm dengan dominan pada aktivitas subsektor perkebunan.

Sementara kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di provinsi-provinsi wilayah Kalimantan dan Sulawesi umumnya mempunyai kontribusi pertanian sekitar 20% dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 5%, terutama Provinsi Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

“Potensi pertanian yang masih terbuka luas pada wilayah ini dapat digenjot lebih tinggi lagi dengan mekanisasi pertanian dan pembangunan infrastruktur irigasi, infrastruktur lahan dan lainnya,” tegasnya. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya bidang ekonomi dan bisnis. Email: [email protected] Hp 0822 1003 2420
Editor : Laksito Adi Darmono