logo

Harga Pangan Turun, Wali Kota Cilegon Apresiasi Kerja Mendag

Harga Pangan Turun, Wali Kota Cilegon Apresiasi Kerja Mendag

Mendag Enggartiasto Lukita sidak ke pasar Kranggot,Cilegon, Kamis (25/6). )Foto: ist)
Kebijakan penetapan HET pada 10 komoditas pangan strategis sudah menampakkan hasil. Di banyak pasar tradisional di Cilegon, Banten, harga pangan relatif stabil pada ramadhan dan jelang lebaran tahun ini.
15 June 2017 22:52 WIB

JAKARTA (Suara Karya): Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi menilai, stabilnya harga pangan, menjelang lebaran kali ini, merupakan upaya kerja keras Menteri Perdagangan.

"Tidak hanya stabil, ya, beberapa komoditas malahan turun di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi) seperti telor dan daging ayam. Ini merupakan hasil dari ketegasan pak menteri terhadap spekulan dan lainnya," kata Iman saat mendampingi Mendag Enggartiasto Lukita nlusukan ke Pasar Kranggot, Cilegon, Banten, Kamis (15/6).

Iman menilai kebijakan penetapan HET yang diterapkan pada 10 komoditas pangan strategis sudah tampak di hampir semua pasar tradisional di Cilegon. Kebijakan itu membuat harga pangan relatif stabil pada ramadhan dan jelang lebaran tahun ini.

"Saya kira pak menteri sudah konkrit melakukan ketegasan terhadap itu, penimbun ditangkapi, pasokan dijamin, harga sudah ditentukan paling tinggi berapa, makanya sekarang harga stabil, ya. Malahan tadi harga telor dan ayam turun jauh di bawah HET, ya bagus lah semua stabil," ujarnya.

Sebelumnya, Mendag Ergartiasto Lukita memastikan harga baham pangan strategis di pasar Kranggot relatif stabil dan beberapa komoditas malahan dijual di bawah HET.

"Telur ini bikin saya stress juga. Masih terlalu rendah, Rp 19 ribu-Rp 20 ribu per kilogram," ujar Enggar.

Padahal, harga acuan untuk telur idealnya adalah Rp 22 ribu/kg. Dengan harga acuan itu, seharusnya peternak mendapat Rp 18 ribu/kg. Namun, yang terjadi saat ini pengepul membeli telur dari peternak seharga Rp 16 ribu/kg.

Menurut Mendag, rendahnya harga telur ini disebabkan oleh pasokan yang lebih banyak dibanding permintaan. Sesuai dengan hukum ekonomi, kondisi yang demikian akan membuat harga jatuh. Sementara itu, peternak juga tidak bisa menyiasati kondisi tersebut dengan mengurangi produksi telur. "Kan kita tidak bisa menyuruh ayam berhenti bertelur," katanya.

Enggar menambahkan, harga daging sapi yang biasanya melonjak tinggi? Kini stabil cenderung turun.

"Jadi kalau tadi kita lihat, harga yang paling volatil itu adalah daging (sapi). Dari pengalaman kita beberapa tahun lalu, daging itu naiknya tajam sekali. Disini (Pasar Kranggot) Rp 105.000, daging lokal daging segar. Kisaran Rp 110.000, sampai Rp 120.000, pernah naik sampai Rp 160.000, kemudian turun. Jadi ada penurunan harga," ungkapnya.

Enggar menjelaskan stabilnya harga adalah dampak dari pasokan yang terjaga. "Kemudian beras. Komoditas ini pasokannya berlebih, tidak ada persoalan. Dan beras yang paling murah adalah Rp 8.000. Itu menunjukkan bahwa dengan pasokan yang berlebih membuat harga stabil dan terkendali," pungkas Enggar.

Beberapa harga komoditas yang turun di pasar Kranggot adalah, bawang putih Rp 30.000/kg, bawang merah Rp 30.000/kg, minyak goreng kemasan Rp 13.000/liter, minyak goreng curah Rp 10.000/liter, telur ayam ras Rp 19.500/kg, dan daging sapi Rp 110.000 - Rp 105.000/kg. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya bidang ekonomi dan bisnis. Email: [email protected] Hp 0822 1003 2420
Editor :