logo

Pengawalan Pasokan Pangan Efektif Tutup Celah Spekulan

Pengawalan Pasokan Pangan Efektif Tutup Celah Spekulan

foto (ist)
Pengawalan pasokan bahan pangan oleh pemerintah pusat dan daerah dinilai mampu menjaga stabilitas harga pangan. Akibatnya ruang untuk spekulan kian menyempit.
14 June 2017 23:59 WIB

JAKARTA (Suara Karya): Komitmen dan kebijakan pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, dalam mengawal dan mensuplai kebutuhan bahan pangan, dinilai mulai terasa menyempitkan ruang spekulasi.

Sejumlah harga komoditas pokok yang biasanya menjulang tinggi akibat kenaikan permintaan menjelang Lebaran, pada tahun ini dapat dijaga relatif stabil.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Imaduddin Abdullah menjelaskan, dengan ketersediaan pasokan yang bisa memenuhi permintaan masyarakat, posisi spekulan menjadi terpinggirkan.

"Bagaimana mereka (spekulan) mau mainin harga jika pemerintah mengatur suplainya. Mereka jadi tidak punya senjata lagi," ujar Imaduddin, Rabu (14/6), di Jakarta.

Dia menjelaskan, penentu harga bahan pokok umumnya ditentukan suplai dan demand. Selama ramadhan hingga menjelang Lebaran, demand pasti naik. Bukan karena ingin mengonsumsi makan lebih banyak ketika Lebaran, tapi karena dipersepsikan oleh masyarakat bahwa harga bahan kebutuhan pokok menjelang lebaran itu naik, jadi ekspektasinya naik, sehingga orang cenderung untuk beli dulu, untuk mengamankan.

Dilihat dari sisi suplainya, terdapat dua faktor penentu. Pertama  memasuki masa panen sehingga suplainya meningkat. Kedua, walaupun sudah meningkat tapi ada penimbunan. "Yang kedua inilah yang menimbulkan masalah harga bergejolak," ujarnya.

Imaduddin menyoroti panjangnya rantai distribusi, juga akan mempengaruhi harga jual.

Menurut dia, fenomena anomali dengan turunnya harga pangan pada ramadhan tahun ini, bukan berarti mafia pangan atau para spekulan sudah tidak ada lagi. "Pasti ada saja yang ingin meraup untung sebesar-besarnya dengan segala cara," katanya.

Namun, menurut Imaduddin, pemerintah berhasil “mengelabui” mafia pangan dengan menjaga suplai bahan pokok, melakukan pengawasan, dan menegakkan hukum dengan baik.

Imaduddin melihat bahwa sejumlah kebijakan Kemendag dapat mencegah terjadinya penimbunan dan praktik sejenis. 

"Ketika suplai terus ditingkatkan, penimbun ini tidak punya senjata lagi. Senjata tersebut hanya akan efektif kalau bahan kebutuhan pokok langka, tapi kalau di pasar barang tetap tersedia maka otomatis akan tumpul senjata itu," tegasnya.

Secara terpisah, ekonom senior Aviliani menilai sinkronisasi kerja sama pemerintah pusat dan daerah merupakan kunci terjaganya stabilitas harga pangan sekarang ini.

"Kebijakan itu patut mendapat dukungan karena memang pemerintah daerahlah yang lebih mengetahui keadaan suplai demandnya di daerah mereka masing-masing," ujar Aviliani.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita justru mengaku stres karena harga daging ayam dan telur, yang biasanya naik saat ramadhan dan lebaran, kini turun sangat cepat. Permintaan yang tinggi di masyarakat “dihujani” dengan pasokan yang tinggi pula.

"Ayam yang belum afkir sudah dipotong, sementara ayam petelur terus bertelur. Alhasil over suplai mengakibatkan harga turun sangat cepat. Stes saya," ujar Enggar, Selasa (13/6), di Jakarta.***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor : Laksito Adi Darmono