logo

Asosiasi Berharap Pedagang Pasar Tradisional Lebih Diuntungkan

Asosiasi Berharap Pedagang Pasar Tradisional Lebih Diuntungkan

Mendag Enggartiasto Lukita. foto (ist)
Pemerintah memberikan akses langsung bagi pedagang pasar tradisional untuk mendapatkan barang dagangannya, sama seperti perlakuan kepada pasar ritel modern.
13 June 2017 16:30 WIB

JAKARTA (Suara Karya):  Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengingatkan agar pedagang pasar tradisional diperlakukan sama dengan pedagang di pasar ritel.

"Kalau mereka (pedagang pasar tradisional) mendapat akses langsung ke produsen, tentu keuntungan mereka akan bertambah. Sebab rantai pasoknya jadi pendek," ujar Abdullah, Selasa (13/6), di Jakarta.

Harapan itu disampaikan menyusul MoU antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan perwakilan dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Direktur Utama Bulog Djarot Kusumajakti, Perwakilan dari Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), dan perwakilan dari Asosiasi Distributor Daging Indonesia, Selasa (13/6), di Kantor Kemendag Jakarta.

Abdullah menilai selama ini pedagang pasar ritel mendapat perlakuan khusus ke akses distributor sehingga keuntungannya jauh lebih tinggi dibanding pedagang pasar tradisional yang harus melalui rantai pasok lebih panjang.

"Setidaknya ada dua keuntungan jika perlakuannya sama. Pertama pedagang tradisional mendapat keuntungan lebih banyak dan kedua memotong rantai distribusi seperti yang diinginkan pemerintah," katanya.

MoU yang ditandatangani berisi jaminan tataniaga distribusi, dimana pedagang pasar tradisional bisa mendapat akses langsung ke Bulog dalam mendapatkan komoditas bahan pangan strategis.

“Ikhtiar ini harus didorong bersama dan saya berharap asosiasi-asosiasi atau perusahaan itu bisa komit ya, dengan apa yang (sudah) disampaikan. Saya berharap ini bisa berjalan dengan cepat dan baik,” ujar Abdullah berharap.

Sebelumnya, saat memberikan sambutan dalam MoU, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui pedagang pasar tradisional kurang mendapat akses sumber dagangan dari produsen, dibanding pasar ritel modern. Akibatnya mereka harus melalui rantai distribusi panjang sehingga harga jual barang menjadi mahal.

"Melalui MoU ini kita berharap agar para pedagang tradisional harus bisa mendapatkan akses sumber yang sama dengan pasar ritel modern," ujar Enggar.

Melallui MoU ini, pedagang pasar tradisional mendapat kepastian suplai komoditas murah dari Bulog, sehingga penyebaran pasokan bisa merata.

“Hanya pedagang pasar tradisional dan Bulog (yang) bisa menjual gula curah, yaitu gula dengan kemasan 50 kilogram, kemudian oleh mereka dipak (menjadi) satu kiloan. Harganya jauh lebih murah, yakni Rp 11.300, langsung dari Bulog," ujarnya.

Enggar berharap akses langsung ke distributor itu juga berlaku untuk komoditas pangan laiinnya, seperti daging, dan minyak goreng kemasan sederhana. "Dengan kondisi ini maka penyebaran pasokan dari komoditi yang kita atur jadi lebih merata, dan terjamin,” katanya.

Selain itu, Menteri kelahiran Cirebon (1951) ini, memastikan bahwa pemerintah akan memberikan fasilitas kredit. “Ada satu yang akan coba kita bantu yakni mengenai fasilitas kredit yang segera kami akan jembatani itu,” tukasnya.

Pemerintah berharap dengan adanya akses yang semakin terbuka ini, pedagang pasar tradisional dapat semakin berkembang lagi.

"Kita berharap pasar tradisional ini jadi bisa lebih meningkat (terutama) volumenya,” pungkas Enggar. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya bidang ekonomi dan bisnis. Email: [email protected] Hp 0822 1003 2420
Editor : Laksito Adi Darmono